nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Demi Bertahan Hidup, Nenek Sinot 20 Tahun Lakoni Tukang Sapu Jalan

Hambali, Okezone · Sabtu 21 Desember 2019 13:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 21 337 2144588 demi-bertahan-hidup-nenek-sinot-20-tahun-lakoni-tukang-sapu-jalan-LxhXQHXT1n.jpg Nenek Sinot saat menyapu jalanan di Tangsel (foto: Okezone.com/Hambali)

TANGERANG SELATAN - Usia senja tak membuat nenek Sinot (78) pasrah dan menyerah menjalani kerasnya tuntutan hidup. Saban hari, dia harus berjalan kaki cukup jauh untuk mengais rejeki sebagai penyapu jalan di Taman Kota 2, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel).

Nenek Sinot merupakan warga pribumi yang tinggal di Kampung Buaran, Serpong. Dia menyandang sebutan sebagai buyut, karena kedua anaknya Usman dan Encin sama-sama telah memberikan cucu hingga cicit.

Sang suami bernama almarhum Mamat, meninggal dunia sekira 2 tahun lalu karena sakit. Selepas itu, praktis Nenek Sinot harus kerja ekstra keras demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

 Nenek Sinot

Di rumah kecilnya itu, Nenek Sinot tinggal bersama putranya, Usman. Sehari-hari Usman hanyalah kuli pada pabrik pembuatan batako. Pendapatannya pas-pasan untuk makan dan minum. Itulah sebab, Nenek Sinot tak mau membebankan kebutuhan hidup pada sang anak.

"Kalau saya sudah punya cicit. Sekarang tinggal sama anak di rumah, tapi saya nggak mau jadi beban karena saya terbiasa cari nafkah sendiri dari waktu muda," tuturnya kepada Okezone, Jumat (20/12/2019).

Nenek Sinot berkesempatan menceritakan kisah hidupnya kepada Okezone. Dia mengatakan jika pada masa muda pekerjaannya adalah seorang petani. Kala itu, ladang dan sawah milik orang tua masih terbentang luas.

"Waktu muda dulu bertani di sawah, dari nenek moyangnya memang begitu ya kita ikutin aja," sambungnya.

 Liputan Khusus

Namun seiring perkembangan dan kemajuan zaman, ladang sawah sedikit demi sedikit telah tergusur berganti pembangunan. Hingga pada waktunya, tak ada lagi sawah yang tersisa. Pada saat itulah, Nenek Sinot mulai berganti pekerjaan.

"Udah pada nggak ada lagi sawah, semua dibangun. Terus mau nggak mau saya harus tetap cari nafkah, cari rejeki. Akhirnya banyak yang nawarin ikut jadi tukang sapu jalan," ucap dia.

Sejak awal menjadi tukang sapu, Nenek Sinot hanya diupah sebesar Rp10 ribu dalam sepekan. Kini setelah sekira 20 tahun berlalu, upahnya mengalami penambahan menjadi sekira Rp180 ribu seminggu. Pendapatan itu memang jauh di bawah kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Habis mau kerja apalagi, memang dari dulu jadi tukang sapu. Ijazah sekolah juga nggak punya, jadi walaupun upah segini yang penting halal," lanjutnya.

Saat ditemui di area Taman Kota 2, Nenek Sinot beserta ibu-ibu berusia senja lainnya tengah bekerja menyapu sampah yang berserakan. Tiap hari, dia mulai bekerja dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB. Tercatat, ada 10 penyapu jalan di lokasi itu.

"Kerjanya Senin sampai Sabtu, kalau hari Minggu libur. Kalau habis dibayar, baru bisa beli beras sayur sama lauk setok buat seminggu ke depan. Memang nggak cukup, nanti anak saya Usman yang bantu nutupi kebutuhan lainnya," terangnya.

Menurut Nenek Sinot, seringkali dia harus terhenti tiba-tiba saat menyapu. Hal itu dikarenakan bagian kaki dan dengkulnya berasa lemas dan nyeri. Jika demikian, Nenek Sinot memilih beristirahat sejenak di bawah rerimbunan pohon Taman Kota 2.

"Ini pinggang sering nyeri, sama dengkul lemas gemeteran. Kalau udah begitu, nenek istrahat dulu sebentar baru dilanjut lagi. Mungkin faktor usia juga," ungkapnya.

 Nenek Sinot

Sebelumnya, upah para penyapu jalan di Taman Kota 2 dibayarkan oleh pihak swasta BSD. Namun sejak 2 tahun belakangan, pembayaran upah sepenuhnya ditanggung oleh pengelola perparkiran Taman Kota 2.

"Ini yang bayar upah anak-anak yang mengelola parkir di sini. Alhamdulillah ada kepedulian, jadi kita masih bisa cari nafkah di sini," terangnya.

Apa yang dilakukan Nenek Sinot memberi motivasi luas bagi banyak kalangan, khususnya kalangan perempuan dan generasi muda, bahwa mereka tak boleh menyerah dengan keadaan maupun keterbatasan.

"Kita kerja apa saja yang penting halal. Jangan sampai hidup karena dikasihani orang lain, apalagi dengan meminta-minta," lanjutnya.

Secara logis pada umumnya, kondisi fisik dengan usia renta sepertinya sudah harus beristirahat penuh tanpa memusingkan kebutuhan makan dan minum. Namun fakta di lapangan menunjukkan, cukup banyak perempuan berusia senja yang masih bekerja keras demi mengais sesuap nasi.

Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Sosial KotaTangsel, Wahyunoto Lukman, menjelaskan, bahwa Nenek Sinot bisa mendapatkan bantuan dari program pemerintah terhadap warga tak mampu. Di antaranya adalah Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH).

"Kita yang proses. Kalau dia sesuai kriteria, memang keluarga tidak mampu nanti kita usulkan. Tetapi kita juga kan ada kuota, jadi nggak semua yang kita usulkan langsung diakomodir. Jadi kita ada kuota, ketika ada keluarga yang sudah meningkat keadaannya, dan kemudian masih ada sisa kuota maka yang diinput tadi bisa langsung menerima," bebernya dikonfirmasi terpisah.

Diterangkan Wahyunoto, pihaknya prihatin atas kondisi yang dialami Nenek Sinot. Untuk itu, jajarannya akan memastikan lebih dulu apakah Nenek Sinot sudah masuk ke dalam data Kesejahteraan Sosial Terpadu yang ada.

"Kalau belum terdata akan diinput segera, itu by sistem, langsung otomatis terinput. Tapi kalau ternyata dia sudah terdata, berarti memang dia sedang dalam antrian pemberian bantuan," tambahnya.

Pihak Dinsos pun akan memberikan solusi sementara, agar Nenek Sinot mendapat bantuan bagi keluarga rentan yang menggunakan dana APBD Kota Tangsel. Bantuan itu berupa bahan pokok, seperti beras, minyak goreng, telur, dengan nilai bantuan sesuai kondisi penerima bantuan.

"Jadi kita berikan nanti bantuan bagi keluarga rentan, untuk pemenuhan kebutuhan dasar yang bersifat sementara. Tapi tidak bisa terus menerus, karena sifatnya sementara. Nilainya tergantung keadaannya, karena bisa jadi selain kebutuhan pokok si penerima butuh juga kebutuhan lain seperti popok, selimut, pembalut, tenda, dan lainnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Wahyunoto mengimbau agar perangkat lingkungan di masing-masing wilayah berperan aktif mengecek kondisi sosial warganya. Jika diketahui ada warga yang masuk kategori keluarga rentan, maka harus segera dilaporkan ke Dinsos Tangsel untuk dilakukan tindak lanjut.

"Mohon bantuannya, agar segera jika ada fotokopi KTP dan KK-nya dinfokan ke kami biar langsung kami cek dan proses. Sehingga Nenek Sinot ini bisa mendapat program bantuan bagi keluarga rawan sosial-ekonomi," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini