nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saudi Akan Bangun 60 Ribu Toilet Bertingkat, Menag Minta Jamaah Indonesia Didahulukan

Amril Amarullah, Jurnalis · Selasa 03 Desember 2019 15:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 03 337 2137433 saudi-akan-bangun-60-ribu-toilet-bertingkat-menag-minta-jamaah-indonesia-didahulukan-SASHJECG0j.jpg Menteri Agama Fachrul Razi saat meninjau Mina, Arab Saudi. (Foto : Ist)

JAKARTA – Pemerintah Arab Saudi akan membangun 60 ribu toilet bertingkat di Minas untuk menyambut musim haji 1441 Hijriah/2020 Masehi.

Rencana pembangunan toilet itu terungkap dalam pembahasan MoU Penyelenggaraan Ibadah Haji 1441H/2020M antara Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Muhammad Saleh bin Thahir Benten di Makkah.

“Saudi akan membangun 60.000 toilet bertingkat di Mina untuk semua negara. Menag Fachrul Razi sudah menyampaikan permintaaan ke pihak Saudi agar kawasan tenda yang biasa ditempati jamaah haji Indonesia didahulukan pembangunan toilet bertingkatnya,” kata Direktur Layanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis usai penandatanganan MoU Penyelenggaraan Ibadah Haji 1441H/2020M di Makkah, dalam siaran pers dari humas Kemenag, Selasa (3/12/2019).

Direktur Layanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis. (Foto : Okezone.com/Widi Agustian)

Menurut Sri Ilham, pembangunan toilet di Arafah dan Mina menjadi salah satu usulan Indonesia yang dibahas bersama Kementerian Haji dan Umrah. Keberadaan toilet bertingkat yang telah dibangun di Muzdalifah terbukti dapat mengurangi antrean.

“Karenanya, kami berharap toilet bertingkat juga dibangun di Arafah dan Mina guna meningkatkan kenyamanan jamaah haji dan mengurangi antrean. Gayung bersambut, Pemerintah Saudi tahun ini sudah akan mulai membangun toilet bertingkat dengan jumlah mencapai 60 ribu,” ujarnya.

Usulan tentang pentingnya perbaikan layanan di Mina terus disuarakan Kementerian Agama. Terakhir, pada akhir musim haji 1440H/2019M, digelar pertemuan antara Menteri Agama saat itu (Lukman Hakim Saifuddin) dengan Gubernur Makkah Khalid al Faisal bin Abdulaziz di Imarat-Makkah, Mina, pada 12 Agustus 2019.

Gubernur Makkah saat itu mengatakan sudah dibentuk Lembaga atau Dewan Khusus proyek Mina dan Arafah. Dewan ini diketuai langsung oleh Putra Mahkota, Pangeran Muhammad bin Salman.

Selain perbaikan fasilitas di Mina, berikut ini sejumlah usulan Indonesia dalam Pembahasan MoU Penyelenggaraan Ibadah Haji 1441H/2020M.

1. Penundaan biaya penerbitan visa jamaah haji Indonesia

Pada pelaksanaan ibadah haji 1441H/2020M, jamaah haji akan dikenakan biaya penerbitan visa sebesar SAR300. Kebijakan ini terasa berat oleh Pemerintah Indonesia bila diterapkan tahun ini karena belum ada persiapan dalam penyusunan anggaran dan belum ada sosialisasi yang cukup kepada calon jamaah haji Indonesia. “Pemerintah Indonesia meminta kebijakan tersebut ditunda dan tidak dikenakan kepada jamaah haji Indonesia untuk tahun ini,” tutur Sri Ilham.

2. Penghapusan gelang tangan barcode jamaah haji

Sejak 1438H/2017M, Kementerian Haji dan umrah Saudi menerapkan kebijakan jamaah haji Indonesia wajib menggunakan gelang tangan barcode. Kebijakan ini tidak optimal karena barcode dan gelang yang telah dicetak mudah rusak saat terkena keringat dan air. Padahal, Pemerintah Indonesia sudah lama membekali jamaah Haji Indonesia dengan gelang identitas dari bahan stainless agar tidak mudah rusak dan bahkan terhadap api.

(Foto : Ist)

“Kami minta agar kebijakan gelang tangan barcode ini dicabut dan jamaah haji Indonesia cukup gunakan gelang dari bahan stainless,” ujarnya.

3. Fast Track untuk seluruh jamaah haji Indonesia

Layanan fast track untuk 70.000 jamaah haji Indonesia yang berangkat dari Bandara Seokarno-Hatta diberlakukan sejak musim haji 1439H/2018M. Layanan ini terbukti sangat membantu dan mengurangi tingkat kelelahan jamaah haji. “Kami harap layanan ini diperluas untuk jamaah haji di seluruh embarkasi di Indonesia dan tanpa tambahan biaya,” ucap Sri Ilham.

4. Perluasan program iyab untuk seluruh kloter

Tahun 1440H, maskapai Saudi menerapkan Program Iyab untuk sebagian kloter jamaah haji Indonesia. Melalui program ini, ketika akan meninggalkan bandara Jeddah atau Madinah ke Tanah Air, jamaah tidak melakukan proses keimigrasian seperti perekaman biometrik, sidik jari, dan lainnya. Setibanya di bandara, jamaah bisa langsung masuk pesawat.

Program ini dinilai baik dan meningkatkan kenyamanan jamaah pada fase kepulangan. “Kami meminta program ini bisa diterapkan untuk semua kloter baik, yang dipulangkan dengan Saudi Airlines maupun Garuda Indonesia,” tutur Sri Ilham.

Jamaah Haji di Arab Saudi. (Foto : Widi Agustian/Okezone)

5. Penempatan jamaah di Armina berdasarkan zonasi di Makkah

Sejak 2019, Indonesia menerapkan sistem zonasi dalam penempatan jamaah haji di Makkah. Penempatan dengan sistem zonasi ini juga diberlakukan di Arafah dan Mina. “Kami minta agar hal sama diberlakukan untuk musim haji tahun ini,” ucap Sri Ilham.

6. Transportasi jamaah di Mina

Setiap tahun, selalu saja ada jamaah haji Indonesia yang menempati kawasan perluasan Mina dengan jarak lebih 8 km dari jamarat. Jarak yang jauh ini membuat jamaah kelelahan. “Kami usul agar disediakan layanan transportasi pergi pulang dari kawasan perluasan Mina ke Jamarat,” tuturnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini