Memecah Batu Sambil Mengasuh Anak, Tummi Hanya Dibayar Rp2.500

Fathnur Rohman, Okezone · Sabtu 21 Desember 2019 09:33 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 20 337 2144251 memecah-batu-sambil-mengasuh-anak-tummi-hanya-dibayar-rp2-500-jhkl4DFpUZ.jpg Tummi harus perkasa saat memecah batu namun tetap harus lemah lembut menidurkan anak (Foto: Okezone/Fathnur)

CIREBON - Setiap harinya Tummi (42), rela membanting tulang bekerja sebagai pemecah batu di kolong jembatan layang, Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tummi terpaksa melakukan pekerjaan kasar tersebut, lantaran ingin membantu suaminya bernama Jarkoni (58) untuk mencari nafkah. Pasalnya, Jarkoni saat ini sudah tidak bisa lagi bekerja secara maksimal sebagai pengayak (penyaring) pasir.

Dijelaskan Tummi, salah satu bagian kaki milik suaminya itu terpaksa harus diamputasi setelah mengalami kecelakaan kerja. Suaminya biasa diberi upah sebesar Rp. 50 ribu setiap kali mengayak pasir yang dibawa oleh satu mobil truk.

Tummi Hari Ibu

"Paling besar itu bisa Rp250 ribu. Tapi itu kan enggak tiap hari. Suami saya kalau kerja agak terganggu, soalnya bagian kakinya ada yang diamputasi," ujar Tummi kepada Okezone, Rabu, 17 Desember 2019.

Tummi menyampaikan, saat pergi ke kolong jembatan, dirinya harus membawa kedua anaknya yakni Siti Rukoyah (4) dan Raisa Khaira Wilda (5). Ia tidak tega jika harus meninggalkan kedua anaknya itu di rumahnya.

Selain Raisa dan Rukoyah, Tummi memiliki dua anak lainya yakni Muhammad Syafiurohman (13) serta Siti Kuswati (11). Syaifurohman saat ini sedang menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Cirebon. Sementara Kuswati sebentar lagi akan masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Tummi Hari Ibu

"Kalau ditinggal di rumah kan kasian, yang anak laki-laki lagi mondok. Satunya yang perempuan mau masuk SMP" tambahnya.

Tummi pun harus membagi kosentrasinya saat bekerja. Ia terkadang meluangkan waktu untuk mengasuh kedua anaknya, setelah beberapa kali memecahkan batu menggunakan palu.

Dalam sehari Tummi bisa memecahkan batu sebanyak lima rinjing (keranjang yang terbuat dari bambu). Satu rinjingnya dihargai Rp2.500. Jika dihitung, menurut Tummi ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp12.500. Tummi juga mengaku bisa memecahkan batu paling banyak sekitar 20 rinjing setiap minggunya.

Tidak setiap hari batu yang dipecahkan Tummi bisa terjual. Bahkan sudah dua bulan ini batu yang ia pecahkan menumpuk. Tummi kemudian terkadang ikut bersama suaminya mengayak pasir.

"Mungkin lagi gak ada proyek. Jadi gak ada yang beli batunya, " katanya.

Tummi menuturkan, bahwa batu yang ia pecahkan bukan berasal dari sungai. Batu tersebut ia dapatkan ketika mengayak pasir. Saat pasir sudah selesai disaring, maka batu-batu yang sempat bercampur akan tertinggal. Batu-batu itu kemudian akan dipisahkan dan dibawa oleh Tummi.

Lipsus Hari Ibu

"Kalau ngambil sungai di dekat sini kan gak bisa. Saya bawa anak. Jadi saya ambil kalo selesai ngayak pasir, " ungkapnya.

Sebenarnya, penghasilan dirinya dan suaminya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia sering berhutang kepada pemilik warung ketika membeli kebutuhan pokok seperti beras, minyak, sayuran, dan lainnya.

Dari pekerjaannya sebagai pemecah batu, Tummi berharap bisa meringankan beban suaminya, meskipun penghasilan yang ia dapat sangat minim. Ia juga sangat ingin melihat anak-anaknya sukses dikemudian hari. "Harapan saya sih, semoga anak-anak saya bisa sukses nantinya," ucap dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini