nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kaleidoskop 2019: Jokowi-Prabowo, 'Berseteru' lalu Bersatu

Salman Mardira, Jurnalis · Jum'at 20 Desember 2019 10:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 19 337 2144002 kaleidoskop-2019-jokowi-prabowo-berseteru-lalu-bersatu-G5a3RCUkOs.jpg Joko Widodo-Prabowo Subianto. (Foto : Okezone.com/Arif Julianto)

PILPRES 2019 berlangsung panas dan seru. Persaingan Joko Widodo dan Prabowo Subianto ketat, disertai polarisasi masyarakat. Suhu politik redam setelah capres 01 dan 02 yang semula berseteru saat kontestasi akhirnya bersekutu dalam pemerintahan.

Rabu 17 April 2019, hari bersejarah bagi Indonesia karena pertama kali sepanjang riwayat, Pilpres dan Pileg digelar serentak.

Pileg diikuti 16 partai politik nasional. Khusus Aceh, pesertanya bertambah dengan empat partai lokal. Sedangkan Pilpres diisi dua pasangan; Jokowi-KH Ma’ruf Amin nomor urut 01, Prabowo-Sandiaga Uno nomor 02.

Namun, ingar-bingar Pileg kalah gaung dari Pilpres yang penuh intrik. Pertarungan Jokowi versus Prabowo paling menarik perhatian.

Jokowi-Ma'ruf Amin. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

Jokowi-Ma’ruf didukung Koalisi Indonesia Kerja gabungan PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP, Hanura, Perindo, PSI, PBB, dan PKPI. Sedangkan Prabowo-Sandi di-support Gerindra, PKS, PAN, Demokrat, dan Berkarya dalam gerbong Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.

Dimulai dari penunjukan cawapres. Jokowi yang hampir dipastikan berpasangan dengan Mahfud MD, tiba-tiba mengumumkan KH Ma’ruf Amin sebagai pendamping.

Prabowo-Sandiaga Uno Maju sebagai Pasangan Capres-Cawapres

Prabowo juga demikian. Ijtimak Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) merekomendasikan Ustadz Abdul Somad dan Salim Segaf Al-Jufri sebagai cawapres, tapi Ketua Umum Gerindra memilih Sandiaga Uno.

Polarisasi

Pilpres yang diikuti dua pasangan membuat masyarakat terbelah. Polarisasi mewarnai pertarungan hingga berdampak pada maraknya permainan isu SARA, politik identitas, sentimen asing, hingga tuduhan PKI.

Isu SARA dan politik identitas mencuat sejak Pilkada DKI Jakarta 2017, lalu berimbas ke Pilpres 2019.

Refleksi Pergantian Tahun, Pidato SBY Tekankan Ini

“Pertama kali dalam sejarah pemilu kita diwarnai oleh politik identitas yang melebihi takarannya. Juga pertama kali terjadi banyak korban jiwa, baik karena kekerasan maupun bukan,” kata Ketua Umum Partai Demokrat juga Presdien ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato politik refleksi 2019 di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.

Jelang Pilpres, SBY yang saat itu mendampingi istrinya Ani Yudhoyono dirawat di Singapura juga menulis surat meminta mengantisipasi merajalelanya politik identitas masa kampanye.

“Cegah demonstrasi apalagi 'show of force' identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham, dan polarisasi politik yang ekstrem," begitu sepenggal petikan surat SBY.

Sebelum Pemilu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga mengingatkan politikus tak menggunakan agama untuk kepentingan politik pragmatis.

"Jangan memperalat agama, jangan memanipulasi, eksploitasi agama dalam pengertian sisi luarnya itu untuk digunakan sebagai faktor pembenar atau kepentingan politik praktis pragmatis."

Masa kampanye, kandidat dan pendukungnya sibuk menyerang lawan dengan isu-isu trivial alias “remeh-temeh” yang jauh dari substansial, minim adu program.

Saling serang bukan hanya di dunia nyata, tapi marak juga di media sosial. Hoaks, ujaran kebencian, fitnah, kampanye hitam merajalela. Perang buzzer cebong versus kampret terus bergaung di lini masa.

Cebong dan kampret adalah sebutan satire untuk pendukung Jokowi dan Prabowo.

Jokowi dan Prabowo dalam berbagai kampanye terbuka juga saling serang dan sindir.

Deklarasi Pendukung Jokowi di Titik ke-20 Puncak Kampanye

Jelang Minggu tenang, kedua pasangan kampanye akbar di Jakarta. Kampanye Prabowo-Sandi, pada Minggu 7 April 2019, membuat Stadion Utama Gelora Bung Karno memutih dengan massa pendukung 02. Sepekan kemudian giliran Jokowi-Ma’ruf menggelar aksi serupa di lokasi sama dengan massa tak kalah banyak.

Lautan Manusia Putihkan SUGBK di Kampanye Akbar Prabowo-Sandiaga Uno

Jokowi Menang

Meski panas saat kampanye, hari pencoblosan Pemilu pada 17 April 2019 berlangsung aman. Namun, ada 527 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dan 11.239 orang dirawat karena sakit diduga akibat kelelahan.

Pasca-pemilihan, kedua pasangan capres saling mengklaim kemenangan.

Jokowi mengakui menang setelah melihat hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei. Tapi, Prabowo mengklaim dirinya menang 62 persen suara dan mengajak pendukung tak percaya quick count yang memenangkan Jokowi.

Rekapitulasi Penghitungan Suara, KPU Gunakan Aplikasi Situng

Selasa 21 Mei 2019 dini hari, KPU mengumumkan Jokowi-Ma’ruf sah sebagai pemenang Pilpres dengan raihan 85.607.362 atau 55,50 persen suara. Prabowo-Sandi hanya meraih 68.650.239 atau 44,50 persen suara.

Jokowi-Ma’ruf menang di 21 provinsi, Prabowo-Sandi unggul di 13 provinsi.

Kerusuhan

Pada 22-23 Mei, massa pendukung Prabowo berunjuk rasa di Jakarta, memprotes hasil Pilpres yang memenangkan Jokowi. Karena Kantor KPU RI dijaga ketat TNI-Polri, massa berdemo di Gedung Bawaslu RI.

Demo diwarnai kerusuhan. Bentrokan massa dengan aparat keamanan terjadi di beberapa titik di Jakarta Pusat hingga Jakarta Barat. Sembilan orang tewas, lebih 200 lainnya luka-luka.

“Sembilan korban meninggal dunia kami duga perusuh, penyerang,” kata Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal, pada 11 Juni lalu.

Aksi 22 Mei: Bentrok Massa Aksi dengan Polisi di Depan Gedung Bawaslu

Polri menetapkan 442 tersangka terkait kerusuhan tersebut, tapi tak mampu mengungkap siapa aktor intelektualnya, meski berulang kali menyebutkan ada pihak yang menunggangi.

Prabowo yang semula tak mau membawa sengketa Pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK), akhirnya melunak. Mantan Danjen Kopassus itu mengajukan gugatan dan meminta MK mendiskualifikasi Jokowi-Ma’ruf karena dianggap curang.

Namun, MK menolak keseluruhan gugatan Prabowo dalam sidang pamungkas, Kamis, 27 Juni 2019, yang diwarnai demo massa pro Prabowo.

Rekonsiliasi

Pilpres selesai, upaya rekonsiliasi dilakukan. Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun MRT Jakarta, Sabtu 13 Juli 2019.

“Tidak ada lagi namanya 01, tidak ada lagi namanya 02. Tidak ada lagi yang namanya 'cebong', tidak ada lagi yang namanya 'kampret'. Yang ada Garuda Pancasila," kata Jokowi diamini Prabowo.

Prabowo: Kita Bangga Indonesia Punya MRT

Minggu 10 Oktober 2019, Jokowi-Ma’ruf Amin dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024 di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta. Jokowi melanjutkan kepemimpinannya di periode kedua.

Setelah 13 hari dilantik, Jokowi mengumumkan 34 menteri Kabinet Indonesia Maju. Satu di antaranya Prabowo. Dia diangkat jadi Menteri Pertahanan.

Momentum Pelantikan Kabinet Indonesia Maju [1]

"Saya kira tugas beliau saya tak usah menyampaikan. Beliau lebih tahu daripada saya," kata Jokowi saat memperkenalkan Prabowo sebagai Menhan di Istana Negara, Rabu, 23 Oktober lalu.

Selain Prabowo, Edhy Prabowo juga diangkat Jokowi jadi Menteri Kelaturan dan Perikanan. Edhy Prabowo merupakan Wakil Ketum Gerindra, partai besutan Prabowo yang di Pemilu menjadi lawan Jokowi. Bergabungnya Gerindra dalam koalisi pemerintahan mengakhiri perseteruan di Pemilu, namun menimbulkan kekecewaan bagi sebagian pendukung fanatik Prabowo.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini