70 Tahun Berpulangnya Jenderal Besar Soedirman

Alifa Muthia Diningtyas, Okezone · Rabu 29 Januari 2020 21:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 29 337 2160363 70-tahun-berpulangnya-jenderal-besar-soedirman-W74iia19Hn.jpg Jenderal Soedirman (Foto : Istimwa)

JAKARTA - Hari ini, Selasa 29 Januari 2020, tepat 70 tahun meninggalnya Jenderal Soedirman, seorang panglima angkatan bersenjata Indonesia yang gigih melawan penjajah. Namanya kini dibadikan di sejumlah infrastruktur publik dan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

"Pak Dirman itu makanan kesukaannya belalang dibakar. Makanan saat bergerilya juga itu," kata cucu Jenderal Soedirman, Danang Priambodo Soedirman saat berbincang dengan wartawan Okezone Fakhrizal Fakhri, beberapa waktu lalu.

Lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah. Pria yang berprawakan kecil itu bernama Raden Soedirman. Dia lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem.

Jenderal Soedirman

Semasa kecil, ia tidak diasuh oleh kedua orangtuanya, melainkan oleh pamannya sendiri yang merupakan seorang priyai.

Sejak usia dini Soedirman sudah diajarkan etika dan tata krama priyayi, cerita-cerita kepahlawanan, serta etos kerja dan kesederhanaan. Bersama dengan adiknya, Soedirman kecil juga mempelajari Islam di bawah bimbingan Kiai Haji Qahar.

Soedirman pun dikenal dengan pribadi yang taat agama dan menjadi aktivis Muhammadiyah saat masa remajanya. Soedirman muda selalu dipercaya untuk mengumandangkan azan dan ikamah.

Ia sempat mengenyam pendidikan di sekolah pribumi (hollandsch inlandsche school). Namun, tujuh tahun kemudian ia dipindahkan ke sekolah milik Taman Siswa.

Sang Jenderal juga tercatat pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Wirotomo. Jenderal besar itu dikenal sebagai siswa yang pintar karena dirinya sudah mempelajari pelajaran tingkat dua pada masih tingkat satu.

Baca Juga : 27 Kucing di Karanganyar Mati Mendadak

Baca Juga : Jaksa KPK Selisik Utang-Piutang Eks Dirut PT INTI dengan Mantan Dirkeu AP II

Perlawanan Soedirman sudah terdidik saat masih bersekolah di Wirotomo. Di sekolah itu, para gurunya dikenal sebagai orang-orang yang nasionalis.

Usai lulus dari Wirotomo, Soedirman belajar selama satu tahun di Kweekschool namun pendidikannya di sekolah keguruan itu terpaksa berhenti karena kekurangan biaya.

Pengalamannya menimba ilmu di Kweekschool membuat Soedirman muda sempat menjadi seorang guru. Bahkan, ia sempat menjabat kepala sekolah di sekolah dasar Muhammadiyah.

Soedirman juga dikenal sebagai negosiator dan mediator yang lugas dan tegas saat memimpin kelompok pemuda Muhammadiyah. Kendati Jepang sempat menduduki Indonesia pada 1942, ia tetap aktif mengajar.

Penolakannya terhadap penjajahan membawa Soedirman bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA). Soedirman pun sempat menjabat komandan batalion di Banyumas.

Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Yogyakarta pada 18 November 1945. Sejarah akan terus mengenang aksi heroik Soedirman saat bergerilya selama tujuh bulan di hutan belantara Jawa lantaran menolak takluk dengan agresi militer kedua Belanda demi menjaga kedaulatan negara.

Saat bergerilya itu Soedirman terpaksa ditandu karena tengah mengalami penyakit tuberkulosis. Sehingga hanya hidup dengan satu paru-paru. Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 karena penyakit yang diidapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini