nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Eksotika Stasiun Cirebon, Pusat Transportasi Tersibuk dengan Corak Gedung Eropa

Fathnur Rohman, Jurnalis · Sabtu 04 Januari 2020 11:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 03 337 2149068 eksotika-stasiun-cirebon-pusat-transportasi-tersibuk-dengan-corak-gedung-eropa-WWL1lpW0nL.jpg Stasiun Cirebon (Foto: Okezone/Fathnur)

CIREBON - Kota Cirebon saat ini sudah berusia 650 tahun. Di usianya yang sudah begitu tua, kota ini menyimpan sejumlah bangunan cagar budaya dengan nilai sejarah yang sangat tinggi. Salah satu dari sekian banyak bangunan warisan budaya itu adalah Stasiun Cirebon.

Melansir berbagai sumber, diceritakan ketika pertama kali pabrik pengolahan tebu didirikan di Kota Tegal, Jawa Tengah pada tahun 1813, industri gula berkembang begitu pesat sampai menyebar ke daerah Cirebon. Kala itu, Cirebon sudah menjadi pusat perkebunan gula di pulau Jawa, sebelum sistem politik Tanam Paksa diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830.

Pada akhir abad ke-19, Cirebon diketahui sudah memiliki lebih dari sepuluh pabrik gula. Saat itu meski kereta api belum diperkenalkan, sejumlah jalan rel bertenaga hewan ternak pun dipasang di pelosok-pelosok perkebunan tebu. Hal itu dilakukan untuk memudahkan pengangkutan hasil panen tebu ke pabrik gula.

Lipsus Stasiun Bersejarah

Baru pada tahun 1911, perusahaan kereta api negara yang saat itu bernama Staatspoorwegen (SS) mengembangkan rel kereta api di Cirebon. Peristiwa bersejarah itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Stasiun Cirebon.

Peresmian Stasiun Cirebon

Berdasarkan data dari Unit Architecture & Perservation PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Cirebon diresmikan pada tanggal 3 Juni tahun 1912. Peresmian Stasiun Cirebon juga bersamaan dengan peresmian jalur kereta api Cikampek-Cirebon sepanjang 137 KM.

Bangunan Stasiun Cirebon sendiri dirancang oleh seorang arsitek berkebangsaan Belanda yakni Pieter Adriaan Jacoobus Moojen. Ia mengusung konsep arsitektur bergaya indis. Pieter Adriaan Jacoobus Moojen menggabungkan gaya arsitektur di Eropa dengan adaptasi terhadap cuaca dan iklim di Indonesia.

Corak dan gaya arsitektur Eropa bisa dilihat dari penggunaan gavel dan non acrateric (hiasan puncak atap), penggunaan arc (bentuk lengkung), penggunaan vault, dan penggunaan dentils sebagai ornamen dinding eksterior. Sedangkan, untuk gaya arsitektur yang mengadaptasi kondisi cuaca dan iklim di Indonesia bisa dilihat dari penggunaan atap perisai dengan kombinasi pelana atap teritis. Selain itu terdapat juga banyak ventilasi dan jendela untuk mengatur penghawaan di Stasiun Cirebon.

Stasiun Cirebon

Stasiun Cirebon memiliki denah simetris, yakni menghadap ke jalan utama Cirebon yaitu Jalan Siliwangi. Sebagai pintu masuk, bagian tengah Stasiun Cirebon dibuat lebih tinggi dari bagian bangunan sayapnya. Awalnya di menara selatan Stasiun Cirebon terdapat tulisan 'KAARTJES' (karcis), sementara di menara utara terdapat tulisan 'BAGAGE' (bagasi). Penempatan tulisan itu sebagai penanda pemisah antara pemisahan loket penumpang dan loket barang.

Di jelaskan dalam situs heritage.kai.id pada zaman kolonial, sebelum adanya kesempakatan dengan perusahaan kereta api swasta Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) di Stasiun Cirebon Prujakan pada tanggal 1 November tahun 1914. Stasiun Cirebon tidak melayani keberangkatan dari Semarang-Surabaya karena jalurnya tidak tersambung.

Stasiun Cirebon

Setelah ada kesepakatan akhirnya rel kereta dari Stasiun Cirebon ke Stasiun Cirebon Prujakan terhubung. Namun kesepakatan tersebut hanya untuk kepentingan transit penumpang.

Di kesepakatan itu, kereta api SS termasuk kereta api malam 'Java Nacht Express' rute Batavia-Surabaya harus berbelok ke arah jurusan Kroya. Sementara penumpang yang akan berangkat ke Semarang (lurus) wajib mengganti kereta api yang dilayani oleh SCS di Stasiun Cirebon.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan tahun 1945-1949, Stasiun Cirebon selalu menjadi tempat transit untuk semua jenis Kereta Luar Biasa (KLB). Salah satunya adalah saat Presiden Soekarno yang hendak memberikan pidato di depan masyarakat.

Aktivitas di Stasiun Cirebon Saat Ini

Rabu siang, tanggal 1 Januari 2020, Andri sudah siap merapihkan barang bawaannya. Ia nampak asyik menunggu kedatangan kereta api menuju Jakarta dengan berswafoto di depan Staisun Cirebon.

Andri mengaku sudah sering berkunjung ke Kota Cirebon. Menurut Andri, Stasiun Cirebon memiliki gaya asitektur yang bagus. Ia merasa betah ketika menunggu kereta di Stasiun Cirebon.

Stasiun Cirebon

"Ini spot fotonya bagus. Bangunan Stasiun Cirebon juga kan termasuk heritage jadi lebih menarik kalau foto sambil menunggu kereta," ujar Andir kepada Okezone.

Sementara itu saat ditemui Okezone, Manajer Humas PT KAI Daop 3 Cirebon, Luqman Arif menjelaskan, Stasiun Cirebon merupakan stasiun utama di Daop 3 Cirebon. Setiap harinya ada sekitar 111 kereta api yang hilir mudik mengantarkan para penumpang ke berbagai kota tujuan.

Disampaikan Luqman, pihaknya selalu melakukan perbaikan layanan dan fasilitas untuk memanjakan para penumpangnya. Bahkan, pihaknya menyediakan ruang tunggu, co-working, panggung live musik, serta fasilitas tambahan lainnya.

Stasiun Cirebon

"Itu fasilitas tambahan agar para penumpang tidak merasa bosan menunggu kedatangan kereta api," kata Luqman.

Sebagai stasiun utama di Daop 3 Cirebon, penumpang yang ada di Stasiun Cirebon di hari-hari normal mencapai angka 3.000 orang. Sementara untuk pegawai yang bertugas di Stasiun Cirebon ada sekitar 138 orang. Menurut Luqman, Stasiun Cirebon merupakan salah satu jalur kereta api terpadat di Indonesia.

Luqman dan pegawai di Stasiun Cirebon sendiri harus standby 24 jam untuk melayani penumpang. Bahkan sejak 19 Desember 2019 hingga 5 Januari 2020 tidak ada satupun petugas di Stasiun Cirebon yang libur. Walaupun begitu, diungkapkan Luqman, sebagai pegawai PT KAI hal tersebut sudah menjadi komitmen dan tanggung jawabnya. Ia pun merasa bersyukur karena keluarganya mengerti dengan beban pekerjaan yang harus dikerjakan olehnya.

"Mulai tanggal 19 Desember sampai 5 Januari, selama 18 hari mulai dari pimpinan hingga pegawai di Daop 3 belum libur. Kami siaga 24 jam. Meski harus meninggalkan keluarga kami enjoy melaksanakan tugas ini," tutur Luqman.

Stasiun Cirebon

Luqman sendiri berharap dengan apa yang dikerjakan oleh pihaknya baik dari segi pelayanan dan penambahan fasilitas bisa berdampak positif bagi para penumpang, khususnya dalam kenyamanan saat menunggu serta menggunakan moda transportasi kereta api.

"Mudah-mudahan upaya yang telah dan akan dilakukan bisa memberikan manfaat. Masyarakat bisa nyaman menggunakan kereta api," ucap dia.(KHA)

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini