Terus Menua, Stasiun Malang Kota Lama Tetap Lestari dan Dibutuhkan

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 04 Januari 2020 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 03 337 2149079 terus-menua-stasiun-malang-kota-lama-tetap-lestari-dan-dibutuhkan-Av2edHHYl5.jpg Stasiun Malang Kota Lama (Foto: Okezone/Avirista)

KOTA MALANG - Meski berstatuskan stasiun kereta api ‘kedua’ di Kota Malang, Stasiun Malang Kota Lama masih dianggap penting oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang berasal dari Kota Malang bagian selatan. Sebagian besar dari mereka biasanya mengandalkan Stasiun Malang Kota Lama untuk naik kereta api lokal.

Kepala Stasiun Malang Kota Lama Hernawan mengakui penumpang di Stasiun Malang Kota Lama didominasi oleh para penumpang jarak dekat alias kereta api lokal.

“Kalau disini mayoritas penumpang yang naik dan turun terbanyak pada kereta api lokal KA Penataran Dhoho,” ujar Hernawan, ditemui Okezone di ruang kerjanya, Kamis (2/2/2019).

Lipsus Stasiun Bersejarah

Pihaknya mencatat selama hari biasa rata – rata penumpang mencapai 100 – 200 orang per harinya. Sedangkan pada akhir pekan setidaknya 300 – 500 penumpang memadati stasiun yang berada di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

“Kalau rata – rata penumpangnya yang naik turun kereta api jarak jauh hanya 20 – 30 orang di stasiun ini, sisanya kereta api lokal yang mendominasi,” tutur Hernawan yang telah 13 bulan menjadi Kepala Stasiun Malang Kota Lama ini.

Ada sejumlah alasan yang menyebabkan masyarakat memilih Stasiun Malang, salah satunya lokasi yang sepi. Hal ini dikarenakan akses transportasi umum dari Terminal Gadang cukup mudah.

Stasiun Malang Kota Lama

“Kalau di sini lebih dekat dari Terminal Gadang, aksesnya mudah dan sepi dibandingkan kalau naik dari Stasiun Malang Kota Baru,” ucap Akhmadi (59), penumpang asal Dampit.

Menurutnya, bila dari Dampit dirinya menaiki kendaraan umum menuju Gadang dan langsung menuju Stasiun Malang Kota Lama. “Kalau ke sini dari Gadang cepat. Kalau naik bus ke Sidoarjo lama dan mending naik kereta api lokal murah dan cepat,” lanjut pria yang akan menjenguk keluarganya di Sidoarjo ini.

Penumpang lainnya, Dewi mengatakan akses stasiun dari rumahnya dirasa cukup dekat sehingga ia memilih untuk naik kereta api dari stasiun yang menjadi bangunan cagar budaya Kota Malang ini.

“Kalau dari sini kan dekat kebetulan rumah saya di Mergosono. Dekat kalau ke sini, kalau naik kereta api jarak jauh juga dari sini,” paparnya.

Dirinya menyatakan bangunan, pelayanan, dan fasilitasnya di Stasiun Malang Kota Lama cukup bagus dan memuaskan. “Saya rasa terus menerus tambah baik fasilitasnya, toiletnya bersih, ruang tunggunya juga luas, pelayanannya juga secara keseluruhan bagus,” tambahnya.

Stasiun Malang Kota Lama

Namun meski menjadi alternatif kedua bagi para penumpang kereta api, pihak KAI memastikan tak ada perbedaan pelayanan dan fasilitas antara Stasiun Malang Kota Baru dan Stasiun Malang Kota Lama.

“Kalau pelayanan dan fasilitas dengan Kota Baru (Stasiun Malang Kota Baru) sama, tidak ada perbedaan. Pengamanannya pun sama saat nataru ini,” ungkap Hernawan.

Meski demikian diakui pria asal Kuningan perbedaan signifikan diakui pada waktu berhenti kereta api. Jika di Stasiun Malang Kota Baru kereta api saat berhenti bisa lebih dari lima menit, di Stasiun Malang Kota Lama waktu berhenti maksimal hanya lima menit.

Stasiun Malang Kota Lama

“Kalau di Stasiun Malang Kota Baru bisa berhenti lama, kalau di sini (Stasiun Malang Kota Lama) rata – rata normalnya tiga menit, paling lama lima menit,” lanjutnya.

Hernawan menambahkan untuk melayani para penumpang Stasiun Malang Kota Lama empat jalur efektif dan tiga jalur langsir. Masing – masing jalur efektif memiliki panjang bervariasi pada jalur satu misalnya panjangnya mencapai 340 meter, pada dua panjang 200 meter, jalur tiga dengan panjang 180 meter, serta jalur empat dengan panjang 116 meter.

“Parkiran sepeda motor kita luas bisa muat 100 motor, kalau mobil saya kira sekitar 50 mobil muatlah,” tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini