nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penjelasan soal Penyebaran dan Gejala Virus Korona

Minggu 26 Januari 2020 08:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 26 337 2158394 penjelasan-soal-penyebaran-dan-gejala-virus-korona-Q6abGUVOFe.jpg Penanganan virus korona di Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, China. (Foto: EPA/BBC News Indonesia)

VIRUS korona menewaskan sedikitnya 26 orang di China, dan menyebar ke paling tidak delapan negara, termasuk Singapura, Thailand, Amerika Serikat, sampai Arab Saudi.

Mengutip dari BBC News Indonesia, Minggu (26/1/2020), di DKI Jakarta satu orang kini sedang diobservasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso karena diduga terjangkit virus tersebut.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan menjaga daya tahan tubuh guna meminimalisasi potensi terinfeksi virus korona.

Kementerian Kesehatan, kata Terawan, kini menetapkan siaga I terhadap virus korona untuk mencegah penyebaran virus yang berasal dari China itu masuk ke Indonesia.

Terawan menjelaskan, pemerintah mengaktifkan 135 alat pemindai suhu tubuh atau thermo scanner di 135 pintu masuk Indonesia, baik melalui darat, laut, maupun udara.

Kemenkes, lanjut dia, juga telah mengaktifkan 100 rumah sakit rujukan flu burung bagi masyarakat yang terduga atau terinfeksi virus korona jenis baru, atau dikenal dengan nama 2019-nCoV, dan bisa menular dari manusia ke manusia.

Apakah Virus Korona dan Bagaimana Penyebarannya?

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Diah Handayani menjelaskan bahwa 2019-nCoV adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Bedanya dengan virus lain, ujar dia, virus korona ini memiliki virulensi atau kemampuan yang tinggi untuk menyebabkan penyakit yang fatal.

Menurut Diah, virus korona berbahaya jika telah masuk dan merusak fungsi paru-paru, atau dikenal dengan sebutan pneumonia, yaitu infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan virus dan berbagai mikroorganisme lain, seperti bakteri, parasit, jamur, serta lainnya.

"Pertukaran oksigen tidak bisa terjadi sehingga orang mengalami kegagalan pernapasan. Itulah mengapa virus ini berat karena bukan lagi hanya menyebabkan flu atau influenza, tapi dia menyebabkan pneumonia," kata Diah saat dihubungi BBC News Indonesia.

Diah melanjutkan, proses penyebaran virus ini melalui udara yang terinhalasi atau terhirup lewat hidung dan mulut sehingga masuk ke saluran pernapasan.

Virus ini masuk melalui saluran napas atas, lalu ke tenggorokan hingga paru-paru.

"Sebenarnya belum 100 persen. Tapi dilihat dari sekian ratus kasus yang dipelajari, dan sifat dasar virus, maka inkubasi virus ini dua sampai 14 hari. Itu mengapa kita mewaspadai periode dua minggu itu," kata Diah.

Gejala Virus Korona Batuk, flu, Demam, hingga Sesak Napas

Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia itu menjelaskan virus korona 2019-nCoV memiliki gejala yang sama dengan infeksi virus pernapasan lainnya.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Diah Handayani mengatakan gejala ringan yaitu flu disertai batuk. Kemudian jika memberat akan menyebabkan demam serta infeksi radang tenggorokan.

Kemudian apabila masuk ke saluran napas, jelas dia, bakal menyebabkan bronkitis.

"Yang berat ketika semakin jauh infeksi ke saluran napas bawah, itu pneumonia lengkap. Selain itu, bisa juga disertai gejala infeksi virus ke organ lain, yaitu diare," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini