nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Murid di Perbatasan Harus Seberangi Sungai Kapuas Jika Ingin Sekolah, Ini Solusinya

Ade Putra, Jurnalis · Sabtu 07 Desember 2019 12:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 06 337 2138960 murid-di-perbatasan-harus-seberangi-sungai-kapuas-jika-ingin-sekolah-ini-solusinya-LWKqBFyyoX.jpg Peresmian Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 'Kelas Jauh' di Dusun Manyam, Kalbar (foto: Okezone/Ade Putra)

SINTANG - Bangunan ini terlihat kontras. Satu lokal tampak kokoh dengan dinding beton serta bercat kuning kecokelatan rada pudar. Tapi, lokal di sebelahnya tanpa dinding. Hanya pagar semen setinggi pinggul orang dewasa. Bertiang dan rangka kayu bulat dan beratap seng.

Bangunan itu adalah sekolah pembantu. Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 Kelas Jauh namanya. Letaknya di Desa Sungai Manyam, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Sekolah ini sudah ada sejak 2017. Baru diresmikan pada awal November 2019 lalu.

Infografis Lipsus Sekolah Roboh (foto: Okezone)	 

Pembangunan sekolah yang awalnya hanya ada satu ruang kelas ini tentu ada alasan. Ya, kekhawatiran orang tua murid terhadap anaknya yang harus menyeberangi sungai jika ingin menempuh pendidikan menjadi alasan pembangunan SDN 8 Kelas Jauh ini.

Melihat keprihatinan dan kekhawatiran itu, membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat mengambil langkah membangun satu ruang belajar untuk digunakan enam kelas.

"Sekolah ini memang didirikan untuk mengakomodir keinginan para orangtua supaya anaknya tidak harus menyeberangi Sungai Kapuas setiap kali berangkat ke sekolah," tutur Sekretaris Disdikbud Kabupaten Sintang, Yustinus kepada Okezone, Jumat 6 Desember 2019.

Menurutnya, keselamatan anak-anak yang ingin bersekolah menjadi prioritas pertama. Oleh sebab itulah, kata Yustinus, SDN 8 Kelas Jauh dibangun dan sejak dua tahun lalu sudah difungsikan.

"Jika harus menyeberangi Sungai Kapuas tingkat keselamatan anak sangat berbahaya sekali. Makanya, dibangunlah SDN 8 Kelas Jauh ini. Kemudian ada inisiatif dari warga setempat yang menyambung bangunan dengan bahan seadanya,” tutur Yustinus.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 di Dusun Manyam 1, Kalbar (foto: Okezone/Ade Putra)	Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 di Dusun Manyam 1, Kalbar (foto: Okezone/Ade Putra) 

Hingga saat ini, jumlah murid di SDN 8 Kelas Jauh mencapai 54 orang. Mulai dari kelas 1 hingga 6. Masih ada 23 anak-anak di Dusun Manyam 2 dan 3 yang sekolah di kabupaten tetangga. Yakni di Kecamatan Silat, Kabupaten Kapuas Hulu.

Kondisi ini membuat Disdikbud Sintang membangun komitmen untuk segera memproses agar pendidikan di Desa Sungai Manyam bisa terus diselenggarakan.

Rencananya, pada 2020 ini akan ada penambahan satu lokal lagi. Artinya, benar-benar ada dua lokal yang layak untuk mengakomodir penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di SDN 8 Kelas Jauh. "Sehingga mereka yang sekolah di Kapuas Hulu bisa kembali lagi ke Sintang. Dan, tidak ada lagi yang menyeberang sungai," katanya.

Jadi, jika semua sudah kembali sekolah di SDN 8 Kelas Jauh, maka jumlah murid di sana mencapai sekitar 80-an orang. Dengan demikian, sudah memenuhi kriteria atau kelayakan jika dijadikan sekolah berdiri sendiri dan berstatus negeri.

"Melihat jumlah muridnya saja, sudah masuk kriteria. Dan, pastinya jumlah murid di sana akan berkembang. Karena masyarakat di sana juga banyak," tuturnya.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 di Dusun Manyam 1, Kalbar (foto: Okezone/Ade Putra)	Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 di Dusun Manyam 1, Kalbar (foto: Okezone/Ade Putra) 

Jika demikian, kata Yustinus, masih ada PR bagi Disdikbud. Dalam hal pemenuhan tenaga guru. Otomatis, harus ada tenaga guru tambahan untuk mengajar anak-anak ini. Meski hanya tenaga kontrak. "Karena, ada guru yang harus mengajar di SDN 8 Manyam 1, juga harus ada yang mengajar di SDN 8 Kelas Jauh," tutur dia.

Kita bersyukur ada kepedulian dan perhatian dari warga sekitar yang membantu penyelenggaraan pendidikan ini. Karena, Disdikbud Sintang sepenuhnya ingin membangunkan fasilitas pendidikan di tempat yang benar-benar membutuhkan. Lagi-lagi, keterbatasan anggaran menjadu penghambat.

"Tak lupa kami mengapresiasi partisipasi masyarakat dalam hal pendidikan ini. Kami dari Disdik sangat mendukung. Ini sejalan dengan visi dan misi pemerintah, mewujudkan masyarakat Sintang yang cerdas,” katanya.

"Tidak dipungkiri, bantuan dari orangtua, masyarakat dan perusahaan sekitar dengan program CSR-nya bisa membantu penyelenggaraan pendidikan ini. Itu luar biasa," sambungnya.

Yustinus mengaku, di Sintang masih banyak fasilitas pendidikan baik bangunan sekolah, rumah dinas guru serta fasilitas pendukung lainnya yang masih belum layak. Dengan keterbatasan anggaran yang ada, pihaknya memaksimalkan penggunaannya untuk yang lebih prioritas.

"Makanya penuh harapan kita agar anggaran pendidikan untuk fisik, bisa ditambah lagi. Meski saat ini kita sudah terbantu dari program PUPR. Namun untuk di pedalaman, dirasa masih kurang," harapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini