Alasan PDIP Angkat Tema Jalur Rempah pada Rakernas 2020

Fahreza Rizky, Okezone · Senin 23 Desember 2019 13:17 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 23 337 2145157 alasan-pdip-angkat-tema-jalur-rempah-pada-rakernas-2020-bbi7N1T2Fh.jpg Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan soal alasan pengabilan tema Jalur Rempah pada Rakernas 2020 (Foto: Okezone.com/Fahreza)

JAKARTA - PDI Perjuangan (PDIP) megklaim telah menentang arus dengan mengangkat tema 'jalur rempah' di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I 2020 sekaligus perayaan HUT ke-47 partai.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menyadari isu 'jalur rempah' tidak seksi dalam konteks isu politik nasional. Namun, pihaknya juga tak ingin pentas politik nasional sekadar dikuasai oleh isu politik kekuasaan yang liberal.

"Kami justru melihat bangsa kita sebenarnya lebih butuh gagasan yang menggelorakan kemajuan dan semangat berdikari," kata Hasto saat membuka diskusi sebagai rangkaian acara acara menuju peringatan HUT ke-47 dan Rakernas I, Senin (23/12/2019).

Ilustrasi

Hasto berujar, PDI Perjuangan ingin mengajak masyarakat dan pelaku pentas politik nasional berbicara soal kuliner Indonesia yang paling lengkap sedunia. Ia juga menceritakan Presiden RI pertama, Soekarno, pernah membuat buku 'Mustika Rasa' yang berisi lebih dari seribu resep makanan cita rasa khas Indonesia.

"Saking kayanya, bahkan makanan terenak di dunia versi CNN.com itu adalah rendang. Dan nomor dua adalah nasi goreng. Dan keduanya dari Indonesia," ujarnya.

Dengan mengangkat tema yang tidak mainstream seperti itu, kata Hasto, pihaknya justru sedang berusaha mengajak Indonesia untuk melihat keluar. Ada pesan kuat bahwa daripada terus ribut di dalam negeri sendiri, saling mencaci dan mengkafirkan, Indonesia justru butuh kemajuan untuk bisa bersaing di tingkat dunia.

"Maka kami mengajak untuk outward looking," imbuhnya.

Lewat kajian jalur rempah, PDIP ingin mengajak masyarakat melihat politik dari aspek substansi kekuatan sumber daya sendiri. Ke depan, yang disasar adalah bukan ukuran kemakmuran berdasarkan indeks Bank Dunia, namun kemampuan riil masyarakat untuk hidup sehari-hari.

"Kita memilih tanah subur, cuaca yang mendukung. Maka berpolitik bagi kami adalah dalam pengertian membumi, bagaimana membentuk kehidupan kita berdasar apa yang kita punya itu," kata Hasto.

"Jadi ilmu yang kita gali bukan ilmu ke Mars, tapi bagaimana mengolah rempah dan sumber daya kita dengan berbasis ilmu dan teknologi kita sendiri. Dan kami mencari ruang berpolitik bukan berantem demi kekuasaan. Jadi politik yang substansi," tegas pria asal Yogyakarta itu.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini