nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ma'ruf Amin : Wakaf Dapat Mengurangi Kemiskinan & Ketimpangan

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Selasa 10 Desember 2019 21:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 10 337 2140392 ma-ruf-amin-wakaf-dapat-mengurangi-kemiskinan-ketimpangan-gAGtUrCgEo.jpg KH Maruf Amin (Foto : Okezone.com/Achmad Fardiansyah)

JAKARTA - Wakil Presiden Maruf Amin membuka Rapat Koordinasi Nasional Perwakilan Badan Wakaf Provinsi Seluruh Indonesia. Menurut, Maruf acara yang bertemakan "Meningkatkan Pertumbuhan Wakaf Nasional untuk Indonesia Sejahtera dan Bermartabat” itu sudah sejalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Ini sudah sejalan dengan harapan saya untuk menjadikan wakaf sebagai salah satu kontributor terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujarnya di Hotel Aryaduta, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2019).

Wapres Maruf Amin

Selain zakat, kata Ma'ruf Amin, wakaf juga dianggap dapat menjadi salah satu potensi sumber daya umat. Meskipun bukan merupakan instrumen komersil.

"Wakaf dapat berperan untuk mendukung berbagai aktivitas produktif. Wakaf juga dapat mendorong peningkatan kesejahteraan umat melalui pengelolaan aset wakaf secara produktif," tuturnya.

Karena itu, jika pengelolaan wakaf dilakukan dengan baik, maka dipercaya mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat bawah. "Ini akan mengurangi kemiskinan dan ketimpangan," ucapnya.

Melihat potensi yang cukup baik, Kiai Ma'ruf pun mendorong agar melakukan pengembangan wakaf di Indonesia akan didorong bersamaan dengan pengembangan ekonomi dan keuangan Syariah.

"Pengembangan ekonomi dan keuangan Syariah akan difokuskan pada 4 hal, yaitu: Pengembangan dan perluasan industri produk halal, Pengembangan dan perluasan Keuangan Syariah, Pengembangan dan perluasan kegiatan usaha Syariah, serta Pengembangan dan perluasan Dana sosial Syariah, termasuk zakat dan tentunya wakaf," ungkapnya

Baca Juga : PP Muhammadiyah Bakal Kawal Kasus Tewasnya 2 Mahasiswa Kendari

Namun, meskipun wakaf potensi yang besar, Ma'ruf menilai wakaf belum dipahami sebagai instrumen ekonomi Syariah. Pengelolaan aset wakaf saat ini, peruntukkannya masih terfokus untuk tujuan sosial seperti penyediaan fasilitas pemakaman, masjid atau musalah.

"Sistem Informasi Wakaf Kementerian Agama RI tahun 2018 menunjukan bahwa pengelolaan wakaf, yang sebagian besar terdiri dari aset tidak bergerak, belum diarahkan untuk kegiatan produktif," bebernya.

Padahal, sambungnya, jika dimanfaatkan dengan baik, tanah wakaf yang sangat luas dan sebagaian berada di lokasi strategis tersebut seharusnya dapat memberikan manfaat yang besar kepada umat.

"Lahan wakaf yang berada di area strategis seharusnya dapat digunakan untuk area komersil tanpa menghilangkan sarana pemberdayaan umat. Saat ini lebih dari 72% tanah wakaf sebagian besar dimanfaatkan untuk Masjid dan Mushola, lebih dari 14% untuk sekolah dan pesantren, berkisar 8,6% untuk kegiatan sosial lainnya, dan selebihnya sebesar 4,5% untuk makam. Hampir tidak ada yang dialokasikan untuk membangun fasilitas yang dapat mendukung kegiatan ekonomi umat," tuturnya.

Dijelaskannya, potensi wakaf uang dan barang bergerak sangat besar. Banyak sekali masyarakat yang ingin mewakafkan sebagian hartanya tetapi tidak tersedia instrumen yang dapat memfasilitasi keinginan tersebut.

"Banyak berpikir bahwa wakaf harus dalam jumlah yang besar, padahal jika instrumen wakaf uang dapat dioptimalkan maka siapapun dapat berwakaf dan hasilnya dapat menjadi portofolio investasi umat yang sangat besar," lanjutnya.

Dari persoalan tersebut, ia pun meminta agar Badan Wakaf perlu terus melakukan inovasi dari sisi pengumpulan maupun pemanfaatan wakaf. Agar wakaf mampu mendorong pemberdayaan masyarakat, peningkatan produktivitas dan pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini