Pelaku Pembobol Rekening Ilham Bintang Jual Slik OJK Rp100 Ribu per Data

Muhamad Rizky, Okezone · Rabu 05 Februari 2020 19:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 05 337 2163918 pelaku-pembobol-rekening-ilham-bintang-jual-slik-ojk-rp100-ribu-per-data-H2K24jLy0y.jpg Polisi Menggelar Jumpa Pers (Foto: Okezone/Muhamad)

JAKARTA - Polisi mengungkap kasus pembobolan rekening milik wartawan senior Ilham Bintang. Pembobolan itu bisa berjalan lancar lantaran pelaku menggunakan Sistem Laporan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kanit 2 Subdit 4 Jatanras Polda Metro Jaya Kompol Hendro Sukmono mengatakan, salah seorang pelaku Hendri Budi Kusumo menjadi pintu masuk untuk mendapatkan Slik OJK tersebut. Ia bekerja di salah satu bank yakni Bintara Pratama Sejahtera (BPR).

Dalam mengumpulkan Slik OJK tersebut Hendri dibantu oleh dua tersangka lain yakni Heni dan Rifan. Keduanya telah menjual data nasabah sejak Januari 2019 seharga Rp100.000.

"Oknum yang menjual Slik OJK per data, dia (Hendri) menjual seharga Rp100.000 dari awal tahun 2019 sampai Desember 2019," kata Hendro di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2020).

Selama penjualan data Slik OJK tersebut pelaku kata Hendro mampu menghasilkan uang sebanyak Rp500 juta.

"Per tanggal 6 Januari 2020, turun harga karena banyak permintaan dari pelaku menjadi Rp75.000 per data. Keuntungan dari Januari 2019 sampai Februari 2020, kami rekap sekitar Rp400 juta sampai Rp500 juta," ungkapnya.

Yusri

Baca Juga: Polisi Tangkap 8 Pembobol Rekening Ilham Bintang

Adapun dalam kasus ini, Subdit Jatanras Direskrimum Polda Metro Jaya menangkap delapan orang pelaku. Mereka yakni Desar alias Erwin (27), Teti Rosmiawati (46), Wasno (52), Arman Yunianto (53), Jati Waluyo (33), Hendri Budi Kusumo (24), Rifan Adam Pratama (25), dan Heni Nur Rahmawati (25).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus menyebut, para pelaku merupakan sindikat penipuan asal Palembang, Sumatera Selatan yang di komandoi oleh Desar alias Erwin.

"Tersangka D selain mempunyai jaringan di Jakarta, dia mempunyai jaringan yang lain, sudah ada beberapa korban. Masih kami dalami," kata Yusri.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Pasal 363 dan 263 KUHP, serta Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman 20 tahun penjara.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini