nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

"Pat Gulipat" Kasus Jiwasraya, Siapa Bertanggung Jawab?

Fahreza Rizky, Jurnalis · Sabtu 18 Januari 2020 15:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 18 337 2154765 pat-gulipat-kasus-jiwasraya-siapa-bertanggung-jawab-wqbAVL51sF.jpg Polemik Radio MNC Trijaya menggelar diskusi kasus Jiwasraya (foto: Fahreza Rizky/Okezone)

JAKARTA - Penulis buku Skandal Jiwasraya, Teddy Mihelde Yamin menduga ada permainan curang alias pat gulipat dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Asuransi Jiwasraya. Kasus ini disebut merugikan negara hingga Rp13,7 triliun.

"Jiwasraya seperti ini menurut analisa kita ada moral hazard, tentu didalamnya terkait kongkalikong, pat gulipat dan kerja sama dengan para pihak," kata Teddy dalam diskusi Polemik MNC Trijaya bertajuk "Jiwasraya dan Prospek Asuransi" di Hotel Ibis Tamarin, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (18/1/2020).

"Kalau orang yang bekerja di sekuritas, insurance tidak memegang moral yang benar, maka semuanya bisa dimainkan, saham itu gampang sekali di gorengnya," imbuh dia.

Baca Juga: Fakta Terkini Kasus Jiwasraya, Manipulasi hingga Penyelesaian 

Teddy menyebut ada kealpaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait adanya dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya. Pasalnya, OJK merupakan lembaga negara pengawas keuangan.

Sementara, Kejagung sendiri sudah mengambil langkah hukum dengan menetapkan lima orang tersangka pada kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Asuransi Jiwasraya. 

Baca Juga: Pekan Depan Kejagung Kembali Periksa Sejumlah Saksi Kasus Jiwasraya

Mereka yang dijadikan tersangka itu adalah eks Dirut PT Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya, Syahmirwan, Komisaris PT Hanson International Benny Tjokrosaputro, Presdir PT TRAM Heru Hidayat, dan eks Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan, dana nasabah yang belum kembali karena kasus gagal bayar yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya bakal dibayarkan secara bertahap.

Pemerintah saat ini sedang berupaya untuk memperbaiki tekanan likuiditas yang terjadi di perusahaan pelat merah itu. Salah satunya, melalui pembentukan holding sektor asuransi. Holding ini diperkirakan bakal menambah likuiditas Jiwasraya senilai Rp1,5 triliun.

"Jadi kan ada step-nya, seperti pembentukan holding itu nanti akan ada cashflow Rp1,5 triliun, jadi bisa cicil (dana nasabah) ke depannya," kata Erick di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis 9 Januari 2020.

Selain dari pembentukan holding, upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan melepaskan aset-aset Jiwasraya sehingga menambah keuangan perseroan. Kendati demikian, Erick enggan menjelaskan aset apa yang berpotensi untuk dilepas.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini