Sopiyah, Ibu yang Tak Kenal Lelah

Isty Maulidya, Okezone · Sabtu 21 Desember 2019 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 20 337 2144294 sopiyah-ibu-yang-tak-kenal-lelah-kO9Pjs2KoD.jpg Sopiyah bekerja banting tulang untuk anak (Foto: Okezone/Isty)

TANGERANG - Salah satu peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun adalah menjadi ibu. Perannya tidak sedikit meskipun seringkali diabaikan, namun tugas ibu yang tak mengenal batas waktu menjadikannya sosok yang tangguh. Tugas ibu identik dengan mendidik anak-anak, nyatanya seorang ibu bisa melakukan tugas apa saja termasuk mencari nafkah.

Sopiyah (45) salah satunya, di usia yang sudah terbilang cukup senja ini dirinya masih semangat mengais rupiah lewat tumpukan kain yang dijahitnya. Hal tersebut dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak kenal lelah, Sopiyah sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak sepuluh tahun yang lalu.

"Sejak suami meninggal, saya kerja sendirian. Kalau dulu waktu suami saya masih sehat, saya di rumah kuli nyuci di rumah orang" jelasnya.

Perempuan yang biasa dipanggil bu Ncop itu bercerita, setelah sang suami lumpuh karena stroke yang dideritanya, Sopiyah mulai banting tulang mencari pekerjaan tambahan untuk membiayai kebutuhan rumah dan biaya berobat suaminya. Saat itu, anak-anaknya masih bersekolah sehingga beban yang ditanggungnya amat berat. Namun hal itu tidak menjadi soal, asal kebutuhan keluarganya tercukupi lelah pun tidak dirasakan.

Lipsus Hari Ibu

Selain bekerja sebagai penjahit di salah satu industri baju rumahan di bilangan Periuk, Kota Tangerang, Ncop juga sesekali membantu tetangganya untuk sekedar cuci dan setrika pakaian. Terkadang juga menerima panggilan untuk pijat badan dari tetangganya.

"Ya saya sih kerja apa saja. Kalau ada yang panggil buat cuci saya terima, sekarang juga tetangga suka minta buat kerokan atau urut (pijat)" katanya.

Sopiyah sesekali merasa lelah, kadang dia juga ingin seperti orang tua lainnya yang sudah beristirahat di usia senja. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa selain tetap bekerja. Dua anaknya memang sudah bekerja, namun keadaannya tak jauh berbeda dengan dirinya. Bahkan, anaknya yang pertama masih ikut tinggal dengan dirinya meskipun sudah berkeluarga.

"Mau gimana lagi ya, anak-anak juga masih numpang saya. Kalau saya gak kerja, gimana buat sehari-hari," jelasnya.

Di singgung soal bantuan, Sopiyah mengaku bahwa dirinya sering mendapat bantuan saat anak-anaknya masih bersekolah. Bantuan yang didapat saat itu berupa beasiswa dari sekolah untuk anaknya. Saat itu anak-anaknya juga sering mendapat bantuan dari berbagai lembaga apalagi saat hari besar agama islam. Akan banyak bantuan mengalir untuk anak-anaknya. Namun, sekarang dirinya mengaku sudah jarang mendapatkan bantuan karena anaknya sudah beranjak dewasa.

"Suami saya meninggal waktu anak-anak masih kecil, banyak yang kasih santunan anak yatim, SPP sekolah juga dipotong. Tapi sekarang jarang ada. Paling kalau lebaran," akunya.

Perayaan hari Ibu menurut Sopiah sama seperti hari-hari biasanya. Tidak ada yang spesial di setiap tanggal 22 Desember. Dirinya tetap bangun pagi seperti biasa, lalu menyiapkan sarapan untuk dirinya dan anak-anak, sesekali juga mengurus cucunya, setelah itu Sopiyah akan bekerja sampai sore.

"Biasa saja, gak gimana-gimana. Dari dulu juga begitu, anak-anak juga biasa biasa saja," jelas Sopiyah.

Sopiyah hanya berharap agar anak-anaknya bisa mandiri dan tidak bergantung pada dirinya lagi. Ia hanya ingin menikmati masa tuanya dengan nyaman dan tenang tanpa memikirkan masalah keuangan. Sopiyah juga berharap semoga apa yang dialaminya saat ini tidak dialami oleh anak-anaknya.

"Saya maunya sekarang istirahat saja, banyakin ibadah, main sama cucu. Tapi anak-anak belum mandiri, saya gak bisa lepas begitu saja. Semoga nanti mereka hari tuanya senang," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini