nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bendung Katulampa, Beton Peringatan Dini Banjir Tinggalan Belanda

Rizka Diputra, Jurnalis · Jum'at 03 Januari 2020 08:49 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 03 337 2148765 bendung-katulampa-beton-pengingat-banjir-peninggalan-belanda-7L3lYs3yAb.JPG Bendung Katulampa, beton peninggalan pemerintah kolonial Belanda sebagai pengirim sinyal banjir ke Jakarta (Foto: Okezone.com/Putra Ramadhani Astyawan)

BANJIR besar yang melanda wilayah Jabodetabek di hari pertama tahun 2020 mengagetkan semua orang. Tak hanya Ibu Kota Negara, sejumlah kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi juga tak luput dari terjangan air bah. 

Bicara soal banjir Jakarta, tak bisa lepas dari Bendung Katulampa yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.

Dari berbagai sumber diketahui, proyek pembangunan bendungan ini dimulai pada 16 April 1911 dan selesai pada awal Oktober 1912, sebelum akhirnya diresmikan penggunaannya pada 11 Oktober 1912.

Total biaya yang dikeluarkan untuk membangun bendung ini mencapai 80.000 gulden. Bendungan yang juga hasil karya Ir. Hendrik van Breen ini memiliki panjang total 74 m, dengan 5 inlaatsluis (pintu untuk mengalirkan arus ke kawasan di bawah), 3 spuisluis (pintu untuk menahan air, jika volume air berlebihan dan mengancam kawasan bawah), dengan lebar masing-masing pintu 4 m.

Selain untuk pengendalian banjir bendungan yang dulu disebut Katoelampa Dam ini juga memiliki fungsi sampingan sebagai sistem irigasi. Berkat bendungan ini sebanyak 10.000 bouw sawah (orang Jawa menyebutnya bau, 1 bouw ekuivalen dengan 0,7 hektar) dapat diairi melalui Oosterslokkan (Kali Baru).

Kanal Oosterslokkan ini sebelumnya telah dibangun pada abad ke-18 atas prakarsa Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Saluran air ini mengalir dari sini melintasi Weltevreden (Menteng). Sebelumnya kanal ini dimaksudkan untuk lalu lintas pelayaran ke pedalaman (ke arah Bogor).

Bukan hanya Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, tetapi juga Gubernur Jenderal Daendels telah mempunyai rencana untuk menggali kanal untuk pelayaran ke pedalaman.

Bendung Katulampa

Pentingnya keberadaan bendung ini dapat dilihat dari siapa yang meresmikannya. Tak tanggung-tanggung, Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg bersama para pejabat penting masa itu.

Antara lain Kepala Insinyur Negara Roos, Ir. Van Dissel, Ir. Hendrik van Breen, pengawas Leuwiliang dan Bogor, anggota dewan Ebbink, administrator D. Veenstra (Ciluar), Mulder (Kedung Halang), Valette (Pondok Gede), Sol (Ciomas), Residen Batavia, Asisten Residen (setingkat wedana) Bogor, dan para patih Bogor, Batavia dan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara).

Peresmian bendungan dimeriahkan dengan gamelan dan tari-tarian, serta upacara selamatan dengan kepala kerbau.

Meski Bendungan Katulampa mulai beroperasi pada 1912, pembangunannya sudah dipikirkan sejak 1889. Sejak banjir besar melanda Jakarta pada 1872.

Banjir saat itu dikabarkan membuat daerah elit Harmoni ikut terendam air luapan Sungai Ciliwung. Dari Katulampa, sebagian air Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke Kali Baru Timur, saluran irigasi yang dibangun pada waktu yang sama.

Bendung Katulampa

Dari bagian timur Bogor, sungai buatan itu mengalir ke Jakarta, di sepanjang sisi Jalan raya Bogor, melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Batavia.

Air Kali Baru Timur dulu dipakai untuk mengairi sawah yang banyak terdapat di daerah antara Bogor dan Jakarta. 

Dari catatan prasasti yang dibuat tertulis "Het was hoogst noodig dat deze permanente dam tot stand kwam, nu kan Weltevreden geregeld spuiwater krijgen en de kans op groote overstroomingen te Batavia is vrijwel uitgesloten" yang artinya kurang lebih demikian :

Sangat perlu direalisasikan bendungan permanen ini. Sekarang, Weltevreden (Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup (Bataviaasche Nieuwsblad, 12 Oktober 1912).

Hingga 1990, areal persawahan di Bogor dan Jakarta masih banyak, sekitar 2.414 hektare. Kini areal sawah ini hampir habis. Hanya Bogor dan Cibinong yang masih memiliki 72 hektare sawah, sementara Jakarta sama sekali habis.

Lambat laun fungsi irigasi Bendungan Katulampa berakhir. Kini, Bendung Katulampa kerap dijadikan patokan atau acuan akan datangnya banjir ke wilayah Jakarta, bilamana curah hujan di kawasan Bogor turun dengan intensitas tinggi berdurasi lama.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini