nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

6 Tradisi Menyambut Kelahiran Bayi di Indonesia

Alifa Muthia Diningtyas, Jurnalis · Senin 27 Januari 2020 14:47 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 27 337 2158928 6-tradisi-menyambut-kelahiran-bayi-di-indonesia-2F54uMPaE2.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Setiap orang tua pasti bahagia ketika menyambut kehadiran anaknya sebagai anggota baru keluarga. Kelahiran sang buah hati tentu jadi kado terindah dari perjuangan sembilan bulan ibu mengandung.

Keberagaman Indonesia yang mempunyai banyak suku, budaya, hingga bahasa menjadikan banyak tradisi dalam menyambut kelahiran bayi. Okezone pun merangkum sejumlah tradisi dalam menyambut kelahiran bayi di Indonesia:

1. Jatakarma Samskara

Jatakarma Samskara merupakan tradisi atau upacara dalam menyambut kelahiran bayi yang dilakukan masyarakat Hindu di Bali. Tradisi ini dilakukan dengan melantukan doa-doa agar bayi memiliki masa depan yang baik.

Nantinya, ayah dari bayi akan diminta menggendong, menyentuh, serta mencium sang buah hatinya yang baru lahir sambil membacakan doa di telinga bayinya.

Tradisi ini dilakukaan saat tali pusar bayi belum terputus.

Namun, bila tali pusar sudah terlanjur lepas, maka pihak keluarga akan mengadakan suatu upacara untuk mensucikan bangunan-bangunan ibadah yang ada di wilayah sekitar.

Jatakarma Samskara adalah tradisi yang menyajikan nasi tumpeng beserta lauk pauk yang disebut rerasmen oleh masyarakat Bali dengan menyertakan buah-buahan sebagai bentuk rasa syukur.

Ilustrasi Shutterstock

2. Medak Api, Suku Sasak

Medak Api merupakan tradisi pemberian nama bayi yang dilakukan masyarakat Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pemberian nama itu biasanya dilakukan pada hari ketujuh atau sembilan saat sang buah hati dilahirkan.

Masyarakat setempat percaya bahwa nama yang tidak cocok akan mengundang nasib buruk untuk anak-anak mereka. Sehingga, masyarakat Sasak tidak akan memberikan nama yang sembarangan bagi anak-anak mereka.

Adapun Medak Api dilakukan saat putusnya tali pusar bayi. Pada prosesi tersebut, orang tua bayi akan meminta nasihat seorang tokoh agama atau pemangku adat soal nama yang akan diberikan pada anaknya.

3. Turun Mandi, Minangkabau

Tradisi yang berasal dari masyarakat Minangkabau ini dilakukan dengan memandikan bayi yang baru lahir ke sungai. Turun Mandi merupakan upacara yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa setelah dikaruniai seorang anak.

Prosesi upacara dilakukan berbeda-beda tergantung jenis kelamin sang bayi. Apabila bayi laki-laki upacara Turun Mandi akan dilakukan pada tanggal ganjil. Sementara bila bayi perempuan, bayi akan dimandikan pada bulan genap.

Uniknya, orang yang membawa bayi dari rumah ke sungai bukan dari kedua orangtua si bayi namun ia adalah orang yang membantu proses persalinan.

Baca Juga : Pernah Berbobot Hampir 200 Kg, Begini Kondisi Arya Bocah Obesitas Sekarang

4. Moana, Sulawesi

Tradisi Moana merupakan ritual yang terdiri dari dua prosesi. Pertama yakni dengan pemotongan plasenta atau biasa disebut pemotongan Tumbuni oleh masyarakat setempat. Kedua, dilanjutkan dengan perawatan plasenta mulai bayi naik ayunan hingga menginjak tanah.

Setelah bayi dilahirkan, seorang Topopanuju atau dukun beranak akan menaikkan bayi ke ayunan. Bayi yang mengikuti acara ini biasanya berusia tiga hingga tujuh hari. Topopanuju juga bakal mempersiapkan ayunan.

Adapun tradisi ini dilakukan untuk mendekatkan bayi pada sang pencipta dengan berharap keberkahan pada penguasa semesta, agar anak kelak menjadi orang yang beruntung.

5. Baayun Mulud, Banjar

Tradisi Baayun Mulud berasal dari masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Selain itu, tradisi ini tidak dilakukan kepada bayi yang baru lahir melainkan kepada anak yang berusia 1-5 tahun.

Tradisi ini selalu dilaksanakan setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Baayun Mulud terdiri dari dua kata. Baayun berarti berayun dan Mulud dari kata Maulid atau kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Makna Tradisi Baayun Mulud yakni sebagai pengharapan orangtua kepada buah hatinya agar menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW dan senantiasa menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupannya.

6. Selapanan, Jawa

Masyarakat Jawa juga mempunyai tradisi dalam menyambut kelahiran bayi. Tradisi itu bernama Selapan yang berarti 35 hari. Sehingga, Tradisi Selapan merupakan tradisi yang diselenggarakan saat bayi berusia 35 hari.

Pada tradisi Selapan terdapat tumpeng yang berisi makanan yang akan dibagikan kepada tetangga, saudara, hingga kerabat. Dalam tumpeng itu nantinya akan diisi nasi putih, hingga urap yang terdiri dari sayuran yang diberi bumbu serundeng.

Adapun penyajian tumpeng sebagai harapan kedua orang tua bayi agar anaknya kelak bisa bermanfaat bagi sesama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini