nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menteri LHK Terjunkan Tim Investigasi Pasca-Banjir dan Longsor di Bogor

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis · Sabtu 11 Januari 2020 05:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 11 337 2151652 menteri-lhk-terjunkan-tim-investigasi-pasca-banjir-dan-longsor-di-bogor-GxSNsqRtd9.jpg Menteri LHK Siti Nurbaya (Foto: Okezone/Putra R)

BOGOR - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengerahkan tim penegak hukum untuk melakukan investigasi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Tim tersebut akan mencari penyebab banjir dan longsor di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang terjadi pada awal 2020.

"Kalau TNGHS itu kan luasnya 80-87 ribu hektare itu mungkin yang terbuka dipakai untuk pertambangan tanpa izin mungkin sekitar 15 ribuan hektare dan perambahan. Sekarang tim saya lagi turun kok tim penegakan hukum," kata Siti, Jumat (10/1/2020).

Longsor di Bogor 

Tidak hanya itu, Kementerian LHK juga berencana menggandeng Bareskrim Polri, jika ditemukan pelanggaran hukum atau tindak pidana di kawasan tersebut.

"Iya, (nantinya dengan Bareskrim) sekarang KLHK dulu, lagi investigasi," tegas Siti.

Baca Juga: Anies Minta Jajarannya Beri Peringatan Banjir dengan Cara Door to Door

Siti menambahkan, terkait bencana bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) memiliki perbedaan persoalan dan penanganan.

"Dari KLHK banjir Lebak, Bogor sebetulnya sih kaitannya beda antara Jakarta dengan daerah penyanggga, kemudian ke sana lagi di Halimun Salak itu beda persoalan dan mengurusnya karena DAS-nya juga beda ada Ciberang dan Cidurian," ungkapnya.

Khusus di aliran Sungai Cidurian, tambah Siti, perlu adanya bangunan konservasi air dan tanah serta dibuatkan bronjong untuk menahan air. Kemudian, persoalan sampah dan penambangan ilegal juga masuk ke dalam persoalan di wilayah tersebut.

"Yang Cidurian itu langkahnya RHL tapi nanem aja enggak cukup karena harus ada bangunan konservasi tanah dan air jadi geroak itu ditutup terus bikin bronjong-bronjong untuk nahan arus air kemudian sampah dan pertambangan tanpa izinnya," tuturnya.

Baca Juga: 8 Desa di Jasinga Bogor Diterjang Banjir Luapan Sungai Cidurian

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini