nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Keraton Agung Sejagat & Sunda Empire Muncul karena Feodalisme Bangkit Lagi

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Sabtu 18 Januari 2020 06:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 18 337 2154614 keraton-agung-sejagat-sunda-empire-muncul-karena-feodalisme-bangkit-lagi-GYtwvgpjlY.jpg Keraton Agung Sejagat di Purworejo. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Kemunculan kerajaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah dan Sunda Empire menghebohkan publik. Masyarakat pun bertanya-tanya kenapa hal seperti ini bisa muncul di zama moderen.

Menurut Sosiolog asal Universitas Nasional (UNAS), Sigit Rochadi, fenomena tersebut muncul karena adanya pemikiran feodal atau sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat. Kata Rochadi, pemikiran ini muncul karena ada upaya masyarakat kelas bawah yang ingin naik derajatnya.

"Ini akibat refeodalisme. Bangkitnya 'keraton-keraton' di beberapa daerah bentuk gejala refeodalisme. Sistem ini bangkit kembali sebagai upaya kelompok bawah 'naik kelas'," ujar Sigit saat dikonfirmasi Okezone, Sabtu (18/1/2020).

Baca juga: Setelah Keraton Agung Sejagat, Kini Heboh Kemunculan Sunda Empire

Mereka-pencetus Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire-, kata Sigit, belum mampu menggunakan modal dan kemajuan tekhnologi untuk 'naik kelas'. Oleh karenanya, Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire menggunakan cara-cara atau pemikiran lama dengan pemahaman pembelian status.

Foto: Istimewa

"Dengan menggunakan saluran umum seperti teknologi dan modal, kelompok ini tidak akan mampu. Maka mereka 'membeli' status dengan berbagai gelar dan pangkat. Mereka menghidupkan kembali struktur masa lalu sebagai saluran mobilitas vertikal. Dengan cara ini mereka merasa naik kelas, punya prestis dan mendapatkan kebanggaan," ucapnya.

Sigit menilai para pencetus kelompok tersebut piawai dalam mempengaruhi orang lain. Sehingga, banyak masyarakat awan yang terbujuk untuk ikut, biasanya dengan janji menjadi kaya atau mempunyai derajat yang lebih tinggi dari masyarakat lainnya.

"Bujukan disampaikan dengan iming-iming harapan perubahan kehidupan nyata, misal tambah kekayaan, punya derajat, dan lain-lain. Biasanya saluran yang digunakan selain tradisi adalah agama," ungkapnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini