Komisioner KPU Viryan Diselisik KPK Soal Proses PAW Harun Masiku

Selasa 28 Januari 2020 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 28 337 2159495 komisioner-kpu-viryan-ditelisik-kpk-soal-proses-paw-harun-masiku-H28OMrHH3m.jpg Viryan Aziz. Foto: Arie Dwi Satrio/Okezone

JAKARTA - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Azis rampung diperiksa tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia mengaku diselisik penyidik soal proses Pergantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPR dari PDIP.

"(Ditanya) seputar PAW ya, penggantian calon terpilih dari Riezky Aprilia dengan Harun Masiku," kata Viryan di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (28/1/2020).

Viryan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait kasus dugaan suap penetapan Anggota DPR Pergantian Antar Waktu (PAW) dari PDIP. Ia diperiksa untuk penyidikan tersangka yang berinisial SAE.

Viryan mengaku lupa dicecar berapa pertanyaan oleh penyidik. Intinya, kata Viryan, ia hanya ditanya seputar PAW Harun Masiku. "Wah saya enggak menghitung itu pertanyaannya, yang tadi ditanya hanya seputar Harun Masiku," ujarnya.

Untuk diketahui, PDIP memutuskan melimpahkan suara Nazarudin Kiemas yang telah meninggal dunia ke Harun Masiku. Almarhum Nazarudin Kiemas merupakan peraih suara terbanyak di Dapil Sumatera Selatan 1 dan mendapatkan satu kursi di DPR. Namun, Nazarudin meninggal sebelum menjabat sebagai Anggota DPR.

(Baca Juga: Ketua KPK: Harun Masiku Pasti Akan Ketangkap!

Setelah itu, KPU memutuskan bahwa Caleg asal PDIP, Riezky Aprilia sebagai pengganti Nazarudin. Sebab, Riezky merupakan peraih suara tertinggi kedua setelah Nazarudin di Dapil Sumsel 1.

Keputusan KPU berbeda dengan PDIP yang menginginkan Harun Masiku sebagai pengganti Nazarudin. Padahal, suara Harun terpaut jauh di bawah Riezky Aprilia. Proses itu kemudian berujung rasuah yang menyeret mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan.

KPK lantas menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proses Pergantian Antar Waktu (PAW) di DPR RI. Empat tersangka tersebut yakni, mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan (WSE), mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF).

Kemudian, Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Harun Masiku (HAR) dan pihak swasta yang berinisial SAE. Wahyu dan Agustiani ditetapkan sebagai pihak penerima suap. Sedangkan Harun dan Saeful merupakan pihak yang memberikan suap.

Dalam perkara ini, Wahyu diduga meminta fee sebesar Rp900 juta untuk meloloskan Harun Masiku sebagai anggota DPR pengganti Nazarudin Kiemas yang telah meninggal dunia. Namun Wahyu baru akan menerima Rp600 Juta dari proses pelolosan tersebut.

Uang Rp600 Juta dibagi dalam dua tahapan. Pada tahapan pertama, ada aliran suap Rp400 juta yang saat ini masih didalami sumbernya. Hanya saja, Wahyu hanya menerima senilai Rp200 Juta dari total Rp400 Juta. Sisanya atau senilai Rp200 Juta, diduga digunakan oleh pihak lain.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini