nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain Harun Masiku, Ini 5 Koruptor yang Pernah Jadi Buron KPK

Debrinata Rizky, Jurnalis · Rabu 29 Januari 2020 17:23 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 29 337 2160229 selain-harun-masiku-ini-5-koruptor-yang-pernah-jadi-buron-kpk-b5Qyp2aXW4.jpg Ilustrasi KPK (Okezone.com)

KEBERADAAN Harun Masiku, tersangka kasus suap pergantian anggota DPR RI terpilih 2019-2024, masih misteri sejak 9 Januari 2020. Harun yang menyandang status buron, hingga kini belum terlacak  oleh KPK maupun Polri.

Diketahui, Harun Masiku menghilang setelah KPK berhasil menangkap tangan komisioner KPU Wahyu Setiawan pada 8 Januari 2020. Harun dikabarkan berada di Singapura kala itu. Namun pada 7 Januari 2020 melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta, Harun terekam CCTV baru tiba di Indonesia. Harun diketahui meninggalkan Indonesia dua hari sebelum OTT oleh KPK terhadap komisioner KPU Wahyu Setiawan pada 8 Januari 2020.

Ditjen Imigrasi pun baru menyampaikan ke publik mengenai kebaradaan Harun Masiku pada 22 Januari 2020. Artinya Ada keterlambatan penyampaian informasi selama 15 hari. KPK pun enggan dianggap kecolongan. Melalui Plt Jubir KPK Ali Fikri bahwa KPK memiliki strategi dan sudah mengantisipasi hal itu. Kini bersama Polri, KPK terus memburu mantan politisi PDI Perjuangan itu hingga ke pelosok daerah.

Kasus buronnya tersangka KPK ini bukan kali pertama di Indonesia. Ada sederet nama lain yang juga pernah menyandang status serupa. Berikut Okezone rangkum 5 koruptor yang pernah jadi buronan lembaga antirasuah itu:

1. Muhammad Nazaruddin

Pada 7 Agustus 2011, KPK mengumumkan penangkapan Muhammad Nazaruddin setelah lama buron. Ia ditangkap di Cartagena de Indias, Kolombia melalui kerjasama Interpol.

Nazaruddin diketahui menggunakan paspor sepupunya, Syarifuddin, untuk berpergian ke luar Indonesia setelah paspornya telah lama dicabut oleh Imigrasi.

Diketahui, Nazaruddin dijadikan DPO setelah KPK menetapkan Bendaraha Umum Partai Demokrat ini tersangkut kasus tindak pidana korupsi pembangunan wisma Atlet SEA Games, Jakabaring. Nazaruddin pun diburu Komisi Pembarantasan Korupsi (KPK).

Setelah lama buron, Nazaruddin pun diadili dan pada 20 April 2012, Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan pidana 4 tahun 10 bulan dan denda Rp 200 juta kepada Nazaruddin. Di persidangan, Nazaruddin terbukti menerima suap sebesar Rp 4,6 miliar berupa lima lembar cek yang diserahkan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris kepada dua pejabat bagian keuangan Grup Permai, Yulianis dan Oktarina Fury. Cek tersebut disimpan di dalam brankas perusahaan. Nazar juga dinilai memiliki andil membuat PT DGI menang lelang proyek senilai Rp 191 miliar di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

2. Setya Novanto

Nama mantan Ketua DPR Setya Novanto sempat membuat gegar lantaran menghilang setelah KPK menetapkan dirinya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP, tahun anggaran 2011-2012, pada 17 Juli 2017. Penetapan tersangka Novanto sejalan dengan telah diterbitkannya surat perintah penyidikan (sprindik) pada 31 Oktober 2017.

KPK kala itu dipimpin oleh Agus Rahardjo berupaya menjemput paksa, lantaran tercatat sudah tiga kali tak memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus e-KTP. Terakhir, pada Rabu 15 November 2017, Novanto kembali mangkir saat dipanggil sebagai tersangka.

Setelah lama menghilang, KPK akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa Setya Novanto masuk DPO. KPK mendatangi kediaman Setya Novanto di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sosok Setya Novanto tak ditemukan. Pada 16 November 2017 malam Setya Novanto dikabarkan menabrak tiang listrik dan dilarikan ke RS Medika Permata Hijau.

Pada tanggal 29 Maret 2018, Setya Novanto dituntut 15 tahun penjara oleh jaksa dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

3. Anggoro Widjojo

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menangkap dan memulangkan buronan tersangka kasus pemberian suap terkait proyek Sistem Komunikasi Radior Terpadu (SKRT) di Kementerian Kehutanan, Anggoro Widjojo. Dia ditangkap di Zhenzhen China pada 28 Januari 2009.

Abraham Samad yang menjadi sebagai Ketua KPK saat itu, langsung menggelar keterangan pers. Ia mengaku bekerjsama dengan pihak Imigrasi Indonesia dan pihak kepolisian Zhenzhen China.

Direktur PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo ditetapkan sebagai tersangka kasus pengadaan alat Sistem Radio dan Komunikasi Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan tahun 2007. Kasus SKRT merupakan pengembangan dari kasus dugaan korupsi alih fungsi hutan lindung menjadi Pelabuhan Tanjung Api-api di Sumatera Selatan.

Sejumlah anggota DPR terseret kasus ini, antara lain Yusuf Erwin Faishal dan Al Amin Nasution. Namun KPK akhirnya menetapkan status buron karena dia mangkir dari pemanggilan dan ditengarai berada di China. Anggoro akhirnya ditangkap petugas Interpol di Zhenzhen, China, Januari 2014. Kakak kandung Anggodo Widjojo ini tiba di KPK 31 Januari 2014.

 4. Sjamsul Nursalim 

Sjamsul Nursalim, tersangka kasus korupsi Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI) pernah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Sjamsul dan istrinya, Itjih Nursalim sudah sekira dua kali mangkir alias tidak hadir saat dipanggil tim penyidik KPK. Dia dan‎ istrinya mangkir saat dipanggil dalam kapasitasnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Sebelumnya, KPK sudah melayangkan surat panggilan pemeriksaan untuk Sjamsul dan Itjih ke lima alamat di Indonesia dan Singapura. KPK juga telah meminta bantuan lembaga antikorupsi di Singapura untuk dapat menghadirkan Sjamsul ke Indonesia.

Bahkan, KPK telah meminta agar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Singapura memajang agenda pemeriksaan terhadap Sjamsul dan istrinya di kantornya. Namun, Sjamsul dan Itjih tidak juga kooperatidf memenuhi panggilan tersebut.

Upaya tersebut dilakukan KPK karena Sjamsul dan Itjih kerap mangkir dalam panggilan pemeriksaan. Sjamsul dan Itjih sendiri sudah sering dipanggil KPK pada saat proses penyelidikan. Namun, keduanya tidak kooperatif memenuhi panggilan tersebut.

Sjamsul dan istrinya disebut melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Arsyad Tumenggung. Sjamsul dan istrinya diduga sebagai pihak yang diperkaya sebesar Rp4,58 triliun.

5. Izil Azhar alias Ayah Marine

Izil Azhar yang merupakan mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ternyata pernah juga menjadi buronan KPK dalam kasus tindak pidana korupsi penerimaan gratifikasi bersama-sama dengan Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf pada 2012.

KPK melalui jubirnya Febri Diansyah di Jakarta, mengatakan KPK sudah melakukan upaya pemanggilan tersangak baik melalui surat maupun secara persuasif mengingatkan Izil Azhar agar menyerahkan diri secara baik-baik. Namun, yang bersangkutan tidak mengindahkan peringatan lembaga antirasuah tersebut.

Akhirnya, KPK mengambil tindakan tegas untuk memasukan nama Izil Azhar dalam dafta pencarian orang (DPO). Salah satunya meminta bantuan Polri untuk orang atas nama DPO tersebut untuk ditangkap dan diserahkan kepada KPK.

KPK pun membuat pengumuman, bagi masyarakat yang mengetahui keberadaan DPO tersebut harap menginformasikan ke Kantor KPK melalui telepon (021)-25578300 atau (021)-25578389, email: pengaduan@kpk.go.id, nomor faks (021) 52892456 atau dapat menginformasikan ke kantor kepolisian setempat.

Seperti diketahui, kasus yang menjerat Izil Azhar bahwa dia bersama Irwandi Ysuuf didakwa menerima gratifikasi Rp32,45 miliar selama menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2007 s.d. 2012.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini