nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polri Sebut Peretas Situs PN Jakpus Simpati dengan Kasus Luthfi Alfiandi

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Senin 13 Januari 2020 16:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 13 337 2152363 polri-sebut-peretas-situs-pn-jakpus-simpati-dengan-kasus-luthfi-alfiandi-3qJmMMQv0P.png Polri saat jumpa pers penangkapan peretas situs PN Jakpus (foto: Okezone.com/Putera)

JAKARTA - Direktorat Siber Bareskrim Polri menangkap dua orang yakni, CA alias Yusa (24) dan AY alias Konslet (22), yang diduga sebagai pelaku peretasan terhadap situs resmi dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).

Kasubdit II Direktorat Siber Bareskrim Polri, Kombes Reinhard Hutagaol mengungkapkan, pelaku meretas website milik PN Jakpus lantaran merasa simpati dengan seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Luthfi Alfiandi yang menjadi terdakwa kerusuhan saat demo di DPR 30 September 2019 lalu.

"AY merasa simpati kasus Luthfi sedang disidang PN Jakpus. AY meminta bantuan ke CA karena AY tak temukan titik lemah pada situs PN Jakpus," kata Reinhard dalam jumpa pers di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Senin (13/1/2020).

Baca juga: 2 Peretas Situs PN Jakpus Ditangkap Bareskrim Polri

 

Luthfi merupakan seorang demonstrasi yang membawa bendera merah putih saat aksi di DPR. Dia ditangkap dan saat ini kasusnya sedang bersidang di PN Jakpus.

 Peretasan PN Jakpus

Selain simpati, Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra mengungkapkan bahwa, pelaku melakukan peretasan juga dilandasi dengan motif lainnya. Antara lain, aktualisasi diri dan kejahatan perbankan berupa kartu kredit

"Motifnya adalah aktualisasi diri kebanggan. Ada motivasi ekonomi dengan kemampuannya melakukan kejahatan siber di kartu kredit. Pelaku hidupnya mewah, dan dapatkan keuntungan besar," papar Asep dikesempatan yang sama.

 Baca juga: Curhatan Cinta Hacker Website KPU Bantul

Dalam hal ini, diketahui CA hanya merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD). Sedangkan, AY lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Di sisi lain, Ketua PN Jakpus Yanto menyebut, pihaknya mendapatkan kerugian yang banyak dari peretasan tersebut. Namun, kata dia, data Sistem Informasi Penerusan Perkara (SIPP) tidak berpengaruh.

"Saya dapat kabar kemarin sore. Dua orang pelaku sudah tertangkap. Ternyata pendidikannya SD, tapi ternyata jenius," ujar Yanto.

Sekadar diketahui, website Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Jakarta Pusat diduga diretas, pada Kamis 19 Desember 2019 silam. Halaman muka situs tersebut menampilkan gambar orang yang membawa bendera merah putih saat aksi beberapa waktu lalu.

Atas perbuatannya, CA dan AY pun dikenakan Pasal 46 ayat (1), (2), dan (3), Jo Pasal 30 ayat (1), (2), dan (3), Pasal 48 ayat (1) Jo Pasal 32 ayat (1), (2), dan Pasal 49 Jo Pasal 33 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Eletronik, dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini