nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Harus ke Belanda untuk Tahu Warna Catnya

Taufik Budi, iNews.id · Sabtu 04 Januari 2020 12:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 04 337 2149172 revitalisasi-stasiun-semarang-tawang-harus-ke-belanda-untuk-tahu-warna-catnya-aX7u6LydSq.jpg Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah (foto: iNews/Taufik Budi)

SEMARANG – Stasiun Semarang Tawang yang dulunya sering dikeluhkan karena langganan banjir rob kini kian bersolek. Tak hanya bebas banjir, stasiun kereta api peninggalan zaman Belanda itu juga terlihat semakin anggun meski usianya mencapai ratusan tahun.

Stasiun ini merupakan stasiun kelas besar tipe A di kawasan Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang. Letak stasiun ini tidak terlalu jauh dari pusat kota, kurang lebih 5 kilometer dan tak jauh dari objek wisata Kota Lama dan Pasar Johar.

Infografis Stasiun Bersejarah (foto: Okezone) 

Pengelolaannya di bawah PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang sekaligus menjadi stasiun terbesar di Kota Semarang dan Jawa Tengah bagian utara. Kerap menjadi langganan banjir gelombang laut pasang, karena terletak pada ketinggian +2 meter.

Dalam catatan sejarah, pada 1911 Nederlands-Indische Spoorweg (NIS) Maatschappij mulai menyusun masterplan baru terhadap sistem perkeretaapian di jalur kereta api segmen Semarang–Solo–Yogyakarta yang sebelumnya diresmikan pada tahun 1873. Langkah ini dilakukan karena Stasiun Semarang NIS—stasiun pertama di Indonesia—yang pada enam tahun sebelumnya ditutup, sudah tak memungkinkan lagi dioperasikan sebagai stasiun sentral NIS apabila Semarang dilanda banjir rob.

NIS kemudian membangun stasiun kereta api baru di Tawang, pada 29 April 1911. Bangunan stasiun ini selesai dan diresmikan pada 1 Juni 1914 dan digunakan untuk menggantikan Stasiun Semarang NIS yang selalu terendam air jika Laut Jawa pasang.

Meski demikian, pada tahun-tahun berikutnya Stasiun tawang juga hampir selalu terendam air rob. Gelombang laut pasang yang bercampur dengan air hujan dan air limbah dari saluran-saluran air di Kota Semarang kian memperparah banjir.

Sebagai upaya penanggulangan, Pemerintah Kota Semarang mendirikan polder berupa kolam raksasa di depan stasiun ini pada 1998-2000. Banjir mulai bisa dikendalikan. Apalagi, juga dilengkapi sejumlah pompa sehingga bila terjadi genangan air segera teratasi.

Stasiun Semarang Tawang (foto: iNews/Taufik Budi) 

Sebagai stasiun yang berusia ratusan tahun, beberapa bagian bangunan pun mulai keropos dan rusak. Terlebih sebelumnya kerap terendam banjir hingga menimbulkan kesan kurang terawat. Hingga pada 2011, Stasiun Tawang direvitalisasi.

“Proses revitalisasi itu dari 2011 saat kepemimpinan awal Pak Jonan (Ignasius Jonan). Mulai berbenah 2011 itu mulai kelihatan hasilnya dua tahun kemudian. Tahun 2014 itu bisa dikatakan hampir sempurna,” kata Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Krisbiyantoro, Jumat 3 Januari 2020.

Dia menjelaskan, PT KAI getol melakukan revitalisasi Stasiun Tawang untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen sekaligus melestarikan peninggalan sejarah. Apalagi, saat ini pemerintah juga gencar meningkatkan pariwisata dari bangunan-bangunan masa lampau.

“Jadi kepemimpinan waktu itu mempunyai pemikiran ke depan bahwa bangunan tua ternyata mempunyai nilai historis, dan mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, mempunyai daya tarik apalagi masih tergolong cagar budaya,” beber dia.

Stasiun Semarang Tawang (foto: iNews/Taufik Budi)	 

Dia menambahkan, proses revitalisasi juga dilaksanakan secara serius agar dapat mempertahankan nilai historis. Bahkan, PT KAI juga memberangkatkan tim ke Belanda untuk mencari literatur dan dokumen pendukung tentang bangunan Stasiun Tawang.

“Kita juga mencari literatur bukti-bukti yang asli, karena waktu itu dari pihak PT KAI sampai dikirim ke Belanda untuk mencari keaslian gambar-gambar yang dimaksud,” terangnya.

“Kemudian dari warna cat, harus dikembalikan seperti putih aslinya di foto. Jadi itu tidak beli cat sembarangan. Stasiun Tawang itu ada warna putihnya khusus, tidak sekadar putih. Kan putih itu macem-macem ada putih tulang, putih susu, dan sebagainya,” jelasnya.

Hingga kini proses perawatan stasiun terus dilakukan secara hati-hati agar bangunan tersebut terjaga kelestariannya. “Sekarang itu bangunan-bangunan yang tergolong cagar budaya peninggalan Belanda itu tidak diperbolehkan merusak tembok dengan cara memaku, sebisa mungkin menghindari,” tegasnya.

Stasiun Semarang Tawang (foto: iNews/Taufik Budi)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini