nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Bela Diri Tradisional Indonesia, Ada yang Sudah Mendunia

Alifa Muthia Diningtyas, Jurnalis · Rabu 05 Februari 2020 10:50 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 05 337 2163570 mengenal-tradisi-bela-diri-tradisional-indonesia-ada-yang-sudah-mendunia-cnRdb4vGpA.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Indonesia kaya dengan budaya dan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Beberapa di antaranya adalah tradisi yang bersifat bela diri dan berkembang di Nusantara.

Berikut beberapa tradisi bela diri di Indonesia yang dirangkum Okezone dari berbagai sumber:

1. Mepantigan

Foto: Lonelyplanet

Mepantigan adalah seni bela diri khas Bali yang dilakukan dengan bergumul di tanah berlumpur sehingga kerap disebut gulat lumpur.

Mepantigan berarti membanting, yang mana dalam tradisi ini diperlukan kelihaian untuk bisa membanting lawan. Peserta bertanding satu lawan satu dengan bergulat, mengunci lawan, dan saling banting di lumpur.

2. Pencak Silat

Ilustrasi

Pencak silat adalah salah satu seni bela diri tradisional Indonesia. Asal muasalnya dari budaya suku Melayu pesisir Sumatra dan semenanjung Malaka.

Penyebarannya ke Nusantara dipengaruhi oleh para ulama seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14. Tidak hanya itu, dalam pencak silat juga ada pengaruh budaya Cina, agama Hindu, dan Budha.

Biasanya setiap daerah di Indonesia mempunyai aliran pencak silat yang khas. Misalnya, daerah Jawa Barat terkenal dengan aliran Cimande dan Cikalong, di Jawa Tengah ada aliran Merpati Putih dan di Jawa Timur ada aliran Perisai Diri.

Pencak Silat bahkan kini sudah mendunia, olahraga beladiri ini diperlombakan dalam ajang olahraga terbesar Asia Tenggara, Seagames.

3. Silek

Seni bela diri Silek telah diwariskan secara turun temurun di kalangan masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat. Silek perlu dipelajari oleh masyarakat Minangkabau untuk melindungi diri saat merantau jauh dari kampung halaman.

Silek ini bekal dalam menjaga diri dari hal-hal yang buruk selama merantau. Selain itu, Silek Minangkabau juga berfungsi sebagai pertahanan wilayah dari serangan pihak luar.

4. Tarung Drajat

Ilustrasi

Tarung Derajat adalah seni bela diri berasal dari Indonesia yang diciptakan dan dikembangkan oleh Achmad Dradjat. Ia mendapatkan teknik bela diri melalui pengalamannya bertarung di jalanan pada tahun 1960an di Bandung.

Tarung Derajat secara resmi diakui sebagai olahraga nasional dan digunakan sebagai latihan bela diri dasar oleh TNI Angkatan Darat.

Tarung Derajat dideklarasikan kelahirannya di Bandung pada 18 Juli 1972 oleh Achmad Dradjat yang biasa dipanggil Aa Boxer. "Box!" adalah salam persaudaraan di antara anggota Tarung Derajat.

Gerakan dalam seni bela diri Tarung derajat meliputi pukulan, tendangan, bantingan, kuncian, dan sapuan kaki. Sejak 1990-an, Tarung Derajat telah disempurnakan untuk olahraga.

5. Perisai Diri

Perisai Diri didirikan pada 2 Juli 1955 di Surabaya oleh RM Soebandiman Dirdjoatmodjo, putra bangsawan Keraton Paku Alam.

Teknik silat yang ada pada Perisai Diri mengandung 156 aliran silat dari berbagai daerah di Indonesia serta aliran Shaolin dari Tiongkok. Para pesilat akan diajarkan teknik bela diri yang efektif dengan tangan kosong maupun senjata.

Perisai Diri telah diakui dan secara resmi merupakan salh satu anggota dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Perisai Diri juga mendapatkan predikat Perguruan Historis karena merupakan salah satu dari bela diri yang berperan besar dalam sejarah perkembangan IPSI.

6. Kuntau

Kuntao atau Kuntau merupakan seni bela diri yang diciptakan oleh komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, khususnya Kepulauan Melayu. Secara harfiah berarti ‘jalan kepalan’ atau ada juga yang menerjemahkan sebagai ‘seni pertempuran’.

Kuntau dibawa oleh pedagang, buruh dan pemukim lainnya dari Cina selatan serta dipraktikkan di Malaysia (khususnya Kalimantan), Indonesia, Singapura, dan Filipina.

Kuntau selalu menjadikan senjata lokal sebagai senjata andalan. Seni bela diri ini juga terlihat eksplosif dan agresif layaknya seni bela diri lainnya. Sebenarnya Kuntau mempunyai filosofis "menunggu" atau reaksi saja, karena bagi pesilat Kuntau hanya untuk membela diri serta menjaga keselatan diri semata.

Sayangnya, seni bela diri Kuntau hanya dikenal luas selama abad ke-20.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini