Ledakan Meriam Bambu Tradisi Sambut Natal ala Masyarakat NTT

Adi Rianghepat, Okezone · Rabu 25 Desember 2019 21:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 25 337 2145998 ledakan-meriam-bambu-tradisi-sambut-natal-ala-masyarakat-ntt-gpjSxxISiQ.jpg Ilustrasi

KUPANG - Dentuman meriam, jamak terdengar dan dilakukan warga sejumlah daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kala Natal menjelang.

Natal adalah hari besar keagamaan umat Nasarani. Umat Kristen sejagad di saat (Natal) itu memperingati kelahiran Yesus yang diimani sebagai Tuhan dan penebus dosa umat manusia.

Kegembiraan menyambut hari yang saban tahun datang pada 25 Desember itulah, warga lalu merangkainya dengan sejumlah aksi. Salah satunya dengan dentuman meriam yang terbuat dari bambu.

Memang tak ada catatan khusus tentang sejarah tradisi permainan meriam bambu jelang perayaan Natal. Hal mana bukan sekadar terjadi di Pulau Flores yang memang hidup komunitas umat bermayoritas kristen (Katolik) saja.

Ilustrasi

Permainan meriam bambu jelang Natal, juga dilakukan oleh warga di Kota Kupang ibu kota Provinsi NTT di era 1980 hingga 2000. Anak dan remaja di kala itu bahkan rela menabung jajannya untuk bisa membeli bambu yang akan dijadikan sebagai meriam. Bukan hanya itu, tabungan yang ada itupun dipakai untuk membeli bahan bakarnya (minyak tanah).

Kenikmatan dari permainan meriam itu hanya ada pada bunyi dentumannya. Bunyi yang menggelegar akan memberi semangat bagi anak-anak yang bermain meriam tersebut. Dan hal itulah yang dicari.

Sangat sederhana membuat dan bermain meriam bambu tersebut. Memang tak semua jenis bambu bisa dipakai untuk permainan ini. Hanya jenis bambu tertentu saja (jenis nila). Bambu jenis itu memiliki ruas yang panjang sehingga cukup menggunakan satu ruas untuk satu meriam bambu tersebut.

Meriam bambu itu lalu dibikin lubang di ujung ruas sebagai sumbu pemantik. Pada ujung ruas dekat lubang akan diisi minyak tanah sebagai pemantik ledakan. Si pemain akan menyulut lubang berisi minyak tersebut dan akan mengeluarkan bunyi. Untuk menghasilkan bunyi yang kuat, maka bambu tersebut harus benar-benar bersih dari asap dengan cara ditiup.

Setiap habis satu ledakan, maka sang pemain wajib meniup meriam itu untuk bersihkan asap dari dalam bambu agar sulutan berikut bisa menghasilkan bunyi yang besar.

Memang semua jenis permainan ini tujuan selain bergembira juga menghasilkan bunyi-bunyian. Tanda bunyi-bunyian itu bisa diartikan sebagai sebuah tanda penyambutan sebuah momentum yaitu Kelahiran Yesus Kristus yang adalah Tuhan itu.

Dalam perjalanannya, permainan meriam bambu di Kota Kupang memudar dan digantikan dengan bunyi-bunyian lain seperti petasan dan sejenis meriam lain yang terbuat dari bekas botol mineral yang digoyang setelah diberikan bahan bakar (spritus).

Ilustrasi

Jenis meriam ini dinilai lebih praktis karena bisa diboyong ke mana-mana. Namun begitu jenis permainan itupun hanya dimainkan oleh anak-anak saja. Sementara orang tua dan remaja akan bermain petasan.

Kondisi tersebut juga secara perlahan mulai ditinggalkan meskipun di Flores. Perkembangan zaman telah memberikan pilihan bagi masyarakat untuk memilih cara menyambut Kelahiran Yesus (Natal). Kegembiraan akhirnya mulai dilakukan dengan berbagai cara, yaitu bisa dengan petasan dan juga nyanyian-nyanyian dan musik.

Kendatipun di beberapa titik lokasi di Flores dan beberapa kabupaten lain di NTT masih terdapat permainan meriam untuk menyambut Natal, itu karena warga di sana masih mudah mendapatkan bambu.

Biaya murah itulah menjadi pilihan warga untuk tetap mempertahankan tradisi meriam menyambut Natal. Hal yang terpenting dari sekadar bunyi-bunyian dan cara melakukannya (meriam dan petasan), namun ada makna di balik itu, bahwa warga Kristiani sejagad termasuk di NTT mau melampiaskan kegembiraanya menyambut kelahiran Yesus itu dengan gembira.

Setidaknya apa yang diimani dalam makna Natal adalah sebuah kedamaian dalam kelahiran secara miskin di kandang. Damai di bumi damai di hati.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini