nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejarah Perayaan Imlek di Indonesia, Pernah Dilarang di Era Soeharto

Debrinata Rizky, Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 12:22 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 25 337 2158167 sejarah-perayaan-imlek-di-indonesia-pernah-dilarang-di-era-soeharto-7zSc1TBMzC.png Warga Tionghoa memadati Wihara Dharma Bakti untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2571. (Foto: Okezone.com/Fahreza Rizky)

JAKARTA - Perayaan Imlek dirayakan tiap tahun di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tahun Baru Imlek 1571 bertepatan pada Sabtu 25 Januari 2020. Perayaan dimulai di hari pertama pada penanggalan Tionghoa yang berakhir dengan Cap Go Meh di hari ke-15.

Perayaan Imlek dipercaya merupakan awal penentuan nasib dan keberuntungan selama satu tahun ke depan. Karena itu berbagai tradisi, mulai dari keberuntungan hingga larangan dan pantangan bagi kepercayaan akan mereka jalankan.

Mengutip dari jurnal berjudul ‘Imlek, Identitas dan Multikulturalisme di Yogyakarta’ karya Sudono, Suhartono dan GR. Lono Lastoro Simatupang, perayaan Imlek di Indonesia pernah dilarang ketika pemertintahan orde baru (1966-1998). Etnis Tionghoa mendapatkan tekanan diskriminasi hingga tidak dapat melakukkan ritual dan tradisi-tradisi budaya mereka.

Atraksi Liong Sambut Imlek di Bundaran HI

Presiden ke-2 RI, Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Akibatnya, beberapa tradisi keagamaan etnis Tionghoa di Indonesia tidak dapat dijalankan karena batasan itu. Perayaan Tahun Baru Imlek, perayaan Peh Cun (Festival Perahu Naga), perayaan Tong Chiu Pia (Perayaan Kue Bulan) dan Cap Go Meh dilarang dirayakan secara terbuka. Termasuk juga tarian barongsai dan liong.

Namun Etnis Tionghoa di Indonesia dapat bernapas lega setelah Presiden ke-4 Ri, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mencabut Inpres tersebut. Pemerintah memberikan kesempatan lebar ke etnis Tionghoa untuk menyamakan kedudukan mereka dengan masyarakat lain tanpa diskiriminasi.

(Foto: Okezone.com/Fahreza Rizky)

Kebijakan tersebut menimbulkan pro kontra di kalangan etnis Tionghoa, khususnya penganut Konghucu, Imlek dianggap hari raya keagamaan dan Imlek berkaitan dengan lahirnya Konfusius. Namun, bagi sebagian masyarakat Tionghoa lainnya, Imlek tidak lebih dari tradisi budaya, khususnya etnis Tionghoa yang memeluk agama Islam, Kristen dan Katholik.

Mulai tahun 2003, Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri memutuskan bahwa Imlek dijadikan hari libur nasional. Hal ini diumumkan Megawati saat menghadiri perayaan Imlek 2553 pada Februari 2002.

Sejak saat itu, klenteng-klenteng atau vihara-vihara mulai ramai dikunjungi oleh etnis Tionghoa untuk melakukan sembahyang dan mengadakan ritual-ritual sesuai adat dan tradisi.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini