nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Adian Kecewa Jaksa Agung Sebut Kasus Semanggi Bukan Pelanggaran HAM Berat

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Senin 20 Januari 2020 00:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 20 337 2155194 adian-kecewa-jaksa-agung-sebut-kasus-semanggi-bukan-pelanggaran-ham-berat-DNcFMJizgJ.jpg Adian Napitupulu (Foto: Ist)

JAKARTA - Aktivis 98 Adian Napitulu kecewa dengan pernyataan Jaksa Agung ST Burhanuddin yang menyebut peristiwa Semanggi I dan II bukan merupakan pelanggaran HAM berat.

"Saya juga sakit hati. Saya juga kecewa karena Kejaksaan Agung itu lembaga penegakan hukum. DPR itu lembaga politik. Pernyataan politik tidak kemudian serta merta menghilangkan peristiwa hukumnya dan kejahatan hukumnya. Sebagai Jaksa Agung dia harus bicara tentang bukti, peristiwa, dan tindakan hukum. Bukan mengutip pernyataan politik," kata Adian usai diskusi Indonesia Law Reform Institute bertajuk 'Ada Apa di Balik Kasus Wahyu?' di Warung Komando, Jakarta Selatan, Minggu (19/1/2020).

Adian menerangkan, pernyataan Jaksa Agung itu berdasarkan rekomendasi DPR pada 2001. Padahal, lanjut dia, ST Burhanuddin merupakan penegak hukum dan merupakan politisi.

"Itu keputusan politik DPR, tapi bukan keputusan hukum. Menurut saya, Jaksa Agung bicara sebagai apa? Sebagai petugas penegakan hukum atau pernyataan politik mengutip pernyataan DPR? Ya dia mau usut, usut saja. Mau DPR ngomong apa kek segala macam," ucapnya.

Semanggi

Baca Juga: Komnas HAM Minta Jaksa Agung Putuskan Secara Hukum soal Semanggi I dan II

Adian meminta ST Burhanuddin tak menyamakan keputusan hukum dan keputusan politik. Menurut dia, hal itu merupakan dua hal yang berbeda sebab kejahatan HAM berat tak akan bisa hilang hanya dengan keputusan politik.

"Itu menurut Jaksa Agung kalau bukti kurang, peristiwa ada, cari. Begini, lidik untuk mencari tahu ada atau tidaknya peristiwa. Jadi kalau ada orang menerima sprindik, surat perintah penyelidikan, dia mendapat perintah untuk mengetahui ada atau tidaknya peristiwa. Kalau peristiwanya ada, dia meningkat menjadi sprindik, penyidikan. Penyidikan untuk mencari bukti," ujarnya.

Adian meminta Kejagung bisa menegakkan hukum terkait peristiwa pelanggaran HAM berat dalam kasus Semanggi I dan II. Terlebih Komnas HAM selama ini menyatakan dua kasus tersebut bagian dari pelanggaran HAM yang tak pernah terungkap siapa dalangnya.

"Pernyataan DPR adalah pernyataan politik, bukan pernyataan lembaga hukum. Yang kita minta apa, penegakan hukum. Siapa yang berwenang untuk melakukan penegakan hukum untuk pengusutan pelanggaran HAM, salah satunya Komnas HAM. Komnas HAM bilang apa? Pelanggaran HAM berat. Yang lain bilang apa? Pelanggaran HAM berat. Ya sudah usut saja," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini