nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejarah Cinta Orangtua Soekarno, Tak Seindah Sinetron tapi Menginspirasi

Adi Rianghepat, Jurnalis · Minggu 22 Desember 2019 07:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 20 337 2144224 sejarah-cinta-orangtua-soekarno-tak-seindah-sinetron-tapi-menginspirasi-GL99RYz7y8.jpg Keluarga Soekarno (Ist)

SIAPA pernah menyangka jika di balik nama besar Soekarno sang pendiri bangsa dan Presiden Pertama RI, terdapat sosok ibu dan bapak yang memiliki keteguhan luar biasa mempertahankan cinta sejati hingga harus berurusan ke pengadilan? Bahkan sang ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang pada masa kecil lazim disapa Srimben harus membayar denda ke pengadilan 25 ringgit.

Memang perjalanan cinta kedua orangtua Soekarno tak semulus ragam kisah sinetron dan dongeng dengan cerita indahnya. Alasan latar belakang keluarga, status, suku dan agama jadi dasar pertimbangan penolakan hubungan orang tua dan keluarga Ida Ayu dengan sang kekasihnya Raden Soekemi Sosrodihardjo yang hanyalah seorang guru beragam islam dan berasal dari Jawa.

Sebuah situasi yang wajar ketika itu, karena Ida Ayu Nyoman Rai yang lahir pada 1881 itu adalah anak kedua dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran yang kala itu adalah orang terpandang daerahnya. Bahkan Srimben semasa remaja di Banjar Bale Agung Singaraja, memiliki aktivitas utama membersihkan pura saban waktu pagi dan petang. Aktivitas ini sejalan dengan nama kecil pemberian orangtuanya Srimben yang artinya limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.

Ilustrasi

Kerasnya penolakan orang tua Srimben dan keluarganya atas hubungannya dengan kekasihnya itu, tak menyurut semangat dan upayanya untuk terus membina cintanya dengan sang kekasih. Kedua sejoli itupun harus memilih kawin lari dengan menginap di sebuah rumah seorang kepala polisi, teman dekat Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Pernikahan pun dilangsungkan pada 1897 setelah sebelumnya pengadilan mengadili kedua pasangan itu untuk memastikan tak ada paksaan atas perkawinan yang sejati itu, meskipun Srimben harus membayar denda 25 Ringgit.

Usai menikah, orangtua Soekarno lalu hijrah ke Surabaya. Keduanya terus menjalani bahtera kehidupan rumah tangganya di kota itu hingga pada 6 Juni 1901 Nyoman Rai Srimben melahirkan Soekarno di sebuah rumah di sekitar pemakaman Belanda, Kampung Pandean III, Surabaya.

Orangtua Soekarno

Nyoman Rai Srimben dikenal memiliki akhlak baik dan taat agama. Di dalam dirinya mengalir keras bekal spiritual Hindu yang diperoleh dari kedua orang tuanya. Bekal spiritiual itulah lalu diturunkan ke anak-anaknya termasuk Soekarno.

Waktu terus berjalan, suatu ketika Nyoman Rai Srimben harus mengikuti suaminya pindah ke kota kecil di kecamatan Ploso (Jombang). Di daerah itu Soekarno selalu mendapat sakit. Soekarno pun akhirnya diputuskan untuk pindah ke Tulung Agung agar mendapatkan perawatan dari mertuanya (nenek Soekarno).

Nyoman Rai Srimben kembali mengasuh Soekarno saat orangtuanya pindah ke Mojokerto. Di sinilah saudari perempuan Soekarno (anak pertama) mereka, Raden Soekarmini (juga dikenal sebagai Bu Wardoyo) menikah. Kakak Soekarno itu lahir pada tanggal 29 Maret 1898.

Nyoman Rai Srimben memang sosok setia dan bertanggung jawab atas pendidikan dan masa depan anaknya. Kala Soekarno dewasa, Nyoman Rai Srimben memasukan anaknya bersekolah di Surabaya. Meskipun dia harus mengikuti sang suami pindah ke Blitar, Soekarno tetap terus bersekolah di Surabaya. Nyoman Rai Srimben lalu menitipkan Soekaro ke rumah HOS Cokroaminoto.

Kesetiaannya kepada suaminya tak pernah luntur meskipun di Blitar dia harus tinggal di asrama sekolah yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Umum I Blitar dan dipercaya untuk mengelola asrama sekaligus mengurus makan para pelajar yang tinggal di asrama tersebut. Kondisi itu tak pernah ditolaknya. Nyoman Rai Srimben terus melaksanakan tugasnya itu sepenuh hati tanpa bersungut sedikit pun.

Setia Hadapi Sejumlah Masalah

Bahtera rumah tangga Nyoman Rai Srimben dan suaminya Raden Soekemi Sosrodihardjo terus berjalan seiring dengan bertumbuhnya Soekarno menjadi dewasa di era perjuangan bangsa saat masa penjajahan Belanda.

Naluri pergerakan yang membara di sanubari Soekarno telah mengusik kenyamanan dan eksistensi Pemerintah Belanda saat itu. Soekarno pun akhirnya harus ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Sukamiskin Bandung.

Ini persoalan awal yang harus dialami Nyoman Rai Srimben. Betapa tidak cintanya kepada putranya itu melebihi segalanya. Seakan tak mamu membiarkan Soekarno menderita, Nyoman Rai Srimben lalu menuju Bandung untuk menyelamatkan anaknya. Namun apa yang diperoleh. Malah bentakan dan usiran yang didapat saat Nyoman Rai Srimben berdialog dengan petugas penjara Sukamiskin.

Dendam sang ibu terhadap kolonial Belanda pun terpantik sejak saat itu. Kebenciannya terhadap Belanda sejak itu mulai lahir di dalam dirinya. Meskipun begitu, Nyoman Rai Srimben terus saja berjuang untuk membebaskan puteranya Soekarno. Persoalan itulah akhirnya membuat Belanda menyebarkan pasukannya untuk terus mengawasi pergerakan Nyoman Rai Srimben dan keluarganya. Bahkan kediamananya di Blitar diawasi tentara Belanda.

Ilustrasi

Persoalan yang menimpa Soekarno itulah akhirnya membuat Nyoman Rai Srimben meminta suaminya untuk pensiun dini sebagai guru dari Kementerian Pendidikan Belanda di Batavia.

Tak berhenti di situ, terpaan persoalan masih terus terjadi. perasaan dan ketegaran seorang ibu Nyoman Rai Srimben terus saja dicoba. Meskipun harus sedih, namun Nyoman Rai Srimben tetap saja ikhlas menerima, dikala mendengar perceraian Soekarno dan Inggit dan selanjutnya menikahi Fatmawati.

Ketabahan seorang ibu benar-benar diuji. Dan sosok Nyoman Rai Srimben benar-benar tabah melewati gelombang badai persoalan ini hingga memuncak saat kematian sang suami Raden Soekemi Sosrodihardjo pada 18 Mei 1945 karena sakit. Di tengah kesendiriannya, Nyoman Rai Srimben lalu kembali ke Blitar dan melewati hari-hari akhir hidupnya hingga mangkat pada 12 September 1958.

Pelopor Penghapusan Rasis

Perjalanan hidup yang keras dengan sejumlah terpaan masalah yang dialami Nyoman Rai Srimben sejak mengawali kisah cintanya dengan sang suami hingga akhir hayatnya telah menjadikannya sebagai pelopor penghapusan sara.

Dalam benaknya tak pernah terlintas sedikitpun soal status sosial, suku, agama, ras dan golongan yang harus dipertentangkan. Nyoman Rai Srimben menjalankan seluruh kehidupannya apa adanya. Meskipun faktanya kedua orang tua sangat melihat pentingnya kesamaan status sosial, namun tidak untuk Nyoman Rai Srimben. Dia tak pernah menolak dipersunting sang suami meskipun berbeda suku, agama dan status sosial.

Cintanya mengalahkan segalanya. Cinta sosok Nyoman Rai Srimben terhadap suaminya telah menghapus segala bentuk pertimbangan suku, agama, ras, golongan dan status sosial.

Setidaknya cara hidup dan pilihan Nyoman Rai Srimben itulah lalu merasuki hati dan sanubari puteranya Soekarno dalam menjalankan kehidupannya sebagai pendiri bangsa ini. Mempersatukan nusantara menjadi satu bukti bahwa perbedaan suku, agama, ras, golongan dan status sosial bukan harus dipertentangkan. Nusantara disatukan dalam perbedaan yang memperkaya bangsa ini yang kita sebut Republik Indonesia.

Nilai soal penghapusan sara yang dijalani Nyoman Rai Srimben setidaknya akan terus berbuah dan menjadi inspirasi bagi seluruh anak bangsa yang berdiam di bumi pertiwi Indonesia ini.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini