4 Tahun Terakhir, KPK OTT 87 Kali dengan Tersangka 327 Orang

Puteranegara Batubara, Okezone · Selasa 17 Desember 2019 12:59 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 17 337 2142902 4-tahun-terakhir-kpk-ott-87-kali-dengan-tersangka-327-orang-cptm8mSN9a.jpg Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang (foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan 87 kali Operasi Tangkap Tangan (OTT) selama tahun 2016 hingga 2019. Setidaknya, dalam operasi senyap itu, lembaga antirasuah menangkap 327 tersangka.

"Selama 4 tahun ini, KPK telah melakukan 87 Operasi Tangkap Tangan (OTT), dengan total tersangka awal setelah OTT adalah 327 orang," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam Konferensi Pers Kinerja KPK 2016-2019 di Gedung Penunjang KPK, Jakarta Selatan, Selasa (17/12/2019).

Adapun rincian OTT itu adalah, tahun 2016 KPK melancarkan sebanyak 17 kali dengan tersangka 58 orang. Pada tahun 2017, KPK OTT 19 kali dan menangkap 72 tersangka.

 Baca juga: Pasca-Putusan MA, Kuasa Hukum Minta Syafruddin Dibebaskan Malam Ini

Selanjutnya tahun 2018, lembaga antirasuah menggelar OTT sebanyak 30 dengan menjerat 121 tersangka, hal ini merupakan yang paling tinggi. Sementara pada tahun 2019, OTT dilakukan 21 kali dengan total tersangka sebanyak 76 orang.

Saut menekankan, OTT yang dilakukan pihaknya tidak pernah berhenti pada perkara pokok. Melainkan, hal itu menjadi pintu masuk untuk mengarah ke pengembangan lainnya.

"Salah satu contohnya adalah OTT dalam perkara usulan dana perimbangan keuangan daerah. KPK kemudian menetapkan dua kepala daerah dan satu anggota DPR yang didiuga terlibat dalam pengurusan dana perimbangan dalam APBN-P 2017 dan APBN 2018," papar Saut.

 Baca juga: Hari Terakhir Penahanan Syafruddin, KPK Tunggu Putusan MA Terkait BLBI

Selain itu, dilanjutkan Saut, adapula OTT dalam perkara suap terkait pengesahan RAPBD Provinsi Jambi yang kemudian menyeret Gubernur Jambi dan 11 anggota DPRD di provinsi yang sama.

"Pengembangan dari OTT yang lain adalah dalam perkara KONI. Selain barang buktinya yang mencapai Rp7,4 miliar, perkara ini ikut menyeret Menteri Pemuda dan Olahraga yang diduga menerima sejumlah uang," ujar Saut.

Saut berpandangan, sifat suap yang tertutup, pelaku memiliki kekuasaan dan alat bukti yang cenderung sulit didapatkan membuat praktek suap akan lebih dapat dibongkar melalui metode OTT. Selain itu, OTT dapat membongkar persekongkolan tertutup yang hampir tidak mungkin dibongkar dengan metode penegakan hukum konvensional.

"Kami yakin, OTT selalu bisa menjadi petunjuk mengungkap kasus-kasus lain dan sampai saat ini selalu terbukti di Pengadilan," tutup Saut.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini