nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KNKT Sebut Kecelakaan Maut Bus Sriwijaya Akibat Geometrik Jalan

Demon Fajri, Jurnalis · Jum'at 10 Januari 2020 12:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 10 337 2151382 knkt-sebut-kecelakaan-maut-bus-sriwijaya-akibat-geometrik-jalan-nEiO2xht0l.jpg (Foto: Basarnas Sumsel)

BENGKULU - Kecelakaan tunggal bus Sriwijaya Express Pratama di Jalan Lintas Pagar Alam-Lahat KM 9, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), pada 24 Desember 2019, menyebabkan 41 orang tewas dan 13 orang menderita luka berat. Pimpinan Tim Investigasi KNKT, Ahmad Wildan mengatakan penyebab kecelakaan ditengarai karena geometrik jalan.

Terdapat beberapa lengkung vertikal di ruas jalan di lokasi kejadian, baik cembung maupun cekung dengan kelandaian antara 3 sampai dengan 6 persen yang mendekati titik jatuh. Selain itu terdapat beberapa tikungan dan superelevasi yang didesain berdasarkan desain speed, untuk jalan kelas III.

''Di sana terdapat fasilitas jalan, namun kurang memadai,'' kata Wildan, saat dikonfrmasi, Kamis 9 Januari 2020.

Kecelakaan juga, kata Wildan, berhubungan dengan keterkaitan dengan sistem kerja Kendaraan Bermotor (KB). Di mana pada bus flexible hose kompresor (selang kompresor) ke tabung angin putus dan terikat karet. Kondisi ini berdampak pada suplai angin ke tabung angin berkurang.

Foto: KNKT

''Saat dilakukan pemeriksaan katup tabung angin masih baik, namun saat dibuka sudah tidak ada anginnya. Artinya mobil bus saat kecelakaan sudah kehabisan angin,'' ujar Wildan.

Hal itu bisa memicu kecelakaan karena tekanan angin pada mobil besar sangat penting. Sebab, angin pada kendaraan digunakan untuk pengereman serta keperluan komponen lain, seperti kopling dan pemindah tuas.

“Jika tekanan di bawah 6 bar, maka buzzer akan berbunyi, dan indikator pada meter kombinasi muncul. Hal tersebut menyebabkan pemindahan gigi akan susah, pedal rem keras sekali penginjakan pedal rem, akibatnya tekanan angin pada tangki angin berkurang (0.2 bar). Pada kondisi angin di bawah 6 bar masalah yang muncul adalah kopling akan keras di injak,'' pungkas Wildan.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini