nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

IJTI: 53 Kasus Kekerasan terhadap Jurnalis Terjadi di 2019, Pelaku Kebanyakan Aparat

Muhamad Rizky, Jurnalis · Senin 30 Desember 2019 16:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 30 337 2147487 ijti-53-kasus-kekerasan-terhadap-jurnalis-terjadi-di-2019-pelaku-kebanyakan-aparat-Aml9jtk0rO.jpg Refleksi Akhir Tahun 2019 IJTI 'Kebebasan Pers, Disrupsi, dan Tantangan Jurnalis TV (Foto: Okezone/Muhamad Rizky)

JAKARTA - Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mencatat ada 53 kasus kekerasan terhadap jurnalis terjadi sepanjang 2019. Angka ini diklaim menurun dibandingkan pada 2018 yang mencapai 64 perkara. Pelakunya mayoritas aparat penegak hukum.

Ketua IJTI Yadi Hendriana mengatakan, meski kasus kekerasan terhadap jurnalis tahun ini turun, kekerasan tersebut masih sama kualitasnya dan paling banyak dilakukan aparat penegak hukum.

"Selama 2019 ada 53 (kasus), secara jumlah memang jauh menurun dibanding 2018 ada 64 (kasus), tapi kualitas dari kekerasan ini masih tetap tidak berbeda. Artinya, kualitas kekerasan kebanyakan oleh aparat keamanan," kata Yadi dalam konferensi pers Refleksi Akhir Tahun 2019 di Kantor Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (30/12/2019).

Baca Juga: AJI Kecam Kekerasan Terhadap Jurnalis di Hari HAM Sedunia 

Menurut Yadi, khusus untuk kekerasan terhadap jurnalis televisi, pola kekerasan yang dilakukan cukup beragam, mulai dari kekerasan, intimidasi, dan persekusi. Untuk itu, ia meminta aparat penegak hukum bisa serius dalam menuntaskan persoalan tersebut.

"Karena ini juga berdampak kepada indeks kebebasan pers di mata dunia. Ini penting sekali untuk di eskalasi dan aparat kepolisian harus memiliki komitmen yang tinggi, bersama kami untuk menghilangkan kekerasan terhadap pers yang selama ini terjadi," ujarnya.

Ilustrasi 

IJTI, kata dia, juga telah mengadvokasi terhadap beberapa jurnalis yang menjadi korban kekerasan. Namun, ia menyayangkan banyaknya jurnalis yang takut ketika berhadapan dengan hukum dan memilih jalan damai.

"Teman-teman jurnalis sendiri sering terjebak dalam ketakutan tidak ingin melanjutkan kasusnya ketika mereka berhadapan dengan hukum mereka lebih memilih selesai atau delapan enam," tuturnya.

Baca Juga: Polisi Buru Oknum Ormas FBR Penganiaya Wartawan di Balkot Tangsel 

Hal itulah yang dikhawatirkannya. Ia menilai, hal semacam ini akan jadi preseden buruk terhadap penyelesaian terhadap kekerasan pers. Untuk itu, ia mengimbau, agar para jurnalis bisa menyelesaikan kasusnya secara hukum, karena menjadi salah satu solusi untuk menghilangkan kekerasan terhadap jurnalis yang selama ini selalu terjadi.

"Mari kita bersama-sama memerangi kekerasan terhadap pers dengan cara betul di jalur hukum," tuturnya. (ari)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini