nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jokowi Ingin Dubes Berperan sebagai Duta Ekspor Produk Indonesia

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Kamis 09 Januari 2020 13:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 09 337 2151029 jokowi-ingin-dubes-berperan-sebagai-duta-ekspor-produk-indonesia-oNv4bxca9S.jpg Presiden Jokowi bersama para duta besar. (Foto: Biro Pers Setpres)

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meningkatkan ekspor guna mengatasi persoalan defisit neraca perdagangan Indonesia. Salah satu langkah Jokowi untuk mengatasi persoalan tersebut dengan mendorong para duta besar turut berperan sebagai duta ekspor bagi negara.

Menurut dia, salah satu penyebab defisit neraca perdagangan yang tidak kunjung selesai lantaran selama bertahun-tahun Indonesia selalu fokus pada pasar-pasar tradisional dan negara-negara besar saja seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, atau China. Padahal, potensi pasar-pasar lain di dunia masih sangat besar untuk digarap.

Baca juga: Buka Raker Perwakilan RI, Jokowi Ingin Dubes Fokus Diplomasi Ekonomi 

"Sekarang justru negara-negara yang sedang berkembang, yang pertumbuhan ekonominya di atas 5 persen, itu banyak sekali. Memang tidak besar, kecil-kecil, tapi kalau dikumpulkan juga akan menjadi sebuah jumlah yang sangat besar," ujar Jokowi dalam raker Kepala Perwakilan Republik Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (9/1/2020).

Jokowi bersama para duta besar. (Foto: Biro Pers Setpres)

Potensi pasar nontradisional tersebut misalnya di negara-negara Afrika. Di sana banyak negara yang ekonominya tumbuh di atas 5 persen. Terkait hal itu, Jokowi meminta para dubes jeli melihat dan menginformasikan peluang yang ada di sana.

"Ini tolong betul-betul dilihat dan diinformasikan ada peluang apa di situ? Sehingga di sini mengerti dan bisa mengolah. Kementerian Luar Negeri mendapatkan informasi, diolah dalam rapat terbatas, kemudian kita putuskan siapa yang harus menyelesaikan itu, barangnya yang dibutuhkan apa. Intelligent marketing seperti ini yang diperlukan sekarang, sehingga kita bisa masuk ke pasar-pasar Afrika, produk-produk apa yang diperlukan di sana, bisa masuk," jelasnya.

Baca juga: Jokowi Ingin Pemerintah dan Pemda Bersinergi dalam Penanganan Banjir 

Jokowi menyebut bahwa pasar-pasar di Afrika potensial untuk produk-produk usaha kecil dan menengah Indonesia. Hal itu mengingat negara-negara di sana belum menerapkan standar kualitas yang terlalu ketat.

"Yang saya senang sebetulnya kalau kita bisa masuk ke pasar-pasar di Afrika itu, yang banyak itu produknya usaha kecil dan menengah itu bisa masuk ke sana. Karena apa? Untuk urusan kualitas masih belum memiliki standar yang sangat ketat," imbuhnya.

Selain Afrika, Jokowi melihat negara-negara di Asia Tengah, Asia Selatan, dan Eropa Timur juga memiliki potensi besar. Maka itu, ia meminta para dubes yang bertugas di negara tersebut bisa mengidentifikasi peluang yang ada.

"Perintahkan staf-staf yang berkaitan dengan ini untuk melihat, untuk mencari tahu, mencari data, siapa yang memerlukan, jumlahnya berapa, namanya siapa. Semuanya harus teridentifikasi dan kita tahu betul," sambungnya.

Baca juga: Jokowi: Natuna adalah Simbol Indonesia! 

Jokowi memaparkan, saat ini kualitas produk-produk Indonesia sudah lebih kompetitif dibanding produk-produk China. Ia menilai produk Tanah Air tidak perlu takut jika harus berkompetisi dengan produk lainnya di pasar global.

Dia ingin tujuan besar dari diplomasi ekonomi dengan menjadikan dubes sebagai duta ekspor adalah untuk membangun kepercayaan dari negara-negara lain. Oleh karena itu, Jokowi ingin agar para dubes mencurahkan 70–80 persen dari aktivitasnya pada diplomasi ekonomi.

"Tadi saya sampaikan bahwa diplomasi ekonomi ini menempati 70–80 persen, apa yang harus kita pikirkan dan kita curahkan. Sisanya silakan isi dengan kegiatan-kegiatan yang lainnya yang berkaitan mungkin dengan pariwisata, diplomasi perdamaian, diplomasi kedaulatan. Karena ke depan yang ingin kita bangun itu kepercayaan, itu yang ingin kita bangun," jelasnya.

Baca juga: Disumpah di Depan Jokowi, Daniel dan Suhartoyo Resmi Jadi Hakim MK 

Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mampu stabil berada di atas 5 persen dalam lima tahun terakhir bisa menjadi modal bagi para dubes untuk mempromosikan Indonesia. Tidak hanya itu, inflasi yang terkontrol dan bahkan bisa turun dari 9 persen hingga sekarang di posisi 3 persen juga menjadi modal besar.

"Dua ini menjadi modal besar kita. Kenapa investasi negara lain menengok kita? Karena dua hal ini, dan mungkin angka-angka yang lainnya, angka kemiskinan, gini ratio. Tapi dua hal itu jangan kita enggak bisa bercerita mengenai turunnya inflasi, stabilitas growth yang kita miliki. Sering kita tidak tahu modal besar yang kita pakai dalam membangun trust negara kita," ungkapnya.

Terakhir, Kepala Negara meminta para dubes juga mampu melihat dan menginformasikan inovasi yang ada di negara tempatnya bertugas. Dengan demikian, Indonesia bisa mempelajari inovasi tersebut, tidak memulai dari nol, untuk kemudian dikembangkan dan diterapkan.

"Kalau kita memulai dari basic-nya ya enggak akan ketemu sampai kapan pun. Karena kita ingin amati, pelajari, kembangkan, dan langsung terapkan. Inilah yang kita perlukan. Jadi kalau ada inovasi di sebuah negara, misalnya di Amerika ada sesuatu yang baru mengenai AI (artificial intelligence). AI kita belajar belum rampung sudah keluar yang baru lagi. Barang baru ini apa? Informasikan," jelasnya.

Baca juga: Ketika Jokowi Kenakan Jas Hujan Pemberian Korban Banjir Sukajaya 

Oleh sebab itu, kata Jokowi, para dubes harus terus mencari peluang-peluang, membuka jejaring seluas mungkin, mengenali karakter-karakter pasar, memetakan peluang-peluang itu, dan menginformasikan ke kementerian. Di samping itu, ia meminta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membuat key performance indicator (KPI) yang jelas dan terukur.

"Biar jelas yang berprestasi sama yang tidak, yang harus diganti sama yang tidak itu harus jelas. Nanti kalau enggak, kita business as usual saja. Enggak akan negara ini maju kalau kita seperti itu. Ada evaluasinya. Mana yang kita koreksi, mana yang harus kita perbaiki. Baik di sisi dalam negeri, kementerian-kementerian, maupun duta besarnya. Saya kira kalau kita bekerja dengan cara-cara KPI yang jelas, semuanya akan termotivasi dan terdorong untuk bekerja secara sungguh-sungguh," tandasnya.

Baca juga: Jokowi Akan Terbitkan Perpres Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini