nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

DPR Sebut Hakim Gunakan Diskresinya secara Bijaksana Dalam Kasus Pelajar Bunuh Begal

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 10:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 25 337 2158126 dpr-sebut-hakim-gunakan-diskresinya-secara-bijaksana-dalam-kasus-pelajar-bunuh-begal-Nzqx3i2aYT.jpg Pelajar berinisial ZA saat jalani sidang (foto: Okezone.com/Avirista)

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi III DPR RI dari Fraksi Nasdem, Ahmad Sahroni mengapresiasi vonis Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen Malang, kepada pelajar kelas XII SMA, berinisial ZA terdakwa pembunuh pelaku begal.

Dalam vonis tersebut, ZA harus menjalani pembinaan satu tahun di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam, Wajak, Kabupaten Malang.

“Dalam KUHP disebutkan bahwa penghilangan nyawa seseorang dapat dikenai sanksi pidana. Namun, kearifan penegak hukum dituntut untuk sangat bijak dalam menilai duduk persoalan yang sesungguhnya,” kata Sahroni dalam keterangannya, Sabtu (25/1/2020).

 Baca juga: Ini Alasan Keluarga Pelajar yang Bunuh Pelaku Begal Tak Lakukan Banding

Ia pun menilai bahwa ketua hakim Nuny Defiary yang memimpin persidangan kasus pembunuhan begal itu sangat tepat.

“Saya memandang hakim telah menjalankan diskresi atas kewenangannya dengan tepat,” imbuh politisi asal Tanjung Priok Jakarta Utara ini.

Lebih jauh Sahroni menyebut, vonis ini bisa menjadi yurisprudensi dalam proses penegakan hukum ke depan sehingga dalam perkara-perkara sejenis, khususnya yang melibatkan anak lebih mengedepankan rehabilitasi atau pembinaan dibanding hukuman kurung badan sebagai disebutkan dalam KUHP.

 Baca juga: Keluarga Pelajar Pembunuh Begal di Malang Terima Vonis Hakim

Hal tersebut, kata dia sejalan dengan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 4 Tahun 2014, tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak dimana hakim melakukan pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

“Memang terbilang belum umum diterapkan, namun bisa menjadi bagian dari restoratif justice dalam sistem hukum pidana kita,” pungkasnya.

Sebagai informasi pelajar pembunuh begal ZA divonis bersalah oleh majelis hakim yang dipimpin oleh Nuny Defiary. ZA dijerat dengan pasal 351 ayat 3 mengenai penganiyaan yang menyebabkan kematian dan harus menjalani hukuman pembinaan di LKSA selama satu tahun.

Kasus hukum yang menimpa ZA ini berawal pada pada Minggu malam 9 September 2019 keluar bersama pacarnya di kebun tebu Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, dihadang oleh sekelompok kawanan pembegal.

Dua orang mencoba merampas sepeda motornya dan handphone ZA. Tak cukup disana saja, pelaku juga berusaha memperkosa pacar ZA yang berinisial V.

Namun korban ZA memberikan perlawanan dan menusukkan pisau yang diambilnya dari dalam jok sepeda motor miliknya hingga menewaskan seorang begal bernama Misnan. Alhasil dua pelaku begal lainnya pun melarikan diri melihat rekannya.

Sehari setelahnya polisi mengamankan ZA dan menetapkan tersangka atas dugaan penganiyaan hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Namun lantaran masih berstatus pelajar ZA tak di penjara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini