nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rahasia Toleransi NTT, Tak Pernah Bertanya "Apa Agamamu?"

Adi Rianghepat, Jurnalis · Minggu 29 Desember 2019 13:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 29 337 2147140 rahasia-toleransi-ntt-tak-pernah-bertanya-apa-agamamu-treJp9EG2e.jpg Ilustrasi

KUPANG - Perayaan Natal yang diimani umat kristiani sejagad sebagai peringatan Kelahiran Yesus Kristus sang juru selamat umat manusia di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah berjalan aman dan damai.

Suasana aman dan damai itu pun masih terasa hingga saat ini. Apresiasi seluruh pemimpin umat kristiani dan para pemuka agama dilayangkan ke aparat keamanan yang dengan ikhlas hati melaksanakan tugas pengamanan di gereja-gereja saat perayaan dan ibadah dilangsungkan.

Tak hanya aparat keamanan unsur TNI dan Polri. Gerakan Pemuda Ansor NTT bahkan menerjunkan sedikitnya 500 personel untuk kegiatan pengamanan Perayaan Natal di sejumlah Gereja. Aksi yang dilakukan Banser NTT itu, sudah terjadi sejak beberapa tahun silam. Bahkan jauh sebelum Indonesia bicara soal toleransi.

Kasatmata, suasana aman dan damai di Perayaan Natal 2019 ini serupa pada 2018 silam, juga tahun-tahun sebelumnya. Suasana Kota Kupang dan seluruh wilayah NTT umumnya berjalan aman dan damai. Tak ada pelarangan ibadah seperti di daerah lainnya. Tak ada sweeping dan tak ada hal mengganggu lainnya saat perayaan. Semuanya berjalan aman dan damai.

Ilustrasi

Kedamaian yang dirasakan umat kristiani di Kota Kupang provinsi berbasis kepulauan itu, bukan karena agama kristen (Katolik dan Protestan) mendominasi alias mayoritas. Namun karena penerapan kehidupan sosial yang mengedepankan kekerabatan.

Pola hidup sosial dengan mengedepankan kekerabatan itulah telah mengubah cara pandang sebagai sesama. Tidak ada lagi pandangan bahwa 'dia agama apa'. Tetapi yang tergambar adalah 'dia adalah kerabat saya'.

"Saya seorang Muslim tetapi tetangga saya yang beragama Kristen itu adalah kerabat saya. Begitulah cara pandang saya terhadap dia," kata seorang pemuka agama Muslim di Kota Kupang Ramli Muda saat bincang-bincang terkait toleransi di Kota Kupang yang bersemboyan Kota Kasih itu.

Menurut pengurus Masjid Al Mujahidin itu, cara pandang dalam kehidupan sosial yang melihat orang lain sebagai kerabat itulah akhirnya telah merekatkan peradaban sebagai sesama manusia yang harus dihormati. "Ya, saling menghormati antarsesama akhirnya meleburkan kita dalam satu suasana yang rukun dan damai," katanya.

Ilustrasi

Dia mengaku sudah terlibat banyak di sejumlah kegiatan bernuansa kristiani. Sebut saja, terlibat dalam kepanitiaan seremoni syukuran Penthabisan Imam (Romo) Baru. Peringatan HUT Kongregasi Suster-suster Carolus Boromeus (CB), dan sejumlah kegiatan lainnya. Ini menujukkan bahwa kepedulian sebagai sesama dalam satu hubungan sosial kekerabatan sangat dikedepankan.

Di titik inilah, lanjut abdi negara itu, kondisi toleransi di daerah akan terus terawat dan terpelihara dalam satu komitmen bersama menjaga keberagaman Indonesia.

Paling Toleran

Pola penerapan kehidupan sosial di Kota Kupang dan NTT itulah, provinsi seribu nusa itu didapuk sebagai provinsi paling toleran antarumat beragama di dunia.

Penghargaan yang didapat provinsi itu tentunya tak lepas dari pola penerapan kehidupan sosial kemasyarakatannya. Setidaknya pola saling menghormati dan menghargai sebagai sesama itulah yang telah mendorong kehidupan keagamaan di daerah ini berjalan aman dan damai.

Saling menghormati dan menghargai sebagai sesama pemeluk agama dan agama lainnya, terwujud dari aksi saling membantu menjaga keamanan di setiap perayaan hari besar keagamaan.

"Jika Idul Fitri tiba, kami Pemuda Katolik ikut mengambil bagian dalam menjaga keamanan pelaksanaan Sholat Ied di sejumlah lokasi," kata seorang aktivis Pemuda Katolik, Wilibrodus.

Aksi itu sudah dengan sendirinya dilakukan tanpa komando. "Kami hanya butuh koordinasi dengan sesama saudara pengurus masjid yang ada juga dengan Panitia Hari Beasar Agama untuk mengetahui titk lokasi Sholad dan kami terjunlan personel," katanya. "Dan semua berlangsung aman dan damai," tuturnya.

Terlepas dari semuanya itu, setidaknya kehidupan bertoleransi yang sudah terajut saban tahun di provinsi selaksa nusa itu, bisa menjadi rajutan awal merangkai damai dan toleransi di bumi pertiwi Indonesia yang berbhineka ini.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini