nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Pasukan Merah, Penjaga Kota Semarang dari Ancaman Banjir

Taufik Budi, iNews.id · Sabtu 28 Desember 2019 11:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 27 337 2146779 cerita-pasukan-merah-penjaga-kota-semarang-dari-ancaman-banjir-nFZk2DaB5z.jpg Pasukan Merah Semarang (Foto: Okezone/Taufik)

SEMARANG - Pasukan Merah. Demikian nama satuan pekerja yang memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan Kota Semarang Jawa Tengah. Keberadaan mereka kian dibutuhkan memasuki musim hujan karena menjadi penjaga dari ancaman banjir.

Gambaran pentingnya tugas Pasukan Merah tercermin dari tiga orang yang sibuk menyapu sepanjang Jalan Pemuda Semarang. Sekilas memang tak terlihat mereka bagian dari "pasukan elite" kebersihan kota. Kaus yang dikenakan masing-masing berbeda warna.

Seorang mengenakan kaus warna hitam, seorang lainnya kaus hijau lengan panjang, dan seorang lagi mengenakan pakaian yang dibalut rompi warna merah. Hanya orang ini yang menunjukkan identitas Pasukan Merah, seperti tertulis di belakang rompinya.

Lipsus Petugas Kebersihan

Dengan bersenjatakan sapu dan cikrak mereka terus bergerak menyisir sepanjang jalan. Daun-daun yang berjatuhan dan plastik bekas kemasan makanan menjadi sararan mereka. Sampah-sampah itu dikumpulkan di cikrak untuk kemudian dibawa ke bak sampah.

"Ini membersihkan selokan, trotoar biar tidak mampet. Agar tidak kebanjiran pada musim hujan seperti sekarang ini," kata Suroso (37), Jumat (27/12/2019).

Bapak dua anak ini mengaku memiliki tugas yang tak bisa dianggap remeh. Meski menyapu jalanan dan membersihkan sampah acapkali dinilai sebagai pekerjaan kelas bawah, namun ternyata sangat dibutuhkan semua kalangan masyarakat. Mereka menjadi garda terdepan untuk menyisir sampah yang menyumbat drainase sehingga gelontoran air hujan tak mengakibatkan banjir.

Pasukan Merah

"Kalau musim hujan seperti ini di bilang berat ya lebih berat, tapi yang namanya pekerjaan ya kita nikmati aja pekerjaan ini," sungkatnya.

"Kalau kondisi cuaca hujan gede ya kita berhenti sebentar, nanti kalau sudah reda lanjut lagi bersih-bersihnya. Termasuk yang kawasan rawan banjir ya kita menyesuaikan juga. Jangan sampai selokan tersumbat. Kita pastikan drainase lancar," imbuh pria asal Mijen tersebut.

Setiap hari mereka sudah melaksanakan tugasnya di kala banyak warga masih terlelap. Pekerjaannya hampir 24 jam tanpa henti dengan pembagian waktu tiga sif. Hal ini menunjukkan keberadaan Pasukan Merah memang sangat dibutuhkan, tak hanya menjaga dari ancaman banjir tetapi juga menentukan wajah Ibu Kota Jawa Tengah.

"Ini saya kan masuk siang mulai jam 12 siang sampai jam 6 sore. Tapi ini pembagian kerjanya tiga sif, pagi, siang dan sore. Kalau sore mulai jam 4 sore hingga jam 12 tengah malam. Kemudian yang sif jam 3 pagi sampai jam 12 siang," terangnya.

"Kalau sehari-hari saya di Jalan Pemuda ini mulai dari lampu merah PLN kemudian di Jalan Soegijapranoto sampai di situ di Jalan Gajahmada. Tiap hari ya di situ aja, kecuali kalau ada acara nanti diperbantukan di mana, kita ngikut saja," terangnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam melaksanakan tugas adalah ketika ada kegiatan hingga jalanan penuh dengan kendaraan warga. Selain sulit untuk membersihkan dedaunan yang jatuh dan tertutup mobil, banyak pula perilaku warga yang membuang sampah sembarangan.

"Ya kalo ada acara kan pasti banyak kotorannya. Apalagi jika banyak mobil di jalan. Lokasinya jadi sulit bagi kita untuk membersihkan sampah, karena ada mobil-mobil atau kendaraan yang diparkir," lugasnya.

Pasukan Merah

Pria yang bergabung menjadi Pasukan Merah sejak empat tahun lalu itu, awalnya malu-malu untuk mengungkap kesejahteraan yang diterimanya. Meski tak terlalu besar, namun dia tetap bersyukur karena penghasilannya bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

"Kalau gaji sebesar UMK. Dapat jaminan kesehatan juga," katanya tersenyum.

"Sebenarnya pengen juga diangkat sebagai PNS biar lebih enak. Tapi kan dulu kontraknya tidak boleh menuntut itu. Kontraknya diperpanjang per enam bulan. Begini saya sudah bersyukur, karena bisa mencukupi kebutuhan keluarga," ucapnya seraya mengatakan pernah pula menjadi buruh pabrik pupuk.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini