nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Humphrey Djemat Ingin PPP Islah yang Bermartabat

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Kamis 12 Desember 2019 21:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 12 337 2141290 humphrey-djemat-ingin-ppp-islah-yang-bermartabat-8Km6bafnIN.jpg Humphrey Djemat (Foto : Okezone.com/Harits)

JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muktamar Jakarta, Humphrey Djemat menginginkan PPP kedua kubu segera islah. Hal ini agar menjadi partai yang bermartabat dan kuat menghadapi pemilu mendatang.

"Islah yang bermartabat dan juga islah yang menyatukan PPP menjadi kuat, bukan islah-islahan. Itu harus kita bedakan," ungkap Humprey dalam diskusi bertajuk "Reformasi Partai Politik" di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Ilustrasi

Soal Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) yang digelar pihaknya ataupun pihak Plt Ketum Suharso Monoarfa, menurutnya hal itu bukanlah sebuah perpecahan, namun untuk menyelaraskan tingkat elite hingga bawah.

Pada Pemilu 2019 perolehan PPP sangat tidak memuaskan. Karena itulah tanpa menyalahkan siapa-siapa, Humphrey mengatakan alangkah baiknya hal itu menjadi sebuah introspeksi untuk menyatukan PPP. "Makanya terus terang, saya bilang hasil Pemilu 2019 ini tanpa menyalahkan siapa-siapa, kita jadi bahan instropeksi untuk menyatukan PPP," ujarnya.

Dia menilai PPP harus lebih menyatu dan saling memperkuat kedepannya, kalau tidak punya prinsip itu sehingga kubu Muktamar Jakarta dan Muktamar Pondok Gede harus mulai mempersiapkan diri untuk melakukan Muktamar bersama.

"Kita harus semua elemen di PPP, baik Mukatamar Jakarta yang saya pimpin, dan Muktamar Pondok Gede yang dipimpin Suharso, mulai berhubungan dan berkomunikasi serta mulai mempersiapkan diri melakukan Muktamar bersama dan bermartabat," jelasnya.

Baca Juga : Kapolda Sumbar Bayar Rp100 Juta pada Keluarga Tahanan yang Tewas Dianiaya

Baca Juga : Yenny Wahid Tekankan Pentingnya Kekuatan Agama untuk Selesaikan Masalah Dunia

Sementara, pengamat politik dari LIPI Siti Zuhro menilai partai politik dihadapkan pada masalah pelembagaan yang cukup serius karena dalam konteks Pileg dan Pilpres antusiasme dukungan rakyat sejak Pemilu 1999 sampai Pemilu 2019 cenderung fluktuatif dan tidak sama.

“Dinamika partai kerap diwarnai konflik internal, bahkan ada yang berujung pada pembelahan parpol,” kata Siti.

Kemudian, terkait rendahnya kepercayaan publik terhadap parpol karena partai masih mempraktekkan sistem patronase, kolutisme, nepotisme dan kekerabatan. “Proses pelembagaan partai politik merupakan salah satu agenda penting dalam jangka panjang untuk membangun sistem dan kehidupan kepartaian yang lebih demokratis dan berkualitas ke depan,” tutur Siti.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini