nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ungkap Penyebab Kecelakaan Bus Sriwijaya, KNKT: Tromol Bus Berubah Bentuk

Demon Fajri, Jurnalis · Jum'at 10 Januari 2020 11:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 10 337 2151377 ungkap-penyebab-kecelakaan-bus-sriwijaya-knkt-tromol-bus-berubah-bentuk-iIy6TeqN9B.png Tromol roda Bus Sriwijaya berubah bentuk (Foto: Okezone/Demon)

BENGKULU - Pimpinan Tim Investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan mengatakan, bus Sriwijaya Express-Pratama yang mengalami kecelakaan di Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan, mengalami beberapa perubahan pada bentuk badan bus. Salah satunya ditemukan tromol bus sudah berubah bentuk (ovality). Hal tersebut ditandai dengan permukaan yang kasar dan tidak rata.

"Ini menunjukkan telah terjadi overheat pada tromol," kata Wildan, saat dikonfirmasi, Kamis 9 Januari 2020.

Tidak hanya itu, terang Wildan, permukaan kampas di empat roda tidak sama, tidak ditemukan kampas rem tangan pada propeller shaft. Artinya, mobil bus tidak dilengkapi dengan hand brake. Bahkan, valve exhaust brake pada knalpot tidak terpasang.

Bus Sriwijaya

''Pada beberapa kasus brake fading, saat pengemudi kegagalan pengereman selalu berusaha memindahkan gigi ke gigi rendah dan dapat dipastikan gagal dan masuk ke gigi netral,'' jelas Wildan.

Wildan mengatakan, kondisi teknis mobil bus juga tidak dilengkapi dengan exhaust brake, dan system supply angin dari kompresor ke tabung angin tidak sempurna. Wildan menduga, tekanan angin sebelum berangkat usai istirahat di rumah makan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, kurang dari sembilan bar dan berkurang dengan cepat.

Selain itu, kata Wildan, pengemudi mengantisipasi turunan dan tikungan tajam, hanya dengan menggunakan service brake. Sehingga muncul brake fading dan tekanan angin tekor.

Baca Juga: Bus Sriwijaya Ternyata Tak Punya Trayek ke Palembang

Wildan menduga, saat mendekati titik jatuh ke jurang di jalan Lintas Pagar Alam - Lahat Kilometer (Km) 9, Kota Pagar Alam, sopir mencoba mengerem. Namun, mengalami masalah.

Diduga pedal dapat diinjak, akan tetapi bus tidak berhenti (brake fading), atau pedal tidak dapat diinjak karena keras (tekanan angin tekor), atau rem blong. Selain itu, saat mengalami masalah dengan rem sopir mencoba memindahkan tuas perseneling ke gigi rendah itu pun gagal karena angin tekor.

Hal tersebut disebabkan, syncromesh tidak mampu bekerja karena terdapat perbedaan yang tinggi antara putaran mesin dengan putaran roda. Dampaknya, gigi persnelling masuk ke posisi netral.

''Pengemudi tidak mampu mengendalikan kendaraannya dan terjun ke jurang,'' pungkas Wildan.

Sebagaimana diketahui, kecelakaan tunggal bus Sriwijaya Express-Pratama, terjadi pada Senin 24 Desember 2019, bus dengan nomor kendaraan BD 7031 AU itu berangkat dari pool bus di Kota Bengkulu menuju Palembang, sekira pukul 14.01 WIB, dengan membawa 27 penumpang.

Di tengah jalan jumlah penumpang bertambah menjadi 50 orang. Mobil bus diawaki 2 orang pengemudi dan 2 orang pembantu pengemudi. Sekira pukul 23.46 WIB, saat hendak melewati jembatan Lematang, mobil bus kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan, selanjutnya terjun ke dalam jurang sedalam 100 meter. Di mana kondisi cuaca saat itu hujan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini