Ancaman Konflik Sosial Jelang Pilkada 2020, Pengamat Ungkap 3 Penyebabnya

Sarah Hutagaol, Okezone · Jum'at 20 Desember 2019 06:23 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 20 337 2144078 ancaman-konflik-sosial-jelang-pilkada-2020-pengamat-ungkap-3-penyebabnya-7llsxx9LWT.jpg Ilustrasi (Dok. Okezone)

JAKARTA - Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati membenarkan salah satu potensi adanya gesekan dan konflik sosial yang terjadi di publik dalam perhelatan Pemilu berasal dari media sosial.

Menurut Devie, konflik tersebut terjadi berawal dari diskusi-diskusi yang dilakukan oleh pengguna media sosial yang berhasil disusupi oleh berita dan juga informasi tidak benar atau hoaks.

Ilustrasi Shutterstock

Hal ini pun selaras dengan pernyataan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Kepolisian Negara Polri, Irjen Agus Andrianto yang mencatat ada puluhan konflik sosial didorong dari media sosial yang terjadi dalam Pilpres dan Pilkada karena tidak bisa menelaah kebenaran informasi.

"Yang membuat masyarakat menjadi terpecah, dan kemudian mendorong adanya konflik di lapangan," ucap Devie kepada Okezone, Kamis (19/12/2019).

Devie menjelaskan terdapat beberapa faktor yang membuat masyarakat pada umumnya mudah dengan cepat terbawa arus berita bohong, yakni alasan biologis, sosiologis, dan juga psikologis.

Alasan biologis, menurut Devie, masyarakat memiliki keterbatasan kemampuan untuk mengungkap, dan mengenali secara dalam berita serta informasi yang diterima apakah benar atau tidak.

"Secara sosiologis memang masyarakat umum memiliki rezim kecepatan yang sudah menjadi kehidupan masyarakat modern. Artinya orang ingin berlomba-lomba yang menjadi terdepan, terkini untuk menyampaikan informasi, tanpa peduli apakah itu benar atau tidak," paparnya.

Baca Juga : Soal Anggota Dewan Pengawas KPK, Komisi III Harap Presiden Tak Salah Pilih

Adapun secara psikologis, masyarakat selalu memiliki keinginan untuk mendapatkan apresiasi. Karena itu, mereka biasanya akan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya agar mendapatkan apresiasi tersebut.

"Kalau media sosial kan bentuk apresiasinya melalui likes, banyaknya love, dan pengikut. Itu yang membuat informasi apapun disebarkan melalui media sosial," tutup Devie.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini