nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hati-Hati Cuaca Ekstrem di Malam Pergantian Tahun

Fiddy Anggriawan , Okezone · Senin 30 Desember 2019 07:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 29 337 2147069 hati-hati-cuaca-ekstrem-di-malam-pergantian-tahun-uoUWP9vqxn.jpg Ilustrasi Cuaca Ekstrem (foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geogisika (BMKG) memprediksi seminggu ke depan aktivitas Monsun Asia sedang aktif, sementara Monsun Australia melemah di Pulau Jawa, sehingga ada potensi menjadi daerah belokan masa udara.

Selain itu, adanya siklon tropis 'Phafone' di perairan sebelah barat Filipina membuat potensi perlambatan masa udara dari Utara di daerah Selatan, sehingga berpotensi terjadinya pertumbuhan awan konvektif pada daerah-daerah pegunungan di Pulau Jawa.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

"Dalam kondisi itu daerah pegunungan di Jawa Barat potensial terjadi cuaca ekstrem yang ditandai hujan dengan intensitas sedang-lebat yang disertai angin kencang tiba-tiba serta sambaran kilat/petir," kata Kepala Stasiun Klimatologi Citeko-Bogor Asep Firman Ilahi, dalam keterangannya, Jumat 27 Desember 2019.

Asep menjelaskan, dalam periode 28-30 Desember 2019, di kawasan Puncak dan sekitarnya hujan berpeluang pada sore dan malam hari. Sementara, 31 Desember 2019 hingga 2 Januari 2020 hujan berpeluang mengguyur pada siang dan malam hari.

Dia pun mengimbau masyarakat yang akan berlibur untuk merayakan malam pergantian tahun di daerah pegunungan, khususnya kawasan Puncak agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi.

"Waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin kencang, menghindari wisata sungai menghindari terjadi arus deras ketika hujan, waspada berwisata pada daerah dengan kemiringan lereng lebih dari 45 derajat untuk menghindari longsor dan perhatikan kendaraan saat melaju kondisi hujan," tuturnya.

Ilustrasi (foto: Okezone) 

Sementara Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat waspada dengan adanya potensi angin puting beliung yang bakal terjadi di penghujung tahun 2019, caranya lebih mengenali tanda-tanda kemunculannya. Dia menyatakan ada lima tanda yang bisa dikenali masyarakat terkait bakal datangnya angin puting beliung.

"Satu hari sebelumnya udara pada malam hingga pagi hari terasa panas dan gerah," ungkap Dwikorita.

Tahap kedua, pada pagi hari terlihat tumbuh awan kumulus. Di antara awan tersebut terlihat satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya berwarna abu-abu dan menjulang tinggi seperti bunga kol.

"Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam," urai Dwikorita.

Salanjutnya, pepohonan ada dahan dan ranting yang mulai bergoyang dengan cepat. "(Terakhir) ada sentuhan dingin di sekitar tempat kita berdiri," jelasnya.

Ilustrasi (foto: Okezone)

Dwikorita menambahkan proses waktu dan terjadinya angin puting beliung. Berdasarkan proses, sambung dia, angin puting beliung pasti muncul di darat, bukan di laut. Angin ini muncul berasal dari awan kumulus dengan kecepatan 30–40 atau 50 knots.

"Lama waktu kejadian berlangsung selama 3 menit maksimal 5 menit. Dengan jangkauan daerah yang rusak 5 hingga 10 kilometer," ucap dia.

Menurut Dwikorita, dari segi waktu, angin puting beliung biasa terjadi ketika pancaroba. Baik peralihan dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya. Angin puting beliung, kata dia, tidak memiliki siklus dan sangat jarang terjadi susulan di lokasi yang sama.

"Lebih sering terjadi saat siang atau sore hari. Saat malam hari sangat jarang terjadi. Waktu terdeteksi 30 menit sampai 1 jam sebelumnya," beber dia.

Adapun dampak puting beliung, ungkap Dwikorita, bisa membuat rumah semipermanen, papan reklame, hingga pohon yang sudah tua menjadi roboh. Parahnya lagi dapat menimbulkan korban jiwa. Maka itu, dirinya mengingatkan semua pihak mengantisipasi hal tersebut.

BMKG juga meminta masyarakat yang hendak merayakan malam pergantian tahun di pantai waspada. Pasalnya,Gelombang di perairan selatan Jawa Tengah diperkirakan mencapai setinggi 4 meter. Maka itu, wisatawan diminta berhati-hati saat menikmati waktu libur Natal dan Tahun Baru 2020 di daerah pantai.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

"Tinggi gelombang di Perairan Utara Jawa Tengah 0,1–1,25 meter. Tinggi gelombang di Perairan Selatan Jawa Tengah 0,5–4 meter," kata forecaster BMKG MS Fuad, Sabtu 28 Desember 2019.

Diakui dia, cuaca Jawa Tengah pada pagi hari umumnya berawan. Sementara pada siang, sore hingga malam terjadi hujan dengan intensitas ringan - sedang.

"Potensi hujan intensitas hingga lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah pegunungan, pesisir selatan sisi utara, dan sebagian Solo Raya," tutur Fuad.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini