nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hasil Investigasi KNKT, Sopir Bus Sriwijaya Gagal Lakukan Pengereman Sebelum Jatuh

Demon Fajri, Jurnalis · Jum'at 10 Januari 2020 11:23 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 10 337 2151386 hasil-investigasi-knkt-sopir-bus-sriwijaya-gagal-lakukan-pengereman-sebelum-jatuh-C9YzfhS8Gj.jpg KNKT cek kondisi bus di PO Sriwijaya Ekspres Pratama (Foto: Okezone/Demon)

BENGKULU - Tim Investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), menemukan titik terang penyebab kecelakaan bus Sriwijaya Express-Pratama, di liku Lematang Indah Desa Perahu Dipo, Kecamatan Dipo Selatan Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan (Sumsel), yang terjadi pada Selasa 24 Desember 2019.

Di mana beberapa penyebab kecelakaan disimpulkan berdasarkan hasil keterangan saksi, melihat geometrik Jalan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang-Pagar Alam, Sumsel, keterkaitan dengan sistem kerja Kendaraan Bermotor, temuan pada kendaraan serta kronologis kegagalan pengereman bus Sriwijaya.

Pimpinan Tim Investigasi KNKT, Ahmad Wildan mengatakan, ada beberapa faktor penyebab kecelakaan tunggal mobil Bus Sriwijaya. Salah satunya, adanya kegagalan pengereman, brake fading atau tekanan angin tekor.

Baca Juga: Bus Sriwijaya Ternyata Tak Punya Trayek ke Palembang

Kegagalan pengereman itu, terang Wildan, dipicu karena sopir mengemudi dengan tidak menggunakan prosedur dengan benar. Selain itu, kata dia, kondisi teknis mobil bus yang di bawah standar.

Penyebab lainnya, terang Wildan, desain pagar pengaman jalan pada jembatan Lematang, perlu direview. Seperti, penggunaan Concrete Barrirer (CB) yang lebih kecil dibandingkan dengan di bagian tengah (gaya sentrifugal terletak pada CB yang kecil).

''Hasil investigasi kecelakaan tunggal bus Sriwijaya sudah saya paparkan di Kemenhub,'' kata Wildan, ketika di konfirmasi, Kamis, 9 Januari 2020.

Bus Sriwijaya

Dari kesimpulan tersebut, terang Wildan, KNKT memberikan beberapa poin rekomendasi yang musti dilakukan. Mulai dari perbaikan pagar pengaman jalan, edukasi dan sosialisasi secara masif tentang prosedur mengemudi (jangka pendek) serta memasukkan topik prosedur mengemudi pada ujian teori dan praktek SIM B1 dan B2 (menengah).

Tidak hanya itu, lanjut Wildan, pihaknya juga merekomendasi prosedur mengemudi dan pemahaman tentang sistem rem.

Selanjutnya, melakukan survei inspeksi keselamatan jalan pada ruas jalan Manna, Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu-Pagar Alam-Palembang, Sumsel, untuk mengidentifikasi risk dan hazard serta menyusun program mitigasinya.

Terakhir, rekomendasi program pilot project implementasi Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) angkutan umum (jangka pendek), mengevaluasi secara komprehensif implementasi SMK angkutan umum pada perusahaan angkutan umum (jangka menengah), dan menjadikan SMK sebagai syarat utama diberikannya izin trayek (jangka panjang).

Catatan rekomendasi itu, sambung Wildan, akan disampaikan ke Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubdat Kemhub), Balai Jalan dan Jembatan, Sumsel.

''Ini adalah laporan pendahuluan, rekomendasi segera disampaikan. Nanti masih ada proses analisa lebih lanjut. Dari Kementerian Perhubungan sudah membuat langkah-langkah cepat, untuk menindaklanjuti rekomendasi KNKT tersebut,'' jelas Wildan.

''Ditjen Darat akan membuat pilot project pembinaan SMK terhadap 26 perusahaan. Rencananya, dimulai pada Februari 2020, untuk menindaklanjuti rekomendasi KNKT,'' sambung Wildan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini