nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

"Menjadi Penjaga Kamar Mayat Adalah Berkah Tuhan"

Adi Rianghepat, Jurnalis · Sabtu 11 Januari 2020 09:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 10 337 2151535 menjadi-penjaga-kamar-mayat-adalah-berkah-tuhan-MqjeKbZj8V.jpg Okto Boimau tetap setia dengan pekerjaannya sebagai petugas kamar mayat (Foto: Okezone/Adi)

KUPANG - Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya akan mengemban tugas sebagai penjaga kamar jenazah sekaligus merawat jenazah yang saban hari datang ke ruangan itu.

Adalah Okto Boimau, seorang pegawai rendah di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakoni profesi 'seram' itu hampir satu dekade lamanya. Tak ada rasa takut, khawatir dan rasa sejenisnya. Bapak dua anak itu bahkan mengaku pekerjaan yang dijalaninya itu adalah berkah dari Tuhan.

"Mungkin karena sudah biasa jadi saya tak pernah merasa takut atau jijik atau seram atau rasa sejenisnya. Saya malah merasa biasa saja," kata Okto dalam sebuah perbincangan dengan Okezone di kawasan RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, sudah sejak 1990, alumni SMA Negeri 3 Kupang itu mulai menjajaki aksinya di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. Meskipun hanya sebagai pegawai tidak tetap alias honorer, namun Okto mengaku melakoni setiap tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab.

Lipsus Kamar Mayat (Foto: Okezone)

Awal bergabung di rumah sakit tersebut, pemilik cita-cita guru ini oleh manajemen dipercayakan mengurus hal-hal umum termasuk mengurus para orang sakit. Bukan sebagai pemeriksa atau paramedis, namun Okto ditugasi membantu paramedis mengurus pasien di kamar dan bangsal.

Maklum hanya berijazah SMA umum. Di titik inilah, Okto mengaku belajar menjadi familiar dengan orang sakit dan bahkan jenazah yang meninggal di ruangan perawatan. "Ini mungkin jalan dan berkah yang Tuhan berikan kepada saya belajar mengenal dan merawat orang sakit hingga akhirnya dipilih mengurus jenazah dan menjaga kamar jenazah," tuturnya.

Dalam perjalanan sebagai karyawan honor di rumah sakit rujukan provinsi berbasis kepulauan itu, oleh manajemen Okto lalu dipercai menjadi petugas penjaga kamar jenazah atau instalasi pemulasaran jenazah (IPJ).

Bahkan, Badan Kepegawaian Negara (BKN) menerbitkan surat keputusan (SK) khusus kepada pria kelahiran Naileu, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada 26 Oktober 1967 itu sebagai petugas khusus Instalasi Pemulasaran Jenazah pada RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang. Terhitung sejak 2003 itulah Okto Boimau lalu diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan tugas khusus tersebut.

Hari demi hari pekerjaan itu dilakukan, meskipun harus menemui banyak tantangan. Tantangan terberat di awal melakoni tugas itu ketika harus menerima jenazah dengan kondisi yang sudah rusak, berulat dan hancur alias tak utuh lagi karena kecelakaan. Namun begitu karena sudah menjadi tugas, maka semuanya dilalui dengan penuh tanggung jawab.

"Semua jenazah dengan kondisi apapun yang datang saya urus, saya mandikan lalu saya kremasi (formalin) agar bisa layak diterima keluarga," katanya.

Memang butuh waktu lama untuk menjadi peduli. Peduli akan tugas yang sedang diemban dan peduli atas jenazah yang ada, apapun kondisinya. Pada kondisi ini, lanjut Okto dia lalu mengubah cara pandangnya berkerja menjalankan tugasnya menjaga dan mengurus jenazah.

Ilustrasi

"Tidak sekadar menunaikan tanggung jawab, namun lebih itu saya bekerja dengan penuh hati. Urus jenazah harus dilakukan dengan hati tidak sekadar dengan otak semata," katanya tegas.

Lebih jauh Okto mengaku telah mengubah seluruh rasanya saat bertugas mengurus jenazah. Perasaan ikut memiliki jenazah dan ikut berduka bersama keluarga duka. Merasa seperti keluarga sendiri itulah yang akhirnya mendoronya untuk merawat (mengkremasi) jenazah dengan penuh tanggung jawab.

"Jenazah yang rusak dan tak lengkap lagi anggota tubuhnya dirawat dan dibikin sedemikan agar tak lagi seram dan mau diterima keluarga," katanya.

"Ada keluarga yang karena jenazahnya hancur dan sudah rusak agak enggan menerima jenazahnya. Tetapi saya mencoba membikin sedemikian sehingga kesan mengerikan hilang sehingga keluarga mau menerimanya," tambah Okto.

Puluhan ribu sudah jenazah yang dia tanganani dengan berbagai kondisi, jenis dan modelnya. Banyak pengalaman yang memicu kesan pun datang. Banyak pengalaman dan momentum yang tak bisa terlupakan. Salah satu di antaranya ketika harus menyatukan kembali tengkorak kepala pecah dan leher yang hampir putus dari seorang anggota polri karena sebuah kecelakaan maut.

"Semua itu menjadi pengalaman dan catatan panjang di lakon aksi saya ini," katanya.

Dari pengalaman itulah, ditambah dengan cara pandang saat melaksanakan tugasnya itu, Okto mengaku tak pernah sedikit atau sekalipun diganggu oleh 'para jenazah' itu. Bahwa ada pandangan banyak kalangan tentang makluk lain usai kematian seseorang, menurut Okto hanya sebuah mitos dan bahkan halusinasi.

"Tak pernah saya diganggu sedikitpun, itu hanya halusinasi orang saja. Kalau pun ada makluk lain, masa mau ganggu saya sedangkan saya sudah mengurusnya sejak memandikannya, memakaikan pakaian dan menyuntiknya. Kan tentu tidak mungkin karena saya sudah berlaku baik kan," katanya sedikit berseloroh.

Berbekal pengalaman dengan mengurus puluhan ribu jenazah itu, Okto Boimau lalu mendapatkan penghargaan dan sertifikasi dari Disaster Victim Identification (DVI), serta sertifikat Manajemen Pemulasaran jenazah.

"Saya bersyukur bisa dihargai dengan sejumlah sertifikat itu. Memang puluhan ribu sudah jenazah yang saya urus. Setahun rata-rata ada 1.000 lebih jenazah yang saya urus jadi bisa dihitung saja jumlahnya," katanya.

Jelang enam tahun Okto Boimau akan pensiun. Di titik ini, Okto Boimau berharap manajemen rumah sakit bisa mempertimbangkan untuk tidak memindahkan atau mengalih tugaskannya ke divisi atau bidang lain, selain hanya di IPJ karena itulah tugas yang diberikan negara melalui BKN kepadanya dengan SK yang ada. Dia berharap bisa purna tugas di posisi sebagai pengurus jenazah dan penjaga kamar jenazah di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, karena itulah panggilannya.

"Ini sudah jalan panggilan saya. Saya dipilih Tuhan untuk tugas ini dan biarlah saya selesaikan tugas saya hingga purna tugas," katanya bertutur.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini