Geger Keraton Agung Sejagat, Ini Ciri-Ciri Keraton Asli dan Abal-Abal

Bramantyo, Okezone · Senin 20 Januari 2020 22:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 20 337 2155725 geger-keraton-agung-sejagat-ini-ciri-ciri-keraton-asli-dan-abal-abal-D7AXWodvVU.jpg Juru Bicara Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta KPH Eddy Wirabumi (foto: Okezone/Bramantyo)

SOLO - Belakangan ini publik dihebohkan dengan munculnya keraton-keraton baru di beberapa daerah, seperti di Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Sunda Empire di Bandung dan Keraton Djipang di Blora. Bahkan, keraton hingga kerajaan itu sudah memiliki pengikut yang biasa disebut Sentono atau Abdi Dalem.

Meskipun pada akhirnya, aparat Kepolisian bisa membuktikan bila keberadaan keraton tersebut abal-abal. Seperti yang terjadi di Purworejo. Di mana, pimpinan tertinggi Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso Hadiningrat dan teman perempuannya, Dyah Gitarja akhirnya mengaku bila mereka berbohong dan mendirikan kerajaan palsu.

Baca Juga: Penguasa Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten Berpangkat Jenderal 

Lantas bagaimana cara agar masyarakat mampu membedakan keraton asli dan abal-abal?

 

Juru bicara Lembaga Dewan Adat Keraton Kasunanan Surakarta yang juga Ketua Masyarakat Adat Keraton Nusantara, KPH Eddy Wirabumi menjelaskan, ada tujuh poin persyaratan yang harus diketahui masyarakat untuk mengetahui apakah keraton maupun kerajaan itu asli atau abal-abal.

"Keraton itu yang paling penting sebenarnya bukan fisiknya, tapi adannya tradisi budayanya," ujar Eddy yang juga suami dari Putri Raja Pakubuwono XII kepada Okezone, Senin (20/1/2020).

Menurut Eddy, poin pertama yaitu adannya garis keturunan raja dalam suatu struktur adat yang sudah ada ratusan tahun. Meski begitu, garis keturunan raja harus bisa diuraikan dengan jelas disertai alat bukti yang cukup tentang periodeisasi berupa adanya upacara besar dalam pergantian tahta.

"Jadi bila rangkaian garis keturunan itu betul-betul tersambung, dan tidak terputus, maka klaim sebagai keturunan lurus dan tidak terputus menandakan keabsahan dan legitimasi," terangnya.

Syarat berikutnya, kata Eddy, memiliki keraton atau berada di keraton yang memang sudah berdiri ratusan tahun dan tempat sama seperti di masa lalu.

"Bagaimanapun kerajaan masa lalu memiliki keraton yang lengkap dengan bentuk bangunan yang sarat nilai dan filosofi, dilengkapi dengan simbol-simbol kekuasaan kerajaan, serta pusaka. Apabila keraton masa lalu telah rusak, setidaknya simbol dan pusaka kerajaan masih ada dan dapat diverifikasi kesahihannya," urainya.

Poin ketiga, memiliki pusaka yang masih tersimpan dan terawat dengan baik. Namun, pusaka itu pun harus diuji terlebih dahulu.

Kemudian, poin keempat, memiliki rakyat yang mengakui dan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari kerajaan adat tersebut.

"Pengakuan itu juga harus diikuti oleh pengaruh yang kuat dalam tata kehidupan sosial pada kelompok masyarakat tersebut," ujarnya.

Baca Juga: Raja Keraton Agung Sejagat Akhirnya Mengaku Bohong! 

Kelima, memiliki pemahaman akan nilai tradisi kerajaan masa lalu, dan nilai tradisi itu masih dipertahankan hingga sekarang. Sedangkan, keenam, adanya prasasti atau surat-surat penting yang menunjukkan bahwa kerajaan tersebut memiliki hubungan dengan kerajaan lain di masa lalu.

"Poin ketujuh, yaitu masih memegang peran sentral dalam budaya peradaban di wilayah. Salah satunya masih menyelenggarakan upacara upacara adat," tutur dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini