nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengamat: Amien Rais Ingin Jaga Tradisi Demokratis di PAN

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 08 Desember 2019 09:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 08 337 2139283 pengamat-amien-rais-ingin-jaga-tradisi-demokratis-di-pan-IeavJr1osd.jpg Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais (foto: Okezone)

JAKARTA - Sejumlah loyalis Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (Zulhas) terdengar bergemuruh meneriakkan yel-yel dukungan di dalam acara Rakernas PAN yang digelar di Hotel Millennium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Desember 2019.

Mendengar teriakan dari puluhan massa pendukung Zulhas, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais pun langsung menegur beberapa kader PAN tersebut.

Baca Juga: Rakernas Diwarnai Adu Mulut, Amien Rais Ajak Kader PAN Beristighfar 

"Saudaraku, saya tadi ada teriakkan lanjutkan-lanjutkan, seperti Kongres ya. Kalau hasil akhir yang tahu hanya Allah SWT. Boleh Anda lanjutkan atau tidak lanjutkan, satu periode, saya hanya tersenyum karena sudah ada di Lauhul Mahfudz siapa yang akan jadi ketua umum kita nanti," kata Amien di lokasi.

Amien Rais Bermunajat di Aksi Demo KPU  

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai mantan Ketua MPR itu ingin menjaga tradisi lama berupa tradisi konservatif. Sebab selama ini tidak pernah ada sejarah Ketua Umum PAN dua periode, walaupun banyak yang menyebut itu hanya mitos.

“Boleh jadi kalau memang pak Amien Rais menegur kader yang berteriak lanjutkan di Rakernas, itu sinyal bahwa tidak menyetujui ketua umum dua periode. Tradisi nilai-nilai demokrasi ini yang sedang diingatkan,” ujarnya kepada Okezone, Minggu (2/12/2019).

Menurut dia, belakangan ini masyarakat sedang diresahkan dengan sistem kepartaian di Indonesia yang mengarah ke partai oligarki dan feodal. Salah satu contohnya, yaitu tidak adanya pertukaran elite secara reguler pada ketua umum partai.

“Pak Amien ini kan orang yang sangat demokratis, sehingga ingin tetap membangun tradisi demokrasi di internal partai. Kalau beliau ingin menjadi ketua umum seumur hidup seperti Megawati dan Prabowo bisa saja dilakukan. Tapi beliau sadar betul bahwa prasyarat mutlak habitus demokrasi adalah terjadinya pertukaran elite secara reguler, ada regenerasi di tubuh partai,” katanya.

Baca Juga: Jelang Kongres, Zulhas Ingatkan Kader PAN Tetap Kompak 

Apabila kondisi ini terus berlanjut, kata dia, maka ini sebuah tanda kalau sistem demokrasi di Indonesia sedang berada di ujung tanduk karena ulah elite-elite politik yang selalu haus akan kekuasaan.

“Jangan pernah berharap kita mau melanjutkan dan membangun demokrasi di Indonesia sementara di internal partai politik trennya mulai bergerak menjadi partai feodal dan oligarki yang dimodali kartel,” kata dia.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini