Tak Ada Hari Ibu untuk Tummi, yang Ia Tahu Hanya Bekerja Memecah Batu

Fathnur Rohman, Okezone · Sabtu 21 Desember 2019 09:03 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 20 337 2144242 tak-ada-hari-ibu-untuk-tummi-yang-ia-tahu-hanya-bekerja-memecah-batu-R3xoIGnoHz.jpg Tummi harus perkasa saat memecah batu namun tetap harus lemah lembut menidurkan anak (Foto: Okezone/Fathnur)

CIREBON - Suara bising kendaraan roda empat terdengar dari atas jembatan layang. Di bawahnya, seorang perempuan berpakaian lusuh bercampur keringat terlihat sedang berusaha menidurkan kedua anaknya.

Pagi itu, Rabu, 17 Desember 2019, sekira pukul 10.00 WIB saat ditemui Okezone, Tummi (42) baru saja tiba di tempat kerjanya. Ia tidak memakai jas ataupun kemeja layaknya seorang wanita karir. Perempuan tamatan Sekolah Dasar (SD) ini setiap harinya menggantungkan nasib, dengan memecahkan puluhan batu serta mengayak (menyaring) pasir, di kolong jembatan layang, Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Kerasnya tuntutan hidup memaksa Tummi menjadi seorang pemecah batu. Apalagi, suaminya yang bernama Jarkoni (58) sudah tidak mampu bekerja secara maksimal. Salah satu bagian kakinya diamputasi setelah mengalami kecelakaan kerja. Kini Tummi mencoba membantu suaminya untuk mencari nafkah. Tak ada ucapan hari ibu untuk Tummi, tak ada pula apresiasi dari pemerintah, Tummi hanya setia pada batu-batunya.

Tummi Hari Ibu

"Suami saya mengalami kecelakaan. Dia hampir tertimbun longsor saat menggali pasir di Argasunya. Bagian kakinya ada yang diamputasi," kata Tummi Kepada Okezone, di sela-sela kegiatannya.

Bagi Tummi kolong jembatan itu sudah menjadi rumah keduanya. Bahkan, ia dan suaminya mendirikan sebuah gubuk bambu untuk dipakai beristirahat. Dirinya tidak merasa khawatir terguyur air hujan ataupun tersengat sinar matahari ketika sedang memecahkan batu, karena jembatan tersebut melindunginya.

Tummi juga harus membawa kedua anaknya yakni Siti Rukoyah (4) dan Raisa Khaira Wilda (5) ke kolong jembatan. Saat salah satu tangannya sibuk memecahkan batu satu per satu, sesekali tangan lainnya menggendong dan mengayunkan ayunan agar anaknya tertidur.

Lipsus Hari Ibu

Tummi memang harus membagi kosentrasinya saat memecah batu dan mengasuh kedua anaknya. Sorot matanya tajam, ketika anak-anaknya berada di dekatnya. Raisa serta Rukoyah sejak kecil sudah akrab dengan lingkungan tempat ibunya bekerja. Meski kotor dan berdebu, mereka tetap asyik bermain sembari menemani ibunya bekerja.

Keberadaan Raisa dan Rukoyah menjadi obat penyemangat bagi Tummi. Sebenarnya Tummi tidak tega untuk membawa kedua anaknya itu. Ia tidak punya pilihan lain. Dirinya merasa khawatir apabila meninggalkan kedua anaknya itu di rumahnya, di Kedung Krisik, Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Selain Raisa dan Rukoyah, Tummi memiliki dua anak lainya yakni Muhammad Syafiurohman (13) serta Siti Kuswati (11). Syaifurohman saat ini sedang menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Cirebon. Sementara Kuswati sebentar lagi akan masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP)

"Kalau ditinggal di rumah kan kasian, yang anak laki-laki lagi mondok. Satunya yang perempuan mau masuk SMP" tambahnya.

Tubuh Tummi memang tidak begitu perkasa. Namun, ia masih sempat mengerjakan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri. Sebelum ia berangkat untuk memecahkan batu, mula-mula ia akan mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci piring, serta lainnya. Tummi juga masih sempat mengantarkan anaknya pergi ke sekolah.

Tummi Hari Ibu

Dalam satu hari Tummi bisa memecahkan batu sebanyak lima rinjing (keranjang yang terbuat dari bambu), sembari mengasuh kedua anaknya. Satu rinjing biasa dihargai Rp2.500. Jika dihitung, menurut Tummi ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp12.500. Tummi juga mengaku bisa memecahkan batu hingga 20 rinjing setiap minggunya.

"Ini (gubuk bambu) biasa dipakai buat istirahat sama salat. Saya paling banyak bisa memecahkan batu sampai 20 rinjing. Sehari bisa 5 rinjing. Satu rinjing dihargai Rp. 2.500," ujar Tummi.

Tetap Ikhlas Meski Bekerja Sebagai Pemecah Batu

Tidak setiap hari batu yang dipecahkan Tummi bisa terjual. Bahkan sudah dua bulan ini batu yang ia pecahkan menumpuk, karena tidak ada yang membelinya. Untuk mensiasati hal tersebut, Tummi bersama suaminya terkadang harus mengayak pasir. Tummi biasa diberi upah sebesar Rp. 50.000 untuk satu mobil truk yang membawa pasir.

Meski uang yang didapatnya dari mengayak pasir lebih besar dari harga batu, tidak setiap hari ada mobil truk datang membawa pasir. Penghasilannya tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia terkadang sering berhutang kepada pemilik warung ketika membeli kebutuhan pokok seperti beras, minyak, sayuran, dan lainnya.

Pegal dan letih yang dirasakan tubuhnya sudah menjadi resiko pekerjaannya. Tummi juga pernah mengalami lecet pada bagian tanggannya saat memecahkan batu. Menurut Tummi, dirinya tetap ikhlas mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari pecahan batu dan pasir. Jika ia tidak bekerja, lalu siapa lagi yang akan membantu suaminya mencari uang.

"Tidak setiap hari batu ke jual. Kalau ada pasir juga kadang-kadang. Saya ikhlas mengerjakan pekerjaan ini, " tutur Tummi.

Tidak hanya Tummi seorang yang menjadi pemecah batu di kolong jembatan itu. Ada keluarga dan kerabatnya yang bernasib sama dengannya.

Tummi Hari Ibu

Disampaikan Tummi, sering terjadi perdebatan atau adu mulut antara sesama pemecah batu di kolong jembatan tersebut. Biasanya dipicu oleh permasalahan kecil, seperti berebut tempat saat mengambil pasir di sungai, bisa juga merasa iri karena batu mereka tidak laku terjual. Tummi sendiri acuh dengan hal tersebut. Menurutnya rezeki manusia sudah diatur oleh tuhan.

Dari pekerjaannya sebagai pemecah batu, Tummi berharap bisa meringankan beban suaminya. Ia juga sangat ingin melihat anak-anaknya sukses dikemudian hari. "Harapan saya sih, semoga anak-anak saya bisa sukses nantinya, " ucap dia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini