Kivlan Zen Mengaku Dipukul Dokter RS Kejaksaan, Ini Klarifikasi Kejagung

Puteranegara Batubara, Okezone · Jum'at 31 Januari 2020 19:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 31 337 2161457 kivlan-zen-mengaku-dipukul-dokter-rs-kejaksaan-ini-klarifikasi-kejagung-xGe1cQ6Ofa.png (Foto: Okezone.com/Puteranegara)

JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) menegaskan tak ada pemukulan terhadap Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen oleh dokter Rumah Sakit (RS) Adhyaksa pada September 2019. Informasi penganiayaan disampaikan langsung Kivlan.

Kapuspenkum Kejagung RI, Hari Setiyono menjelaskan, peristiwa itu sejatinya terjadi pada 2 September 2019. Kivlan saat itu meminta diperiksa kesehatan di Rutan POM DAM Jaya Guntur, Jakarta Pusat. Tak lama setelah itu, tim dokter dan medis dari Polri dan Kejaksaan pun datang, salah satunya dr. Yohan Wennas.

"Usai melakukan pemeriksaan kesehatan, hasil itu dituangkan dalam hasil pemeriksaan kesehatan dan disimpulkan kesehatan yang bersangkutan (Kivlan) tak ada kegawatdaruratan, sehingga tak perlu dirujuk ke RS," kata Hari di Gedung Kejagung, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2020).

Saat itu ada perdebatan antara penasihat hukum Kivlan dengan tim dokter. Pihak Kivlan pun disarankan ke RSPAD Gatot Soebroto jika ingin pemeriksaan secara utuh.

Kivlan Zen. (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)

"Usai itu tim dokter hendak kembali ke RS Adhyaksa, setelah keluar ruangan dan jalan, ternyata tas dr. Wennas ini tertinggal sehingga balik lagi ke ruang pemeriksaan. Saat masuk itu, dia ketemu dengan tersangka (Kivlan) dan langsung dicabut atau direbut itu catatan dari dr. Wennas," kata Hari.

Yohan Wennas pun secara reflek hendak mengambil kembali catatan medis. Namun Kivlan justru berteriak kalau dia dipukul. Karena tak ada insiden pemukulan dan Kivlan ogah menyerahkan kembali catatan medis, Yohan pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan dan melapor ke atasannya.

"Jadi faktanya seperti itu, tak pernah ada kejadian pemukulan itu, apalagi ini kan dokter yang sedang melakukan pemeriksaan, tak mungkinlah, ada kode etik dokter juga," ujar Hari.

Hari pun mempertanyakan kejadian tersebut baru diviralkan dan dipermasalahkan. Hal itu dianggap terkesan menyudutkan dokter RS Adhyaksa. Lagipula, jika memang mengalami kekerasan sebagaimana klaimnya, seharusnya Kivlan melaporkan ke polisi saat itu juga.

"Faktanya sekali lagi kami sampaikan, tak ada pemukulan dan haknya Pak Kivlan untuk dilakukan pemeriksaaan kesehatan pun sudah terpenuhi. Hari ini kita sampaikan itu, semoga tak ada lagi polemik di masyarakat," jelas dia.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini