MUI Minta Polisi Tindak Tegas Nabi Palsu di Toraja

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 04 Desember 2019 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 04 337 2137877 mui-minta-polisi-tindak-tegas-nabi-palsu-di-toraja-9xs23aIUqz.jpg Sekjen MUI Anwar Abbas (Foto: Sindo)

JAKARTA - Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas memastikan bahwa ajaran yang diduga disebarkan Paruru Daeng Tau di Tana Toraja merupakan ajaran sesat. Pasalnya, pria berambut gondrong itu mengaku merupakan seorang nabi.

Anwar menjelaskan, berdasarkan ajaran Islam Muhammad merupakan nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah SWT ke bumi.

"MUI sudah menetapkan 10 kriteria aliran sesat. Salah satunya menyatakan diri adalah nabi padahal dalam sistem keyakinan Islam nabi yang terakhir itu adalah Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, kalau ada orang yang mendakwakan dirinya nabi dan atau mempercayai adanya nabi setelah Nabi Muhammad maka hal itu sudah jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam," kata Anwar kepada Okezone, Rabu (4/12/2019).

Baca Juga: Paruru Daeng Tau : Saya Bersumpah Tidak Pernah Mengaku sebagai Nabi

Anwar menerangkan ajaran Paruru Daeng Tau yang memperbolehkan pengikutnya untuk tidak salat lima waktu kemudian tidak menganjurkan berpuasa dan zakat jelas akan sangat mengganggu dan merusak ajaran Islam.

Paruru Daeng Foto: Herman Amiruddin

MUI, lanjut dia, meminta aparat kepolisian untuk menindak pelaku penyebaran ajaran sesat tersebut agar tidak semakin banyak umat Islam yang keluar dari ajaran agamanya. "Untuk itu, MUI mengimbau pemerintah untuk menindaknya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan," tuturnya.

Anwar menambahkan, MUI telah menetapkan 10 kriteria aliran sesat sebagai berikut:

1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6

2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah

3. Meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran

4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran

5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.

6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul

8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir

9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak 5 waktu.

10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya

Sementara, setelah aksinya terbongkar, Paruru berkilah kalau dirinya mengaku nabi kepada warga. Bahkan, ia tak pernah melarang puasa dan salat lima waktu. "Saya bersumpah, saya tidak pernah mengatakan kalau saya ini nabi atau rasul," ujar Paruru.

Baca Juga: Pria di Toraja Ngaku Nabi Terakhir dan Sebarkan Ajaran Sesat

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini