KPK Persilakan DKPP Gelar Sidang Etik Wahyu Setiawan di Kantornya

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 15 Januari 2020 11:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 15 337 2153106 kpk-persilakan-dkpp-gelar-sidang-etik-wahyu-setiawan-di-kantornya-KtzBkQp76d.jpg Gedung KPK (Foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempersilakan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menggelar sidang etik terhadap Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Wahyu Setiawan di kantornya. Namun, untuk tempat dan waktu sidang etik, KPK menyerahkan ke DKPP.

"Untuk kegiatan DKPP, tadi sudah datang ke KPK untuk koordinasi. Prinsipnya, KPK memberikan izin giat dimaksud, akan memfasilitasi tempat di KPK, selebihnya mengenai hal-hal lain, termasuk ruangan dan tempatnya, konfirmasi langsung saja ke DKPP," kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Rabu (15/1/2020).

Diberitakan sebelumnya, DKPP akan menggelar sidang etik terhadap Wahyu Setiawan. Wahyu sendiri sudah menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Komisioner KPU lantaran terjerat kasus korupsi di KPK.

"Pengunduran diri adalah haknya saudara WS, secara administratif kepada Presiden. Tetapi, WS sepanjang belum diberhentikan dalam sebuah surat keputusan, itu masih sebagai komisioner, sebagai anggota KPU," kata Plt Ketua DKPP, Muhammad.

ali Fikri
(Foto: Plt Jubir KPK Ali Fikri/Okezone)

Baca Juga: OTT Wahyu Setiawan, KPU Tak Ambil Pusing soal Cecaran Johan Budi

Wahyu Setiawan merupakan tersangka penerima suap pemulusan proses Pergantian Antar Saktu (PAW) Anggota DPR. Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama tiga orang lainnya.

Ketiga orang lainnya tersebut yakni, Mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF), mantan Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Harun Masiku (HAR) dan pihak swasta, Saeful (SAE).

Wahyu dan Agustiani ditetapkan oleh KPK sebagai pihak penerima suap. Sedangkan Harun dan Saeful merupakan pihak yang memberikan suap.

Dalam perkara ini, Wahyu diduga meminta fee sebesar Rp900 juta untuk meloloskan Harun Masiku sebagai anggota DPR pengganti Nazarudin Kiemas yang telah meninggal dunia. Namun Wahyu baru akan menerima Rp600 Juta dari proses pelolosan tersebut.

Uang Rp600 Juta dibagi dalam dua tahapan. Pada tahapan pertama, ada aliran suap Rp400 juta yang saat ini masih didalami sumbernya. Hanya saja, Wahyu hanya menerima senilai Rp200 Juta dari total Rp400 Juta. Sisanya atau senilai Rp200 Juta, diduga digunakan oleh pihak lain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini