nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dokter Kanwil Kemenkumhan Jabar Diperiksa KPK Terkait Dugaan Suap di Lapas Sukamiskin

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Kamis 16 Januari 2020 11:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 16 337 2153632 dokter-kanwil-kemenkumhan-jabar-diperiksa-kpk-terkait-dugaan-suap-di-lapas-sukamiskin-az1mMgc6Yz.jpg Ilustrasi Korupsi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil salah satu tenaga dokter Kanwil Kemenkumham Jawa Barat R. Beni Benardi, untuk diperiksa terkait dengan kasus dugaan suap jual-beli fasilitas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung.

Sedianya, dia akan diperiksa untuk melengkapi berkas penyidikan untuk tersangka eks Kalapas Sukamiskin Wahid Husen.

"Yang bersangkutan akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Secara paralel, penyidik lembaga antirasuah juga memanggil satu saksi lainnya, yakni Wiraswasta Intan Noor Fitri. Dia diperiksa untuk tersangka Rahadian Azhar.

"Dia juga diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi," ujar Ali.

ali

Baca Juga: Kasus Suap Jual-Beli Fasilitas, Eks Kalapas Sukamiskin Diperiksa KPK

KPK melakukan pengembangan terkait kasus dugaan jual-beli fasilitas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Mengingat, dalam proses penyelidikan pihaknya menemukan adanya keterlibatan pihak lain.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan lima orang tersangka. Mereka adalah, Wahid Husen dan Deddy Handoko yang merupakan mantan Kalapas Sukamiskin, terpidana Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, Direktur Utama PT Glori Karsa Abadi Rahadian Azhar, dan Alm Fuad Amin.

Untuk tersangka Alm Fuad Amin dihentikan karena telah meninggal dunia di tengah proses penyidikannya. Dalam proses penyidikan ini, KPK menduga telah terjadi pemberian beberapa mobil mewah dari narapidana kepada Kalapas Sukamiskin ketika itu.

Pemberian dari narapidana kepada Kalapas Sukamiskin itu diduga kuat agar warga binaan mendapatkan fasilitas yang mewah dan bebas keluar masuk dari balik jeruji besi.

Dalam perkara ini, Wahid Husen dan Deddy Handoko disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Lalu, untuk Wawan dan Alm Fuad Amin dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan, Rahadian disangkakan melanggar disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini