nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BMKG: Mamberano Jadi Zona Sumber Gempa Paling Aktif di Papua

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Minggu 19 Januari 2020 12:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 19 337 2155021 bmkg-mamberano-jadi-zona-sumber-gempa-paling-aktif-di-papua-pGQifUl2Ol.jpg Ilustrasi Gempabumi (foto: Shutterstock)

JAKARTA - Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Kabupaten Jayapura dan Sarmi, Papua, Sabtu 18 Januari 2020 malam. Gempa dengan magnitudo M 6,1 ini terjadi menjelang tengah malam pada pukul 23.38 WIB.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, pusat gempa berada pada koordinat 2,77 LS dan 139,52 BT tepatnya di darat pada jarak 108 km arah Barat Kota Jayapura.

Baca Juga: Jayapura Diguncang Gempa Susulan Berkekuatan M 4,4 

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menerangkan, berdasarkan lokasi episenternya, tampak bahwa gempa ini diduga kuat dipicu oleh aktivitas Sesar Anjak Mamberamo. Karena episenternya di daratan, maka gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

"Dampak guncangan gempa ini dirasakan di Sentani dalam skala intensitas IV MMI, beberapa warga sempat terbangun dari tidur akibat gempa yang mengguncang tiba-tiba. Sementara itu di Jayapura dan Sarmi guncangan dirasakan mencapai skala intensitas III-IV MMI, Yahukimo dan Keerom III MMI, dan Wamena II-III MMI. Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan yang ditimbulkan gempa bumi tersebut," kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (19/1/2020).

Hingga saat ini hasil monitoring BMKG sudah mencatat sebanyak 10 kali gempa susulan. Gempa susulan dengan magnitudo paling besar mencapai M 5,2 dan terkecil M 2,7.

"Gempa ini juga memiliki satu gempa pembuka yang terjadi sebelum gempa utama dengan kekuatan M 4,3," ujarnya

Wilayah Kabupaten Jayapura dan Sarmi secara tektonik merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks. Disebut seismik aktif karena kedua wilayah ini memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang sangat tinggi. Disebut kompleks karena di wilayah ini memiliki banyak sebaran sumber gempa utama dengan berbagai segmentasi sesar dan splay (percabangannya).

Dalam buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), wilayah Kabupaten Sarmi dan Jayapura dilalui oleh struktur sesar aktif yaitu Sesar Anjak Mamberamo dengan magnitudo tertarget mencapai M 7,5. Para pakar asing terkadang menyebut zona sumber gempa aktif ini sebagai Mamberamo Deformation Zone (MDZ) atau Mamberamo Thrust and Fold Belt (MTFB).

"Karena kondisi tektonik yang aktif inilah maka wajar jika wilayah Sarmi dan Jayapura menjadi kawasan yang sangat rawan gempa dan paling aktif aktivitas kegempaannya di Papua. Sebelum terjadi gempa di Jayapura bermagnitudo 6,1 tadi malam, tahun 2019 lalu wilayah Sarmi juga sudah diguncang 2 kali gempa kuat yaitu pada 20 Juni 2019 M 6,3 dan 24 Juni 2019 M 6,1 yang menimbulkan kerusakan," paparnya.

Daryono menambahkan, wilayah Kabupaten Sarmi dan Jayapura dikenal memiliki sejarah panjang gempa kuat dan merusak di masa lalu. Tercatat dalam katalog gempa terdapat lebih dari 20 aktivitas gempa berkekuatan besar yang berdampak mencapai skala intensitas VI hingga IX MMI.

Dampak gempa dalam skala intensitas MMI (Modified Mercally Intensity), menunjukkan rata-rata bangunan tembok sederhana mengalami kerusakan ringan pada skala intensitas VI MMI, sedangkan pada skala intensitas VIII dapat memicu kerusakan sedang hingga berat.

Ilustrasi (foto: Shutterstock)

Baca Juga:  Jayapura Kembali Diguncang Gempa, Kali Ini Magnitudonya 5,2

"Satu hal yang menarik dan patut dicermati dari data tersebut di atas bahwa lokasi lokasi episenter gempa yang terjadi tadi malam sangat berdekatan dengan lokasi episenter gempa 26 Oktober 1926 M 7,6 dan Gempa 28 Mei 1968 M 7,5. Tampaknya ketiga gempa signifikan ini memang dipicu oleh sumber gempa yang sama, yaitu Sesar Anjak Mamberamo," papar dia.

Menurut Daryono, tingginya potensi gempa bumi di Sarmi dan Jayapura tidak perlu membuat masyarakat kecil hati dan khawatir berlebihan. Saat ini, lanjut dia, semua informasi terkait potensi gempa di wilayah ini harus direspon dengan langkah nyata dengan upaya memperkuat mitigasi guna meminimalkan dampak gempa bumi.

"Meskipun tinggal di daerah rawan gempa, kita tetap dapat hidup dengan aman dan nyaman karena yang paling penting dan harus dibangun adalah kapasitas mitigasinya, kesiapsiagaannya, kapasitas stakeholder dan masyarakat, serta menyiapkan infrastrukturnya yang tahan gempa," tuturnya.

Berikut catatan BMKG soal daftar gempa kuat yang disertai data magnitudo dan dampaknya dalam MMI sejak tahun 1921:

1. Gempa Sarmi 19 Februari 1921 berkekuatan M 6,9 berdampak VII MMI.

2. Gempa Sarmi 10 Oktober 1921 berkekuatan M 6,6 berdampak VII MMI.

3. Gempa Sarmi 16 September 1923 berkekuatan M 6,5 berdampak VIII MMI.

4. Gempa Jayapura 26 Oktober 1926 berkekuatan M 7,6 berdampak VII MMI.

5. Gempa Sarmi 10 November 1930 berkekuatan M 6,9 berdampak VII MMI.

6. Gempa Jayapura12 Juli 1939 berkekuatan M 6,5 berdampak VII MMI.

7. Gempa Jayapura 1 April 1940 berkekuatan M 6,6 berdampak VII MMI.

8. Gempa Sarmi 28 Mei 1940 berkekuatan M 6,6 berdampak VIII MMI.

9. Gempa Sarmi 19 September 1950 berkekuatan M 7,2 berdampak VII MMI.

10. Gempa Waropen 21 Agustus 1955 berkekuatan M 6,7 berdampak VII MMI.

11. Gempa Jayapura 28 Mei 1968 berkekuatan M 7.5 berdampak VIII MMI.

12. Gempa Jayapura 10 Januari 1971 berkekuatan M7,7 berdampak VIII-IX MMI.

13. Gempa Sarmi 24 Maret 1986 berkekuatan M 6,7 berdampak VII MMI.

14. Gempa Sarmi 20 April 1986 berkekuatan M 6,8 berdampak VIII MMI.

15. Gempa Sarmi 27 Juni 1987 berkekuatan M 6,6 berdampak VII MMI.

16. Gempa Sarmi 25 Oktober 1987 berkekuatan M 6,8 berdampak VIII MMI.

17. Gempa Sarmi 29 Juli 1998 berkekuatan M 6,7 berdampak VIII MMI.

18. Gempa Talikora 6 April 2013 berkekuatan M 7,0 berdampak VII-VIII MMI.

19. Gempa Sarmi 27 Juli 2015 berkekuatan M 7,0 berdampak VI MMI.

20. Gempa Sarmi 20 Juni 2019 berkekuatan M 6,3 berdampak IV MMI.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini