Kisah Soekarno Diam-Diam Meminang Fatmawati

Demon Fajri, Okezone · Rabu 05 Februari 2020 15:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 05 337 2163802 cerita-sukmawati-saat-soekarno-jatuh-cinta-dengan-fatmawati-NMcgFc4RsB.jpg Sukmawati Soekarnoputri Saat Sambutan Peresmian Monumen Ibu Fatmawati di Bengkulu (foto: Okezone/Demon F)

BENGKULU - Presiden Joko Widodo (Jokowi), meresmikan monumen Ibu Agung Fatmawati, di simpang lima Ratu Samban, Kelurahan Penurunan Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, Rabu (5/2/2020).

Pada kesempatan itu, anak keempat dari Presiden Soekarno dan Fatmawati, Sukmawati Soekarnoputri, bercerita awal mula pertemuan ayahnya dengan perempuan cantik asli Bengkulu bernama Fatmawati.

Baca Juga: Sapa Masyarakat Bengkulu, Jokowi Diajak Swafoto Emak-Emak hingga Milenial 

Dia menceritakan, pertemuan Soekarno dengan sosok perempuan kelahiran, 5 Februari 1923 ini terjadi saat diasingkan ke Bengkulu. Tepatnya, di rumah pengasingan Bung Karno, pada tahun 1938 - 1942.

Saat itu, ayah Fatmawati, Hasan Din adalah tokoh Muhammadiyah. Sejak mengenal Fatmawati, Soekarno langsung jatuh cinta, dan secara diam-diam meminang perempuan kelahiran Bengkulu ini.

''Ayah saya jatuh cinta dengan Fatmawati. Secara diam-diam, meminangnya,'' cerita Sukmawati, saat menghadiri peresmian Monumen Ibu Agung Fatmawati, di Kota Bengkulu.

Monumen Ibu Fatmawati di Bengkulu (foto: Okezone/Demon F) 

Sukmawati menceritakan, setelah Belanda pergi meninggalkan Bengkulu, Jepang masuk ke Indonesia. Saat itu, Soekarno dicari pemerintah Jepang. Sehingga Soekarno harus meninggalkan Bengkulu untuk pergi ke Jakarta.

Lantaran, sangat hormat dengan Soekarno, kata Sukmawati, ayah Fatmawati, Hasan Din, dititip pesan agar Fatmawati tidak diberikan kepada laki-laki lain. Sebab, saat itu Soekarno mengatakan Fatmawati adalah jodohnya.

''Hasan Din tidak berani menerima lamaran dari orang lain,'' cerita Sukmawati.

Baca Juga: Resmikan Monumen Fatmawati, Presiden Jokowi Mengaku Kangen Bengkulu 

Menjelang proklmasi Kemerdekaan RI, kata Sukmawati, ayahnya memberikan tugas suci dan mulia kepada Fatmawati. Di mana Soekarno meminta kepada ibunya itu untuk menjahit kain merah dan putih.

''Saya (Bung Karno) mau kain merah dan putih, maka Ibu Fatmawati menjahit bendera merah putih, untuk dikibarkan pada 17 Agustus 1945, diiringi dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya,'' kenang Sukmawati.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini