nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peristiwa 25 Januari: Hari Jadi Kota Sao Paulo hingga Berdirinya Liga Bangsa-Bangsa

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 08:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 25 337 2158093 peristiwa-25-januari-hari-jadi-kota-sao-paulo-hingga-berdirinya-liga-bangsa-bangsa-uhp0FfFrad.jpg Liga Bangsa-Bangsa. (Foto : Wikipedia)

JAKARTA – Sejumlah peristiwa penting terjadi pada 25 Januari dari tahun ke tahun. Beberapa peristiwa di antaranya masuk ke dalam catatan sejarah dunia. Salah satunya Edward jadi raja Inggris dan berdirinya Sao Paulo pada 2007.

Berikut ulasan singkat sejumlah persitiwa mendunia yang diringkas Okezone merujuk dari berbagai sumber:

1327 - Edward III Jadi Raja Inggris

Edward III adalah salah satu penguasa Inggris yang paling sukses pada Abad pertengahan. Ia berkuasa selama 50 tahun dan membuat Inggris sebagai kekuatan militer terkuat di Eropa.

Edward dinobatkan ketika berumur empat belas tahun, setelah ayahnya dipaksa untuk mengundurkan diri. Setelah kemenangannya melawan Skotlandia, ia menyatakan dirinya sebagai pewaris tahta Prancis pada tahun 1337 dan memulai perang seratus tahun.

Perang ini berjalan sangat baik untuk Inggris, kemenangannya dalam pertempuran crecy dan pertempuran poitiers mengarah kepada Perjanjian Bretigny dan ia memperoleh banyak wilayah. Semakin tua, ia menjadi kurang aktif dan kesehatannya memburuk.

Edward juga mendirikan Ordo Garter serta mengembangkan legislatif dan pemerintah. Namun selama pemerintahannya terjadi wabah hitam.

1554 - Sao Paulo Didirikan

Sao Paulo adalah kota terbesar di Brasil. Kota ini merupakan ibu kota negara bagian Sao Paulo, negara bagian dengan jumlah penduduk terbesar di Brasil. Nama kota ini merupakan penghormatan kepada Santo Paulus.

Sao Paulo berpengaruh kuat dalam perdagangan dan keuangan regional, serta kesenian dan hiburan. Sao Paulo dianggap sebagai kota global alfa. Selain itu, Sao Paulo merupakan salah satu kota berbahasa Portugis terbesar di dunia.

Kota Sao Paulo. (Foto : The Culture Trip)

Di kota ini terdapat berbagai marka tanah, misalnya Museum Paulista, Museu. Kesenian Sao Paulo (MASP), Monumento as Bandeiras dan Jembatan Octvavio Frias de Oliviera (Jembatan Estaiada). Paulista Avenue di pusat kota adalah pusat keuangan terpenting di kota ini.

1919 - Berdirinya Liga Bangsa-Bangsa

Liga Bangsa-Bangsa merupakan sebuah organisasi internasional yang didirikan setelah Konfrensi Perdamaian Paris 1919, tepatnya pada 10 Januari 1920. Fungsi-fungsi utamanya termasuk melucuti senjata, mencegah perang melalui keamanan kolektif, menyelesaikan pertentangan antara negara-negara melalui negosiasi dan diplomasi, serta memperbaiki kesejahteraan hidup global.

Ide untuk mendirikan LBB dicetuskan Presiden Amerika, Woodrow Wilson, meskipun AS kemudian tidak pernah bergabung. Sejumlah 42 negara menjadi anggota saat LBB didirikan. 23 di antaranya tetap bertahan sebagai anggota hingga LBB dibubarkan pada 1945. Antara 1920-1937, 21 negara masuk menjadi anggota, tetapi tujuh di antara ke-20 satu anggota tambahan ini kemudian mengundurkan diri (ada yang dikeluarkan) sebelum 1945.

LBB tidak mempunyai angkatan bersenjata dan bergantung kepada kekuatan internasional untuk menjaga agar resolusi-resolusinya dipatuhi. Meskipun awalnya menunjukkan keberhasilan dalam menjalankan tugasnya, LBB akhirnya gagal mencegah berbagai serangan yang dilakukan kekuatan poros pada tahun 1930-an.

Munculnya perang dunia II kembali memperjelas keadaan LBB telah gagal dalam tugasnya mencegah pecahnya perang. Setelah Perang Dunia II, pada 18 April 1945, LBB resmi dibubarkan dan digantikan oleh PBB.

1971 - Idi Amin Jadi Presiden Uganda

Jenderal Idi Amin Dada Oumee adalah pemimpin diktator militer di Uganda yang memerintah pada 25 Januari 25 Januari 1971 - 13 April 1979.

Begitu Idi Amin berkuasa, Uganda menjadi negara yang sangat terkenal di dunia internasional. Pada Agustus 1972, semua orang Asia berkewarganegaraan Inggris diberi waktu sembilan puluh hari untuk angkat kaki dari Uganda.

Tindakan ini bukan karena rasialisme, tetapi karena ia ingin memberikan "kemerdekaan yang sesungguhnya bagi rakyat Uganda". Yang kalang kabut tentu saja Inggris, yang para pejabatnya buru-buru menghubungi Australisa, Selandia Baru, dan negara-negara persemakmuran Inggris lainnya untuk membicarakan penampungan, apalagi Kenya dan Tanzania menolak memberikan penampungan terhadap para pengungsi.

Sepuluh hari kemudian ditetapkan aturan tambahan bahwa orang asing yang sudah menjadi warga negara Uganda harus pergi dari Uganda. Jumlahnya sekitar 23.000 jiwa. Sudah tentu warga negaea keturunan asing yang lahir di Uganda kebingungan.

Jika mereka pergi, status mereka adalah tanpa negara. Ditambah lagi, India, Pakistan, dan Bangladesh menolak menerima kembali mereka. Ditambah pula dengan kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik orang-orang Eropa di Uganda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini